Blokir Konten! Induk TikTok Sebut Tencent Anti Persaingan

Blokir Konten! Induk TikTok Sebut Tencent Anti Persaingan

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Induk TikTokBytedance pada Selasa (2/2/2021) menggugat Tencent Holdings...

Jakarta, CNBC Indonesia - Induk TikTok, Bytedance pada Selasa (2/2/2021) menggugat Tencent Holdings dengan tuduhan melanggar Undang-Undang anti persaingan dengan memblokir konten Douyin, versi lokal TikTok di China.

Bytedance meminta kompensasi sebesar US$14 juta atau setara Rp 196 miliar (asumsi Rp 14.000/US$) atas praktik Tencent yang memblokir tautan ke Douyin di platform perpesanan WeChat dan QQ.

"Kami percaya persaingan lebih baik bagi konsumen dan mendorong inovasi," ujar Perwakilan Bytedance seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (3/2/2021). "Kami telah mengajukan gugatan ini untuk melindungi hak kami dan hak pengguna kami."


Tencent dalam salah satu akun publik WeChatnya mengatakan belum menerima dokumen gugatan tersebut dan menyebut tuduhan Bytedance "tidak benar" dan "fitnah jahat".

Tencent juga berjanji untuk menggugat Bytedance dengan tuduhan telah merusak ekosistem platformnya dan melanggar hak pengguna.

Ini adalah episode terbaru perseteruan antara dua raksasa hiburan China. Sebelum Bytedance menolak rumor Douyin memblokir tautan ke WeChat dan QQ dan menyebut itu sebagai kampanye jahat untuk menargetkan platform itu.

Namun kemudian mengakui telah memblokir tautan ke WeChat dan QQ untuk pembuat konten terkait keuangan dan perawatan kesehatan dengan alasan risiko tinggi penipuan dan taktik penjual ilegal pada platform pihak ketiga.

Konten perencanaan keuangan merupakan salah satu konten paling populer di Douyin. Pada November 2020, ada 100 juta pengguna yang terlibat dengan konten ini dan 29 juta pembuat konten membuat video tentang keuangan, ujar seorang sumber anonim.

"Tindakan jenis ini [memblokir pesaing di platform internet] cukup umum di industri. Tidak ada hukum yang melarangnya, "kata Ge Jia, seorang analis internet independen yang telah mengikuti industri ini selama lebih dari dua dekade.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)