Bersalaman di Tengah Wabah

Bersalaman di Tengah Wabah

Terbaiknews - Fauzul ImanBagi masyarakat yang telah mengenal tradisi berjabatan tangan biasanya mereka melakukan...

Fauzul Iman

Bagi masyarakat yang telah mengenal tradisi berjabatan tangan biasanya mereka melakukan dengan maksud atau beberapa motivasi. Pertama, berjabatan tangan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Kedua, berjabatan tangan untuk tanda persahabatan. Ketiga, berjabatan tangan karena kedua belah pihak telah lama tak berjumpa. Dan keempat, berjabatan tangan untuk mempererat silaturahim.

Sejalan dengan motivasi di atas, dalam praktik keseharian, tradisi berjabatan tangan begitu mengakar kuat dilakukan oleh anak kepada orangtua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, dan oleh masing-masing sahabat terdekat.

Tradisi berjabatan tangan dalam kondisi demikian sangat dianjurkan oleh agama. Bahkan ada satu hadits yang menjelaskan tentang terampuninya dosa seseorang yang senantiasa memelihara tradisi berjabatan tangan. “Jika dua orang muslim saling berjumpa, lalu keduanya berjabatan tangan,” kata Nabi Saw, “maka kedua orang itu akan diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah”.

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa berjabatan tangan dalam ajaran agama tak hanya menjadi tradisi. Lebih dari itu, ia telah dilegitimasi oleh nilai agama yang sarat dengan muatan-muatan sakral (ibadah). Bagi yang melakukan kegiatan berjabatan tangan, yang bersangkutan tidak hanya meraih rasa syahdu atau keasyikan yang diluapi kegembiraan, tetapi ia akan memperoleh pahala sekaligus terhapus dosanya.

Di Lebaran Idulfitri, kita sering menyaksikan betapa semaraknya tradisi berjabatan tangan di tengah masyarakat. Di antara mereka memang ada yang dengan tulus dan ikhlas melakukan tradisi berjabatan tangan ini. Mereka tanpa pandang bulu berbaur berjabatan tangan baik dengan anak-anak, tua jompo, miskin, dan kaya, dengan harapan dapat saling memaafkan, memperkuat dan membangun kembali tali ukhuwah serta persahabatan.

Di sela-sela kegembiraan dan keikhlasan umat Islam menjalankan tradisi bersalaman, ternyata masih banyak di antara kita yang menyalahgunakan tradisi tersebut. Berjabatan tangan yang semula bernilai sakral diubah bentuk sehingga kehilangan maknanya.

Ia tidak lagi menjadi media ibadah yang dapat mempercepat tali silaturahim, tetapi menjadi alat kepentingan kelompok tertentu untuk mengembangkan relasi yang menarik margin keuntungan. Tak pelak lagi, tradisi berjabatan tangan menjadi sarat dengan muatan materi secara pandang bulu dan menjadi elite.

Tradisi berjabatan tangan dilakukan oleh kelompok ini dengan cara membawa parsel atau bingkisan yang berharga mahal, yang diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak layak disantuni. Tradisi berjabatan tangan yang demikian, jelas bertentangan dengan misi silaturahim dan merusak sendi-sendi kebersamaan, karena sikap ini cenderung berpihak kepada kelompok kuat, sementara kaum lemah dilecehkan.

Dalam negara kita yang masih terdapat umat yang mendambakan bantuan sosial dan sentuhan kasih, hendaknya tradisi berjabatan tangan tidak berjalan memihak yang menyebabkan kaum kuat semakin besar kharismanya, sementara kaum kecil semakin terkucil.

Di era reformasi yang bermisi menciptakan pemerintahan bersih dn rakyat sejahtera. Larangan yang dikeluarkan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi beberapa tahun yang lalu untuk tidak membawa/mengirim parcel kepada para pejabat dalam tradisi berjabatan tangan di hari lebaran patut diapresiasi dengan tulus. Dengan demikian, segala bentuk santunan akan berpindah dan mengalir kepada kaum pinggiran yang kehidupannya masih amat mengenaskan.

Dari hikmah berjabatan tangan yang kita resapi di satu sisi dan kondisi sikap elitis yang seakan-akan mendistorsi nilai keluhuran berjabatan tangan di sisi lain. Di trafik yang paling menyumbat oksigen saluran batin berjabatan tangan adalah peristiwa bencana wabah pandemi.

Setumpuk matrik kemesraan fisik antar handai tolan yang hendak direkat pun terhempas diterjang wabah bertingkat. Kepahitan batin tergalang. Kekecewaan yang malang membentang. Jiwa insan perajut kerinduan melayang disapu awan. Apalah daya tangan tak sampai hendak memeluk gunung kemesraan. Persaudaraan kian melandai di tengah wabah nan melambai-lambai.

Namun sebagai umat beriman, kita tetap berjabatan tangan sepenuh jiwa walau tanpa pertemuan raga hati tetap dekat mendekap bersiaga. Ini tipologi muslim sejati yang tak pernah kedap dengan bencana apapun yang terjadi karena Tuhan berkehendak. Di era wabah pandemi, silaturahim tak kan cacat walau tanpa fisik berdekap.

Silaturahmi tak harus selamanya diragakan dengan berjabatan tangan. Dalam situasi wabah ini, silaturahim ala berjabat tangan tidak menuntut dengan mutlak secara fisik . Berjabatan tangan di era pandemi umat Islam tak perlu menyesal karena bisa dilakukan lewat virtual.

Corona pandemi seolah menegur keras kepada kita bahwa berjabatan tangan secara fisik tidak selamanya akan melanggengkan kemesraan batin. Saksikan saja setiap hari raya Idulfitri parade berjabatan tangan menguntai setumpah ruah manusia di istana dan rumah megah hanya sekadar ingin bersalaman dan cipika cipiki dengan para pejabat atau para pengusaha digjaya.

Akan tetapi, kemeriahan bersalaman hanya singgah di sebatas cengkraman kuku formalitas dan simbolisme status kekuasaan dan pertemanan elitis. Setelah kekuasan dan kedigjayaan mreka redup, para pencinta jabatan tangan ini menyurut seiring redupnya kedigjayaan.

Simbolitas silaturahim ini sering juga terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Sungguh amat mengenaskan terkadang dijumpai di tengah kehidupan keluarga sepasang muda suami ganteng dan istri cantik yang telah mapan membangun mahligai rumah tangga. Kemesraan di antara keduanya tumbuh begitu indah. Kebahagiaan meramba-ramba tiada tara.

Tiba-tiba bara kemesraan menjadi sirna karena sang suami pergi meninggalkan istri. Sang suami kabarnya tak nyaman lagi melihat simbol-simbol paras kecantikan istrinya yang mulai menyusut karena lama didera kesakitan. Sebaliknya, dijumpai pula sang istri yang berhati mendua karena melihat sang suami jatuh usahanya sehingga tidak ada lagi yang secara fisik simbolik menjadi tumpuan harapan kehidupannya.

Gambaran pertemuan fisik yang tidak selamanya mendatangkan keutuhan rumah tangga atau pertemanan. Pada akhirnya terpulang kepada niat ketulusan kalbu bukan pada cengkraman formalitas. Oleh karena itu, silaturahmi/berjabatan tangan di tengah wabah bukanlah pertemuan fisik yang menjadi barometer utama.

Apalah arti pertemuan fisik diikat kuat-kuat sementara ketulusan hatinya rapuh dan bercerai. Inilah yang dimaksud dengan firman Tuhan, “engkau sangka mereka bersatu padu padahal hatinya bercerai (QS. 59 : 14). Wallahu A’lam. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*