Konsumsi Minyak & Listrik Membaik, Transisi EBT Bagaimana?

Konsumsi Minyak & Listrik Membaik, Transisi EBT Bagaimana?

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Rerata harga minyak mentah dunia sepanjang tahun ini berpeluang menguat ke...

Jakarta, CNBC Indonesia - Rerata harga minyak mentah dunia sepanjang tahun ini berpeluang menguat ke kisaran US$ 55 per barel menyusul pemulihan ekonomi. Di sisi lain, penggunaan energi terbarukan menunggu dukungan kebijakan pemerintah untuk mencapai target bauran nasional.

Mayoritas kalangan sepakat pertumbuhan permintaan minyak tahun ini bakal lambat karena efek Covid-19. Perusahaan riset energi Platts Analytic memperkirakan konsumsi minyak mentah bertambah 6 juta barel per hari (bph) di 2021 dan balik ke level sebelum pandemi pada 2022.

Permintaan minyak tahun ini bakal di kisaran 99,3 juta bph, setelah tahun lalu turun 8,8 juta bph ke 93,1 juta bph, demikian Platts menyebutkan dalam proyeksi terbaru pasar minyak bulanan. Proyeksi tersebut direvisi 280.000 bph lebih rendah dari estimasi awal.


Sebagaimana proyeksi Tim RisetCNBC Indonesia, rerata harga minyak mentah sepanjang 2020 berada di kisaran US$ 40/barel menyusul anjloknya mobilitas global akibat pandemi. Rerata harga minyak Brent di US$ 43,1/barel dan West Texas Intermediate (WTI) di US$ 39,4/barel.

Untuk kuartal I-2021, Platt memperkirakan permintaan minyak bakal terpangkas 700.000 bph menjadi 95,1 juta bph menyusul restriksi sosial di beberapa negara dan ditundanya izin peringatan tahun baru Imlek di China. Lalu pada kuartal II-2021, efek vaksinasi diharapkan mulai membantu konsumsi harga minyak dunia dengan tambahan 11,7 juta bph.

Senada dengan itu, International Energy Agency (IEA) memangkas estimasi pemulihan permintaan minyak dunia tahun ini untuk ketiga kalinya, menyusul kebijakan karantina wilayah (lockdown) dan tantangan vaksinasi. Permintaan minyak dunia tahun ini diperkirakan berkisar 96,6 juta bph, atau bertambah 5,5 juta bph dari tahun 2020.

Lebih konservatif, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memperkirakan permintaan minyak dunia hanya 95,91 juta bph pada 2021, bertambah 5,9 juta bph dari angka tahun lalu. Sebelumnya, OPEC memperkirakan permintaan minyak tahun ini sebesar 95,89 juta.

Meski mematok estimasi konsumsi minyak lebih tinggi dari proyeksi IEA dan OPEC, Platts justru memperkirakan rerata harga minyak Brent bakal di angka US$56,3 per barel. Ini lebih rendah dari proyeksi Goldman Sachs (US$ 65/barel) dan UBS (US$ 60/barel) untuk pertengahan 2021.

Pemicunya, Arab Saudi secara mengejutkan memangkas produksi minyaknya hingga 1 juta bph pada Februari dan Maret. Namun, proyeksi tersebut belum memasukkan risiko konflik militer antara Iran dan Israel yang menurut hemat kami bisa membawa minyak ke level US$ 70/barel.

Sebaliknya, jika Amerika Serikat (AS) mencabut sanksi atas Iran, akan ada tambahan pasokan minyak 4,5 juta barel ke pasar, yang bisa menekan kembali harga ke level US$ 45/barel.