Jangan Buka Sekolah di Luar Zona Hijau

Jangan Buka Sekolah di Luar Zona Hijau

Terbaiknews - ILUSTRASI: Sejumlah guru kelas melakukan kegiatan mengajar jarak jauh kepada peserta didik yang ada di rumah masing-masing dengan metode belajar mengajar secara daring (online)di SDN 026 BojongloaJalan Cibaduyut RayaKota BandungJawa BaratSenin (27/7/2020). 

Oleh:Hendra Setiawan Boen
Ex Koordinator pada Direktorat Hukum pada Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf Amin

TRIBUNNERS - Dalam pertemuan dengan DPR pada tanggal 6 November 2019, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan bahwa keuntungan dari teknologi adalah
transparansi dan semua kebijakan dan aturan harus berbasis data. Penyataan Nadiem Makarim
ini benar dan tepat.

Oleh karena itu, kita semua terkejut ketika Nadiem Makarim mengumumkan rencana
pemerintah untuk membuka kembali belajar secara tatap muka untuk sekolah di luar zona hijau
dengan dilakukan serangkaian protokol kesehatan yang ketat.

Saya tidak paham dengan keputusan ini. Data apa yang digunakan oleh pemerintah dan Nadiem Makarim untuk memutuskan bahwa sudah dapat dilakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada saat pandemi Covid-19 di Indonesia belum menunjukan penurunan?

Data terakhir bahkan menyatakan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 terus mengalami kenaikan dan per hari ini ada 104.432 kasus di luar Indonesia dan muncul 90 kluster perkantoran hanya di Jakarta saja.

Data di atas adalah data resmi sehingga masih terbuka kemungkinan jumlah yang tidak
terdeteksi jauh lebih banyak.

Misalnya pada saat data resmi pemerintah menunjukan terdapat korban meninggal sebanyak 2.276 orang, ternyata Tempo menemukan data dari rumah sakit yang menanggani pasien Covid-19 di seluruh Indonesia bahwa orang meninggal sebenarnya sudah berjumlah 13.885 orang atau lebih dari empat kali lipat angka kematian yang diumumkan.

Kenaikan klaster virus corona di puluhan kantor sejak PSBB dilonggarkan pada tanggal 4 Juni
2020 juga membuktikan bahwa protokol kesehatan yang diterapkan pada semua perkantoran,
termasuk menurunkan kapasitas ruangan menjadi hanya 50% hanya dapat menekan angka
orang yang akan terinfeksi tapi tidak dapat menghalangi kenaikan.

Orang-orang di kantor yang sudah bekerja adalah orang-orang yang sudah dewasa dan seharusnya lebih disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan, tapi mereka masih tetap kena. Bagaimana dengan anak-anak yang tentunya tidak akan sedisiplin orang dewasa.

Di dalam sekolah mereka dapat dipaksa melakukan protokol kesehatan dengan ketat, tapi apa ada jaminan begitu mereka keluar sekolah akan juga melakukan protokol kesehatan? Orang dewasa saja tidak bisa dan hal ini merupakan salah satu sebab angka penderita Covid-19 di Indonesia terus naik.