Peran DMI dalam Pembinaan Umat

Peran DMI dalam Pembinaan Umat

Terbaiknews - KH. Muhammad Rasna DahlanMasjid memiliki posisi yang sangat strategis bagi umat Islam dalam upaya...

KH. Muhammad Rasna Dahlan

Masjid memiliki posisi yang sangat strategis bagi umat Islam dalam upaya membentuk pribadi dan masyarakat yang Islami. Oleh karena itu, masjid harus difungsikan dengan sebaik-baiknya. Tentu saja dalam pengertian yang luas, tidak dalam pengertian yang sempit sebagaimana pengertian yang dipahami oleh banyak masyarakat pada umumnya, yaitu hanya untuk melaksanakan salat.

Dalam perjalanan perkembangan Islam sejak Zaman Rasulullah SAW sampai saat ini, posisi strategis masjid tidak saja sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat syi’ar Islam. Sebagaimana kita ketahui, suatu budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat umat Islam yang pertama dan utama didirikan adalah masjid.

Tempat peribadatan umat Islam di Indonesia memiliki banyak sebutan atau istilah, seperti surau, langgar, tajug dan masjid. Keragaman istilah yang berkaitan erat dengan fungsi utamanya sebagai tempat shalat berjamaah rukun warga, juga sekaligus berfungsi lembaga pendidikan non formal keagamaan.

Tajug berukuran lebih kecil dari masjid yang ada di daerah tersebut, meskipun bersifat terbuka yakni siapapun boleh menggunakannya sebagai tempat beribadah, namun kepemilikannnya dinisbahkan pada ustad pengasuh yang biasanya menjadi pendiri tajug tersebut.

Namun demikian, dalam perjalanan umat Islam Indonesia, bangunan semacam tajug itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren. Berawal dari tajug yang ustaznya menekuni pengajian secara khusus pengajian Islam. Kemudian terjadi perkembangan tajug menjadi kerukunan pondok, masjid, madrasah dan komplek pesantren.

Dalam beberapa tahun ini, kita menyaksikan semangat umat Islam begitu besar dalam membangun sarana ibadah (masjid, musala) hampir ada disetiap tempat, tidak terkecuali di kawasan perkantoran, pusat bisnis, pendidikan, SPBU, tempat pelayanan umum dan wisata.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, tercatat hampir 1 juta masjid dan musala yang tersebar diseluruh penjuru tanah air. Jumlah ini terbesar di dunia atau setara dengan total jumlah keseluruhan masjid yang terbentang dari kawasan Magribi di bagian barat Afrika hingga Bangladesh di sebelah timurnya.

Pertumbuhan pesat jumlah masjid dan musala ini bernilai positif karena setidaknya mencerminkan kecenderungan menguatnya kesadaran religius dan semangat kebersamaan di kalangan umat Islam. Sayangnya dari jumlah yang besar ini, masjid difungsikan hanya sebagai tempat sujud, tempat ibadah mahdoh saja, seperti salat, zikir, i’tikaf, tilawatil Quran, berdoa dan riungan.

Beragam fungsi

Menurut Prof. Dr. KH. Miftah Farid, fungsi masjid seperti tersebut menunjukkan bahwa masjid hanya dimaknakan secara sempit. Padahal, masjid itu digunakan untuk ibadah kepada Allah SWT juga dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan bernuansa sosial, ekonomi, ataupun kegiatan sosial budaya lainnya.

Fungsi dan peran masjid yang sesungguhnya, seperti dikatakan oleh Ismail Raji Al-Faruqi (Pakar Kebudayaan Islam) asal Palestina, bahwa masjid bukan sekadar tempat sujud sebagaimana makna harfiyahnya, tapi memiliki beragam fungsi.

Menurutnya sejak zaman Nabi Muhammad SAW masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan pusat perdagangan, tetapi juga sebagai sentra utama seluruh aktivitas keumatan, baik untuk kegiatan pendidikan, pembentukan karakter sahabat dan aspek-aspek keagamaan lainnya.

Di era kebangkitan umat saat ini fungsi dan peran masjid antara lain, pertama pusat pendidikan dan latihan untuk mencetak SDM menjadi salah satu ikon penting dari proses peletakan batu pertama pembangunan umat.

Kedua, pusat pembinaan dan pembangunan ekonomi umat, koperasi dikenal sebagai guru perekonomian Indonesia. Namun kenyataannya koperasi menjadi barang yang tidak laku, terlepas dari berbagai macam alasan tentang koperasi, tak ada salahnya jika masjid mengambil alih peran sebagai koperasi yang membawa dampak positif bagi umat di lingkungannya.

Bahkan lebih ekstrem lagi misalnya menggantikan pusat-pusat perbelanjaan grosir semacam Makro, Alfa, atau Carrefour yang sebenarnya merupakan gudang barang-barang kebutuhan berkonsinyasi dengan pihak produsen barang-barang tersebut.

Ketiga, masjid sebagai penjaringan umat. Masjid dengan jemaah yang selalu hadir mencapai puluhan, bahkan ratusan ribuan orang dengan berbagai usia dan latar berlakang profesi dan pendidikan, ini memudahkan pendataan personel jemaah, misalnya ada beberapa jumlah insinyur, dokter, pengacara, guru, akuntan, pengusaha, anak yatim, duafa, mahasiswa, dosen, kiai, ustaz dan lain-lain.

Keempat, pusat perpustakaan. Perintah utama Allah kepada Nabi Muhammad SAW “Membaca”. Pada tahun 2014, DMI menyelenggarakan Muktamar ke-7 membuat program unggulan dan motto “Memakmurkan dan Dimakmurkan masjid”.

Artinya dengan program-program yang dilaksanakan DMI untuk kebutuhan pemberdayaan masjid, maka masjid akan menjadi makmur, setelah masjid makmur diharapkan akan memberikan kemakmuran bagi lingkungan masyarakat sekitar masjid.

Jika masjid-masjid telah makmur, kewajiban selanjutnya adalah memakmurkan/menyejahterakan umat dan masyarakat/jemaah masjid. Pemikiran ini seringkali disampaikan Ketua Umum DMI Pusat HM. Jusuf Kalla.

Bentuk kegiatan dalam memakmurkan masjid dalam bentuk endidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonoi umat (koperasi) dengan titik berat pada pemberdayaan masjid melalui penyelenggaraan pendidikan dan latihan. Kepemimpinan masjid, keorganisasian masjid, program kerja masjid dan keterampilan, serta peningkatan kualitas SDM pengurus masjid. (Penulis, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Banten)*