Jutaan Data KPU Dibobol Hacker, Ini Kata Gerindra

Jutaan Data KPU Dibobol Hacker, Ini Kata Gerindra

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Anggota Komisi VI DPR dari Partai GerindraAndre Rosiade angkat bicara...
Jakarta, CNBC Indonesia - Anggota Komisi VI DPR dari Partai Gerindra, Andre Rosiade angkat bicara terkait dengan situs KPU yang diretas, sehingga adanya kebocoran data Daftar Pemilihan Umum (DPU).
"Kalau memang itu terjadi, harus menjadi bahan evaluasi mendalam. Berarti sistem pengamanan KPU selama ini terbukti tidak baik," ujarnya kepada CNBC Indonesia, di Jakarta, Jumat (22/5/2020).
Dia juga mengatakan, jika kebocoran data terbukti benar, maka harus ada yang bertanggung jawab dari pihak KPU. Misalnya berupa sanksi, yaitu berupa teguran. Hal ini dilakukan agar ke depannya lebih berhati-hati.

"Sekarang KPU baru mengecek, ada dugaan. Belum bisa diverifikasi kita tunggu. KPU sekarang sedang lakukan penelusuran, kita minta KPU menjelaskan nantinya, komisi II akan klarifikasi," ujarnya lagi.

Selanjutnya, saat dikonfirmasi apakah hal ini ada hubungannya dengan kekalahan Prabowo pada Pemilu 2014, dia menjawab tak ingin berandai-andai.
"Kita tunggu keterangan resmi. Komisioner berjanji untuk menelusuri, ini kalau memang ada yang jebol," tegasnya lagi.
"Kita tunggu hasil evaluasi, keterangan resmi baru saya bisa komentar. Kalau ada kebobolan ada pihak KPU yang bertanggung jawab berarti ada pihak yang lalai," pungkasnya.
Sebelumnya Hacker dilaporkan menyebarluaskan 2,3 juta data daftar pemilih tetap (DPT) di forum internet. Data ini diklaim diambil dari situs Komisi Pemilihan Umum (KPU). Data apa yang diambil hacker?

Menurut Founder of Ethical Hacker Indonesia Teguh Aprianto, 2,3 juta data yang sebarluaskan di forum hacker adalah data pemilih tetap penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Diantaranya, Kota/kabupaten Bantul, Gunung Kidul, kota, Kulonprogo dan Sleman.
"Bisa dipastikan data ini bocor dari KPU, entah itu KPUD ataupun KPU Pusat. Isi datanya adalah sekumpulan DPT (Daftar Pemilih Tetap) dari semua TPS (Tempat pemungutan Suara)," ujar Teguh melalui akun twitter @secgron, Jumat (22/5/2020).
Berdasarkan penelusuran Teguh, data yang bocor termasuk nama lengkap, Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Keluarga (KK), tempat dan tanggal lahir, umur, jenis kelamin, status perkawinan hingga alamat lengkap.

(dob/dob)