"Berdamai” dengan Covid-19, Ansy Lema: Kebijakan Negara harus Bertemu Kebajikan Masyarakat

Terbaiknews - Laporan Reporter POS-KUPANG.COMTommy Mbenu NulangiPOS-KUPANG.COM | KEFAMENANU-Anggota DPR RI...

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU-Anggota DPR RI Yohanis Fransiskus Lema menilai ajakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar kita "berdamai" dengan Covid-19 bukan berarti negara gagal, menyerah kalah, takluk tak berdaya atau bersikap abai terhadap bahaya pandemi Covid-19.

Menurutnya, sebelum ditemukan vaksin penyembuh virus corona dan selama pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman, maka logis pilihan kebijakannya adalah "berdamai" dengan keadaan. "Berdamai" dalam konteks ini mesti dimengerti sebagai upaya melakukan berbagai tindakan penyesuaian, menjalankan adaptasi baru dalam seluruh aspek kehidupan manusia terhadap Covid-19. Untuk itu diperkenalkan istilah "New Normal".

World Health Organization (WHO) memperkirakan, penyakit Covid-19 tidak akan hilang, dan bisa jadi keberadaannya terus ada dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, kehidupan harus terus berjalan. Namun, karena ancaman Covid-19, maka dibutuhkan berbagai penyesuaian-penyesuaian baru.

Manusia harus bisa melakukan adaptasi secara cepat agar bisa menjaga dirinya dari ancaman Covid-19, sekaligus tetap bisa menjalankan aktivitas kehidupannya. Sembari menunggu ditemukan vaksin penyembuh, manusia harus cepat melakukan adaptasi untuk bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

Bentuk penyesuaiannya adalah menjalankan protokol kesehatan pencegahan dan penanganan Covid secara ekstra ketat semisal melakukan physical distancing, pakai masker, rajin cuci tangan, menerapkan pola hidup sehat. "Berdamai" dengan Covid mestinya dimaknai sebagai perubahan fundamental dalam mind-set maupun perilaku aktivitas sehari- hari agar terhindar dari ancaman mematikan Corona.

“WHO menyebutkan Covid-19 tidak akan cepat hilang, bahkan mungkin tetap ada dalam kehidupan manusia. Saat belum ditemukan vaksin penyembuhnya, hidup berdamai dan berdampingan dengan COVID-19 adalah pilihan logis yang bisa dilakukan.

Tujuannya agar aktivitas kehidupan/ekonomi kembali berjalan, namun tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan secara super ketat. Virus itu sulit untuk dihilangkan. Tinggal kita sebagai manusia menalar menggunakan logika untuk menyesuaikan diri, untuk "bersamai".

Jadi bukan berarti negara tidak memperhatikan kesehatan, kalah atau menyerah. Perang melawan Covid-19 tidak lagi "dari dalam rumah", tetapi “dari luar rumah”. Yang sakit diobati, yang sehat bisa beraktivitas seperti biasa. Keluar rumah, melanjutkan aktivitas kerja, sambil konsisten menjalankan protocol kesehatan," ujar politisi muda PDI Perjuangan yang akrab dipanggil AnsyLema melalui rilis yang diterima Pos Kupang, Jumat (22/5/2020).

Menurut Ansy, pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan manusia, tetapi mengancam seluruh dimensi kehidupan manusia, termasuk ekonomi rumah tangga, masyarakat dan negara. Pekerja informal sebanyak 70,49 juta (56 persen) paling terdampak karena Pandemi Covid-19 sebagai akibat terbatasnya mobilitas usaha dan ekonomi mereka.