Kisah Burung Hantu Di Desa Gledeg Klaten, Awalnya Untuk Usir Tikus, Kini Jadi Maskot

Kisah Burung Hantu Di Desa Gledeg Klaten, Awalnya Untuk Usir Tikus, Kini Jadi Maskot

Terbaiknews - Solopos.comKLATEN -- Serangan tikus sempat membuat petani di Desa GledegKecamatan Karanganom,...

Solopos.com, KLATEN -- Serangan tikus sempat membuat petani di Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Klaten, kelimpungan. Selama dua tahun 2010-2011, binatang pengerat itu membuat petani gagal panen hingga tak mendapatkan hasil apa pun dari lahan pertanian mereka.

Berbagai cara sudah dilakukan petani. Namun, populasi tikus belum bisa dikendalikan. Hingga para petani mendapatkan literatur soal desa di Kabupaten Demak yang mengendalikan tikus menggunakan musuh alami yakni Tyto alba atau burung Serak Jawa yang juga dikenal sebagai burung hantu muka monyet.

Para petani lantas studi banding ke Demak. Dari hasil studi banding itu, petani dan pemerintah desa sepakat mengembangkan kandang karantina serta mendirikan rumah burung hantu (rubuha) di sawah pada 2012.

Lambat laun jumlah Rubuha kian bertambah. “Awalnya Rubuha dibangun mengunakan kayu. Namun, dua tahun dipasang akhirnya rusak. Setelah itu, kami mulai membangun Rubuha permanen. Perkembangannya saat ini sudah ada hampir 70 Rubuha di sawah,” kata Kasi Pemerintahan Desa Gledeg, Awaludin, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (13/9/2019).

Keberadaan Tyto alba yang dibiarkan bebas berkeliaran serta tinggal di Rubuha mulai membuahkan hasil. Burung tersebut memangsa tikus hingga keberadaan hama pertanian itu bisa dikendalikan. Para petani bisa kembali menikmati hasil panen mereka.

Selain mengembangkan penangkaran serta Rubuha, Pemerintah Desa (Pemdes) Gledeg membuat Peraturan Desa (Perdes) No. 3/2012 tentang Larangan Memburu Burung Hantu. Pemdes Gledeg juga membuat larangan aktivitas berburu binatang seperti ikan dan belut dengan menyetrum.

Aturan itu dibuat agar ekosistem di Gledeg tetap terjaga. Tyto alba tak hanya membantu para petani Gledeg agar tetap panen. Banyaknya Rubuha membuat desa tersebut mulai dikenal dengan burung hantunya.

Untuk mengukuhkan sebagai desa yang mengembangkan penangkaran serta Rubuha, pemdes setempat berencana membangun taman bernama Tyto Alba Land. Patung Tyto Alba menjadi maskot di taman tersebut.

Kepala Desa (Kades) Gledeg, Watik Sri Mulyani, mengatakan master plan taman itu sudah dibikin. Taman tersebut rencananya dibangun di tanah kas desa setempat seluas 1.500 meter persegi.

Taman itu diharapkan menjadi pusat keramaian baru di wilayah Karanganom. “Untuk pembangunan kami lakukan bertahap. Kami selesaikan dulu pembangunan gedung kesenian dan olahraga. Pembangunan taman setelah 2020. Dari perencanaan butuh anggaran sekitar Rp200 juta,” kata dia.

Source :