Balai Gakkum LHK Kaltim Amankan 167 Burung

Balai Gakkum LHK Kaltim Amankan 167 Burung

Terbaiknews - Samarinda (ANTARA) - Tim dari Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK)...

Samarinda (ANTARA) - Tim dari Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Polresta Samarinda mengamankan sebanyak 167 ekor burung dilindungi undang-undang yang akan diperjualbelikan melalui media sosial.
Petugas Gakkum LHK Kaltim itu mengamankan seorang pemuda berusia 19 tahun berinisial LS, di Samarinda, dan dari tangan pelaku didapati barang bukti sebanyak 167 ekor burung cucak hijau (cica daun hijau) atau

Petugas Gakkum LHK Kaltim itu mengamankan seorang pemuda berusia 19 tahun berinisial LS, di Samarinda, dan dari tangan pelaku didapati barang bukti sebanyak 167 ekor burung cucak hijau (cica daun hijau) atau Chloropsis sonnerati.

Perdagangan ilegal satwa dilindungi itu berhasil dibongkar, setelah petugas menerima laporan dari masyarakat.

"Saat diselidiki, informasinya ternyata benar. Setelah itu, tim operasi diturunkan untuk menindak," kata Kepala Balai Gakkum LHK Kaltim Subhan, Jumat.


Dengan tertangkapnya pelaku, Balai Gakkum LHK Kaltim, menurut Subhan, akan terus menelusuri pihak yang terlibat dalam perdagangan satwa yang dilindungi itu.

"Kalau memang ada respons dari pihak penampung, akan segera kami tindak," ujarnya pula.

Informasi dihimpun, burung berkicau itu didapatkan LS dari tangan beberapa orang di Kabupaten Berau. Sedangkan, harga setiap burung dikatakan Subhan dijual pelaku mulai dari Rp150 ribu hingga Rp300 ribu.

"Untungnya paling Rp50 ribu," ujar LS yang mengaku menjalani peran tunggal sebagai pedagang satwa yang dilindungi itu.

Diakui LS bahwa aktivitas penjualan satwa yang dilindungi itu mulai dilakukannya sejak pertengahan bulan Februari tahun 2020 ini.

Tak hanya dijual secara online, namun LS juga mengaku turut menawarkan burung yang ia perdagangkan langsung ke calon pelanggan.

"Selama ini, baru 4 ekor yang terjual," katanya lagi.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 21 ayat 2 juncto Pasal 40 ayat 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya AlamHayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara dan denda lima juta rupiah.