Vaksin Corona China yang Diuji di RI Picu Respons Imun

Vaksin Corona China yang Diuji di RI Picu Respons Imun

Terbaiknews - JakartaCNN Indonesia -- KandidatÂvaksin corona buatan perusahaan...

Jakarta, CNN Indonesia --

KandidatÂvaksin corona buatan perusahaan China,ÂSinovacÂBiotech, yang tengah diuji di Indonesia, dilaporkan aman dan memicu respons imun dalam uji klinis Fase 1/2.

Sinovac menyebut vaksin CoronaVacÂbuatannya dapat ditoleransi dengan baik pada semua dosis yang diuji. Hal ini dilansir dari hasil pengujian yang diterbitkan di jurnal The Lancent dan sudah diulas oleh rekan sejawat. Vaksin Coronavac sendiri kini tengah melakukan uji tahap 3 di sejumlah negara termasuk Indonesia.

Pengumuman hasil uji vaksin ini sedikit dibelakang langkah Pfizer dan Moderna yang sudah mengumumkan hasil uji klinis tahap 3 sementara (interim analysis) mereka.


Uji coba kandidat vaksin yang menggunakan virus corona SARS-CoV-2 yang tidak aktif itu melibatkan lebih dari 700 sukarelawan sehat berusia 18-59 tahun yang direkrut di China antara 16 April dan 5 Mei 2020.

Melansir Eureka Alert, respons antibodi dapat diinduksi dalam 28 hari setelah imunisasi pertama, dengan memberikan dua dosis kandidat vaksin dengan selang waktu 14 hari.Â

Penelitian menyebut tingkat antibodi yang diinduksi oleh vaksin lebih rendah daripada yang terlihat pada orang yang telah terinfeksi dan pulih dari Covid-19. Namun, para peneliti mengatakan mereka masih berharap vaksin tersebut dapat memberikan perlindungan dari virus.

Efek samping yang paling sering dilaporkan sukarelawan setelah menerima vaksin CoronaVac Âadalah nyeri di tempat suntikan.

Dalam studi yang dipublikasikan di The Lancet, peneliti juga mengidentifikasi dosis optimal untuk menghasilkan respons antibodi tertinggi, dengan mempertimbangkan efek samping dan kapasitas produksi, adalah 3μg.Â

Namun, jumlah dosis itu akan dipelajari lebih lanjut dalam uji coba fase 3 yang sedang berlangsung saat ini.

Titer antibodi penetral rata-rata yang diinduksi oleh CoronaVac berkisar antara 23,8 hingga 65,4. Jumlah itu lebih rendah daripada tingkat yang terlihat pada orang yang sebelumnya pernah menderita Covid-19 dengan tingkat rata-rata 163,7.

Meski demikian, para peneliti masih yakin CoronaVac dapat memberikan perlindungan yang cukup terhadap Covid-19 berdasarkan pengalaman mereka dengan vaksin lain dan data dari studi praklinis mereka dengan kera.

Uji coba Fase 1/2 disebut tidak dirancang untuk menilai kemanjuran. Selain itu, respon antibodi yang bertahan perlu diverifikasi dalam penelitian-penelitian selanjutnya untuk menentukan berapa lama perlindungan tersebut dapat bertahan.

Penelitian juga hanya mencakup orang dewasa sehat berusia 18 hingga 59 tahun dan penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk menguji kandidat vaksin pada kelompok usia lain, serta pada orang yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya

Penulis utama studi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Jiangsu, Fengcai Zhu mengatakan penemuan pihaknya menunjukkan bahwa CoronaVac mampu menginduksi respon antibodi yang cepat dalam empat minggu setelah imunisasi dengan memberikan dua dosis vaksin pada interval 14 hari.

Zhu percaya bahwa studi itu membuat vaksin cocok untuk penggunaan darurat selama pandemi. Temuan itu, lanjut dia juga menunjukkan bahwa pemberian dua dosis dengan satu interval bulan, daripada interval dua minggu, mungkin lebih tepat untuk mendorong respons imun yang lebih kuat dan berpotensi bertahan lebih lama.

"Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa berapa lama respons antibodi tetap ada setelah jadwal vaksinasi," ujar Zhu.

CoronaVac merupakan salah satu dari 48 kandidat vaksin Covid-19 yang saat ini sedang dalam uji klinis. CoronaVac adalah vaksin virus yang dinonaktifkan secara kimiawi berdasarkan jenis SARS-CoV-2 yang awalnya diisolasi dari seorang pasien di China.

Uji klinis fase 1/2 dilakukan di Suining County, provinsi Jiangsu, Cina. Semua peserta berusia 18 hingga 59 tahun dan hanya orang yang tidak memiliki riwayat infeksi Covid-19, tidak bepergian ke daerah dengan insiden penyakit yang tinggi, dan tidak memiliki tanda-tanda demam pada saat pendaftaran.

Naor Bar-Zeev, dari Universitas Johns Hopkins, yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan bahwa seperti semua uji coba tahap 2, hasil harus ditafsirkan dengan hati-hati sampai hasil tahap 3 dipublikasikan.

"Bahkan, setelah uji coba fase 3 selesai dan setelah mendapatkan lisensi, kami harus tetap berhati-hati," kata Bar-Zeev.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]