Toko Pia di Bali Panen Untung Sejak Fokus Jualan Online

Toko Pia di Bali Panen Untung Sejak Fokus Jualan Online

Terbaiknews - - Dalam hitungan singkatpandemi Covid-19 mengubah dunia usaha jadi hutan rimba penuh aral. Setiap...

- Dalam hitungan singkat, pandemi Covid-19 mengubah dunia usaha jadi hutan rimba penuh aral. Setiap jenis usaha, dari level mikro hingga besar, berupaya sedemikian rupa untuk bertahan melawan pagebluk. Pilihannya dua, beradaptasi atau “mati.”

Bak seleksi alam, bisnis yang berniat tetap hidup harus merancang strategi segar, yakni dengan melakukan penyesuaian terhadap teknologi digital, seperti yang dilakukan oleh toko pia terkenal di Bali, yaitu Pia Agung Bali.

Pia Agung Bali merupakan toko pia populer di Bali yang produknya telah menjangkau berbagai pulau di Indonesia. Pia Agung Bali menawarkan 8 varian pia menggugah rasa: coklat, pia keju original, cream cheese, coklat keju, kacang hijau, tiramisu, cappucino, dan yang paling laris diborong sekaligus jadi ciri khas Pia Agung Bali pia varian durian.

Kepada Tribunnews, Agung Saputro (31), pendiri Pia Agung Bali bercerita sekilas tentang bagaimana bisnis kue kering yang didirikan sejak 16 Mei 2016 ini bertahan dan kian berkembang dalam ujian pandemi.

Agung, panggilan akrab Agung Saputro, bercerita tentang toko offline Pia Agung Bali yang terpaksa tutup di awal pandemi, tepatnya di minggu keempat Maret 2020.

Toko yang berlokasi di Jalan Bypass Ngurah Rai, Tuban, Bali, ini mesti ditutup lantaran ia khawatir dengan “biaya” kesehatan yang belum terbayangkan baginya, keluarga, para karyawan, dan para pelanggannya, mengingat Covid-19 tergolong penyakit baru.

“Kami nggak mau kecolongan, jangan sampai memaksa tetap beroperasi dengan prosedur yang masih coba-coba. Jadi stop dulu semuanya, saya menaksir situasi, menyiapkan dengan matang dari sisi kesehatan dan bagaimana nanti menjalani proses bisnis di era Covid ini,” ungkap Agus saat diwawancarai Tribunnews via telepon, Rabu (18/11/2020).

Toko offline, akunya, adalah sumber dari 70 persen penghasilan Pia Agung Bali. Tidak beroperasinya toko membuat penghasilan cukup merosot drastis. “Ya, waktu tutup benar-benar nggak beroperasi jadi bulan Maret akhir, April, Mei. Jadi benar-benar nol penjualan karena tutup total,” lanjut Agung.

Siapkan strategi baru

Toko Pia di Bali Panen Untung Sejak Fokus Jualan Online

Merombak strategi penjualan di masa pandemi hanyalah satu-satunya kunci mempertahankan bisnis. Belum lagi, melihat kondisi Bali yang sepi wisatawan belakangan ini, membuat penjualan secara offline saja tak dapat diandalkan.

Lagi pula, berjualan online bukan hal asing bagi Pia Agung Bali. Beberapa channel penjualan sudah dibuat sejak 2017, seperti dari marketplace dan website toko. Kendati begitu, berjualan secara online tak pernah jadi fokus utama saat itu.

Strategi baru disusun. Agung menggiatkan penjualan di marketplace dan website seraya memacu iklan lewat media sosial dan memberikan gratis ongkos kirim untuk pembelian ke sejumlah tujuan.

“Saat tutup dua bulan itu saya benar-benar bisa fokus menyiapkan strateginya. Setelah saya kembali fokus di kanal-kanal itu, saya genjot iklan di marketplace dan media sosial. Dari bulan Juli, saya bisa meningkatkan penjualan lebih dari biasanya, jadi penjualan secara online itu benar-benar meningkat drastis,” tambah Agung.

Strategi penjualan online tersebut mampu membuat Pia Agung Bali mempertahankan pelanggan lama, sekaligus menggaet banyak pelanggan baru yang jatuh cinta dengan pia durian ala Pia Agung Bali. Usut punya usut, omzet perusahaan meningkat 2 kali lipat lewat penjualan online selama pandemi.

Hasilnya pun membuat Agung cukup bernapas lega. Apalagi, dengan kembali dibukanya toko offline Pia Agung Bali pada Juni 2020, Agung pun dapat kembali mempekerjakan 12 karyawannya. Tak ada yang lebih membahagiakan ketimbang hal itu.

Andalkan marketplace, raih pelanggan hingga Timur Indonesia

Toko Pia di Bali Panen Untung Sejak Fokus Jualan Online

Meski toko offline telah beroperasi, 90 persen penjualan datang dari kanal online. Lebih lanjut, Agung mengaku marketplace menjadi salah satu sumber pemasukan utamanya selama pandemi. Menurutnya, toko Pia Agung Bali mendapat lonjakan omzet 5 kali lipat lebih banyak dari Tokopedia.

“Pendapatan dari Tokopedia itu sendiri sebelum pandemi sampai Oktober kenaikannya 5 kali lipat, itu dari Tokopedia sendiri. Dan sejak pandemi ini kami selalu di Top 10 seller berdasarkan kategori produk kue kering,” ucap Agung.

Menurutnya, berkat Tokopedia Pia Agung Bali menggaet banyak pelanggan baru lintas pulau. Pesanan pia datang dari berbagai daerah, mulai dari Medan, Palembang, Samarinda Ambon hingga Merauke.

“Ya, pesanan bisa sampai ke Medan, Palembang, Jambi, Balikpapan, Samarinda, Makassar, dan Ambon juga pernah. Paling jauh dulu ada pernah sampai Aceh dan Merauke,” tambah Agung.

Agung mengatakan salah satu alasan produknya dapat menjangkau pelanggan tetap dari berbagai wilayah di Indonesia—bahkan tak sedikit yang melakukan pemesanan kembali—adalah berkat promo bebas ongkir dari Tokopedia.

Tribunnews melakukan penelusuran terhadap akun toko resmi Pia Agung Bali di Tokopedia dengan lebih dari 5.900 produk terjual dan rating 4,9 dari 5 (per 18 November 2020).

Kualitas produk Pia Agung Bali dapat tercermin dari kolom ulasan yang dibanjiri pujian dan ungkapan kepuasan pelanggan atas produk-produk Pia Agung Bali.

Memang, kualitas produk-produk Pia Agung Bali bisa dibilang memuaskan. Popularitasnya di Bali pun cukup besar. Namun, kualitas produk dan nama besar saja belum bisa menjamin suatu usaha dapat bertahan di tengah pandemi yang serba tak menentu.

Tak ada pilihan lain, kunci bertahan usaha saat ini adalah kemampuannya untuk beradaptasi. Memaksimalkan penjualan lewat teknologi digital adalah harga mati. Setidaknya, Pia Agung Bali sepakat dengan itu.

“Mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama di era pandemi ini. Jangan cepat menyerah. Kita harus mencoba hal baru yang bisa membantu usaha kita. Sekarang perubahan digital dan semua serba online, kita harus mengikuti dan memanfaatkan itu,” pungkas Agung.