Yudi Latif: Pembudayaan Pancasila bentuk kolektif bangsa yang baik

Yudi Latif: Pembudayaan Pancasila bentuk kolektif bangsa yang baik

Terbaiknews - Semarang (ANTARA) - Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif,...

Semarang (ANTARA) - Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif, Ph.D.menyatakan pembentukan kolektif bangsa yang baik akan berkembang melalui pembudayaan nilai-nilai Pancasila.
"Hal ini mengingat kedirian manusia itu terdiri atas dua sisi: kedirian yang sifatnya personal dan kedirian yang sifatnya publik," kata Yudi Latif ketika dikonfirmasi ANTARA di Semarang melalui percakapan WhatsApp, Ahad malam.
Menurut penulis buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila" ini, kedirian yang sifatnya personal akan tumbuh sehat kalau dibekali karakter personal yang baik, seperti: jujur, kerja keras, dan pantang menyerah.
"Karakter personal ini biasanya bersifat universal, yang ditumbuhkan lewat moral keagamaan dan adat istiadat," kata alumnus Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Yudi Latif: Pembudayaan Pancasila bentuk kolektif bangsa yang baik
Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif, Ph.D. ANTARA/HO-InSari

Akan tetapi, kata Yudi Latif, pribadi baik hanya akan mengalami perkembangan optimum dalam kolektivitas yang baik. Bahkan, pribadi baik bisa menjadi buruk kalau hidup dalam lingkungan kolektif yang buruk.
Untuk menciptakan kolektivitas yang baik, dia memandang perlu pembentukan karakter kolektif yang baik juga.
"Dalam konteks Indonesia, pembentukan kolektif yang baik itu dikembangkan melalui pembudayaan nilai-nilai Pancasila," kata Yudi Latif menegaskan.
Sebelumnya, Yudi Latif tampil sebagai pembicara kunci di webinar Bedah Buku "Pancasila untuk Tunas Bangsa". Webinar ini diselenggarakan oleh Institut Sarinah (InSari) pada hari Sabtu (26/9).
Narasumber lain, Sunarsih, guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di Parung Panjang, Bogor, menyatakan bahwa buku "Pancasila untuk Tunas Bangsa" sangat berguna, termasuk untuk metode daring pada masa pandemi saat ini.
"Buku ini membantu kami karena aktivitasnya konvensional. Akan tetapi, dengan pemaknaan baru, yaitu membangun kecintaan kepada negeri, alam, sesama manusia, dan Tuhan dengan media bantu yang ada di sekitar rumah siswa," kata Sunarsih dalam rilis InSari.
Dalam webinar yang dimoderatori Ketua InSari Eva Kusuma Sundari, M.A. M.D.E., pembicara dari Yayasan Cahaya Guru Heny Supolo, M.A. antusias meng-endorse buku karya untuk diberikan kepada siswa hingga kelas 6.
Yudi Latif: Pembudayaan Pancasila bentuk kolektif bangsa yang baik
A.S. Poerbasari, M.Si., penulis buku "Pancasila untuk Tunas Bangsa". ANTARA/HO-InSari

"Buku ini berisi afeksi berupa cinta, welas asih, dan kebaikan sehingga siswa menjadi pribadi positif yang berjiwa merdeka sekaligus tangguh. Buku ini bahkan bisa membangkitkan kecerdasan spiritual karena roso dihidupkan," kata Heny Supolo.
Ketua Komnas Pendidikan (Komnasdik) Jatim Kunjung Wahyudi, S.T, M.Si. sependapat dengan Heny Supolo. Dia menyatakan bahwa buku tersebut membantu membangun lima bentuk kesadaran berdasar lima sila Pancasila.
Mengutip Erbe Sentanu pengarang Quantum Ikhlas, dia menegaskan, "Pancasila harus dihadirkan di hati dan napas siswa agar menjadi pedoman hidup karena sejatinya Pancasila sudah ada dalam diri kita dan lahir dari mata air kesadaran kita."
Sementara itu, Wakil Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.H., M.B.A. sebagai narasumber terakhir menyatakan apresiasi yang tinggi terhadap buku Pancasila untuk PAUD dan sekolah dasar (SD).
Ia pun berharap InSari melanjutkan menerbitkan buku-buku sejenis untuk jenjang pendidikan lebih tinggi.
Selain itu, Wakil Bupati juga memandang perlu payung hukum bagi upaya pengajaran Pancasila di dunia pendidikan.
"Kabupaten Nganjuk siap menyelenggarakan webinar dan simulasi buku ini. Saya akan mendalami mengusulkan perbup untuk penyelenggaraan pendidikan Pancasila di pendidikan dasar di Kabupaten Nganjuk," katanya.
Yudi Latif: Pembudayaan Pancasila bentuk kolektif bangsa yang baik
Ketua Institut Sarinah (InSari)Eva Kusuma Sundari, M.A. M.D.E. ANTARA/HO-InSari

Sementara itu, Ketua InSari Eva Kusuma Sundari menjelaskan bahwa tema webinar didesain sesuai dengan misi organisasi, yaitu menyelenggarakan program-program untuk Nation and Character Building.
"InSari selain mengembangkan pemikiran-pemikiran terkait dengan feminisme kebangsaan berbasis Pancasila, juga melakukan pemberdayaan masyarakat bertema sama. Kali ini targetnya adalah para bunda PAUD dan guru SD," kata Eva Sundari.
Setelah bedah buku, kata Eva K. Sundari, InSari akan mengorganisasi webshop (web-workshop) atau web-training untuk 2.000-an guru PAUD dan SD di 30 kabupaten di Jawa Timur terkait dengan buku "Pancasila untuk Tunas Bangsa".
Dalam kegiatan di 11 titik tersebut, InSari akan bekerja sama dengan Komnas Pendidikan dan Himpaudi Jawa Timur.