Studi: Konsumsi Daging yang Tinggi pada Anak Picu Gejala Asma

Studi: Konsumsi Daging yang Tinggi pada Anak Picu Gejala Asma

Terbaiknews - JakartaCNN Indonesia -- Tak ada yang tahu dengan pasti apa yang menyebabkan asma. Namun,...

Jakarta, CNN Indonesia --

Tak ada yang tahu dengan pasti apa yang menyebabkan asma. Namun, penelitian terbaru menemukan potensi hubungan antara kebiasaan konsumsi daging dengan gejala asma.

Studi yang dilakukan para peneliti di New York, Amerika Serikat ini mencoba mencari hubungan antara kebiasaan konsumsi daging yang tinggi pada masa kanak-kanak dengan munculnya gejala asma. Produk akhir glikasi lanjutan (AGEs) yang ditemukan pada daging dikaitkan dengan tingkat mengi yang tinggi pada lebih dari 4 ribu anak.

Mengi sendiri merupakan gejala asma yang paling umum terjadi pada kelompok anak dan dewasa. Studi yang dipublikasikan di jurnal Thoraxitu menemukan bahwa peningkatan AGEs terkait dengan lebih banyak kasus mengi pada anak.


"Studi kami didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diet mungkin berperan dalam kesehatan saluran napas dan gejala yang berhubungan dengan asma," ujar salah satu penulis studi, Sonali Bose, mengutip Everyday Health.

Bose menganalisis data kesehatan 4.388 anak berusia 2-17 tahun yang telah didiagnosis dengan asma dan tidak. Data tersebut diambil dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) oleh CDC AS.

Survei memasukkan 139 kuesioner frekuensi makanan yang mencatat asupan daging merah, ayam, daging olahan, dan makanan laut, bersamaan dengan gejala pernapasan yang dilaporkan. Para peneliti memperkirakan skor konsumsi AGE berdasarkan asupan daging anak-annak secara keseluruhan.

Studi: Konsumsi Daging yang Tinggi pada Anak Picu Gejala AsmaIlustrasi. Asupan daging yang tinggi dikaitkan dengan munculnya gejala mengi. (Istockphoto/Handmade Pictures)

Hasilnya, mereka menemukan bahwa asupan AGE yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan munculnya gejala mengi. Beberapa mengi yang dilaporkan bahkan memerlukan pengobatan khusus. Data juga mengungkapkan bahwa mereka dengan asupan AGE yang tinggi mengalami mengi sebelum tidur dan saat berolahraga.

"Anak-anak yang mengonsumsi makanan tinggi AGE, 18 persen lebih mungkin mengalami mengi dalam satu tahun terakhir," ujar Bose.

AGE sendiri ditemukan pada sebagian besar daging non-seafood, terutama setelah dimasak pada suhu tinggi. Senyawa ini diketahui mengikat reseptor di paru-paru yang memediasi peradangan saluran napas.

Kendati demikian, Bose dan tim penelitian lainnya mengatakan bahwa hasil studi ini terlalu awal untuk mendorong perubahan pedoman nutrisi pada anak untuk mencegah asma. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan penemuan tersebut.

Mengomentari hasil penelitian, ahli pulmonologi John Carl mengatakan menilai bahwa temuan tersebut sangat menarik. "Mekanismenya menarik, tapi yang dideskripsikan adalah asosiasi, bukan kausalitas," ujar Carl. Hal itu, lanjutnya, tak cukup untuk mendorong perubahan pedoman nutrisi pada anak untuk mencegah asma.

Carl juga menduga bahwa proses mengolah atau memasak daging berperan dalam timbulnya asma pada anak. Misalnya, saat memanggang daging, anak bisa saja menghirup asap dan produk pembakaran lainnya yang dapat memperburuk masalah pernapasan.

(asr)
[Gambas:Video CNN]
Studi: Konsumsi Daging yang Tinggi pada Anak Picu Gejala Asma Ilustrasi. Produk akhir glikasi lanjutan (AGEs) pada daging ditemukan meningkatkan gejala mengi pada anak. (istockphoto/ljubaphoto)