Buka-bukaan Bill Gates, Mengapa Investasi ke Vaksin Corona?

Buka-bukaan Bill Gates, Mengapa Investasi ke Vaksin Corona?

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - William Henry Gates III atau Bill Gates adalah orang kaya yang "rajin"...

Jakarta, CNBC Indonesia - William Henry Gates III atau Bill Gates adalah orang kaya yang "rajin" berinvestasi untuk membuat vaksin. Bersama istrinya Melinda, ia rajin berinvestasi di pengembangan vaksin penyakit-penyakit tak populer.
Saat ini ia pun turut menyumbang pengembangan vaksin virus corona (Covid-19). Pada Februari 2020, melalui yayasan mereka, yakni Bill and Melinda Gates Foundation, keduanya berdonasi hingga US$ 100 juta untuk meneliti vaksin dan terapi paling baik untuk penyakit Covid-19 yang belum ada obatnya ini.
Diketahui bantuannya masuk ke dalam proyek-proyek Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) senilai US$ 675 miliar. Pada Juni, yayasan Gates juga mengucurkan US$ 1,6 miliar untuk aliansi vaksin GAVI, organisasi yang fokus pada peningkatan imunitas anak di tengah pandemi Covid-19.


Lalu apa yang mendasari mereka berinvestasi ke vaksin?
Dalam laman yayasannya Gatesfoundation.org, ia menjelaskan alasannya. Meski sejarah penemuan vaksin sudah terjadi dari 200 tahun lalu, namun hingga kini hanya sebagian saja yang bisa mengakses vaksin.
Ia mencontohkan vaksin campak. Virus rubella yang menyebabkan penyakit ini, 60 tahun lalu, membunuh 2-6 juta orang per tahun.
Namun saat vaksin ditemukan di 1963 di AS, kasus di negara itu berkurang drastis 99%. Namun sayangnya, dibelahan dunia lain ini belum terjadi.
Meski sudah didistribusikan UNICEF dan WHO di 1973 dan ditargetkan hilang tahun 1990, di tahun 2000, campak masih merajalela. Bahkan menyebabkan kematian 500.000 orang yang didominasi negara miskin.
"Masih ada jutaan anak yang sekarat karena penyakit yang dapat dicegah setiap tahun," ujarnya dalam situs tersebut.
"Ini adalah sebagian besar alasan mengapa Melinda dan saya masuk filantropi," ujarnya lagi.
Ia menjelaskan, salah satu investasi besar pertama yang ia lakukan di pengembangan vaksin adalah dengan membentuk organisasi bernama Gavi,sebuah aliansi vaksin.
Sejak 2000, Gavi dan rekannya telah mengimunisasi lebih dari 760 juta anak. Ia mengklaim, ini telah menyelamatkan lebih dari 13 juta jiwa.
Dan sekarang, kata dia, Gavi memiliki upaya baru untuk membeli vaksin Covid-19. Terutama untuk negara-negara berpenghasilan rendah segera setelah tersedia.
Terkait vaksin corona, ia pun menegaskan kembali hal ini. Tapi tentunya, ia mengatakan dibutuhkan campur tangan politik dan pengembangan infrastruktur untuk memastikan bahwa vaksin didistribusikan secara adil kepada setiap orang di seluruh dunia.
"Kami tidak yakin vaksin mana yang akan menjadi yang paling efektif, dan masing-masing membutuhkan teknologi unik untuk membuatnya," katanya.
"Itu berarti negara perlu berinvestasi dalam berbagai jenis fasilitas manufaktur sekarang, mengetahui bahwa beberapa tidak akan pernah digunakan. Kalau tidak, kami akan membuang waktu berbulan-bulan setelah lab mengembangkan imunisasi, menunggu produsen yang tepat untuk meningkat."
Tanpa hal tersebut, penyakit seperti yang ditularkan virus SARS-CoV-2 akan terus muncul. Bahkan, kata dia, akan terus membuntuti umat manusia selama bertahun-tahun mendatang.
Ia pun menekankan soal distribusi vaksin. Merata atau tidak juga menjadi alasan mengapa ia getol menyumbang.
"Idealnya, akan ada kesepakatan global tentang siapa yang harus mendapatkan vaksin pertama," tegasnya.
"Tetapi mengingat banyak kepentingan yang bersaing, ini tidak mungkin terjadi. Pemerintah yang menyediakan dana, negara-negara di mana kasus terjadi dan tempat-tempat di mana pandemi memburuk, semuanya akan membuat pernyataan bahwa mereka harus mendapatkan prioritas."
Selama 8 bulan berlangsungnya pandemi global, tercatat kini ada total 17.171.292 kasus positif per Kamis (30/7/2020). Dari total tersebut, sebanyak 669.287 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 10.685.711 orang berhasil sembuh, menurut data Worldometers.
Bill Gates adalah salah satu orang terkaya di dunia. Kekayaannya Gates sebesar $113,7 miliar (Rp 1.661 triliun).Â



[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)