Derita Petani Garam di Musim Panen

Derita Petani Garam di Musim Panen

Terbaiknews - Datangnya musim panen seharusnya menjadi hari yang...

Datangnya musim panen seharusnya menjadi hari yang bahagia. Namun, bagi petani garam di Palu, Sulawesi Tengah, musim panen yang datang tahun ini ialah penderitaan.

Sudah tiga bulan terakhir, panen petani di tambak garam Kelurahan Talise, Kecamatan  Mantikulore, tidak berbanding lurus dengan keuntungan. Semakin banyak stok garam petani, semakin sepi pula peminatnya.

Bahkan, saat ini garam jatuh di harga terendah, yakni Rp150 ribu per karung isi 50 kilogram (kg) untuk kualitas nomor satu, sedangkan untuk garam kualitas nomor dua Rp100 ribu per karung isi yang sama.

"Sebelumnya kualitas nomor satu Rp250 ribu per karung
isi 50 kg," aku salah satu petani Syahruddin, 48, kepada Media Indonesia, Minggu (18/8).

Sepinya peminat garam bukan tanpa alasan. Selain karena banyaknya stok di tingkat

petani dan pengecer, kondisi pasar juga belum stabil. Belum lagi ditambah stok garam dari luar provinsi yang masih banyak tersisa di tingkat pengecer.


Meski sepi peminat, ratusan petani garam di Kelurahan Talise terus menggarap lahan. Mereka berusaha tidak putus asa selain juga karena tidak banyak pilihan lain.

Mereka berharap, jika perekonomian mulai membaik beberapa pekan ke depan, harga garam pasti kembali normal.

Garam Talise merupakan garam biji yang tidak hanya dijadikan sebagai penyedap makanan, tetapi juga dijadikan campuran pupuk dan campuran makanan hewan ternak.

Garam ini memiliki kualitas asin yang baik. Tidak mengherankan, garam ini dipasarkan hingga keluar daerah, seperti Mamuju, Sulawesi Barat, Samarinda, Kalimantan Timur, Gorontalo, Manado, dan Sulawesi Utara. (M-1)