Survei SMRC: 92% Siswa dan Mahasiswa Terkendala PJJ Daring

Survei SMRC: 92% Siswa dan Mahasiswa Terkendala PJJ Daring

Terbaiknews - JakartaBeritasatu.com - Dari hasil survei yang dilakukan lembaga riset Saiful Mujani Research and...

Jakarta, Beritasatu.com - Dari hasil survei yang dilakukan lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), ditemukan bahwa 92% siswa dan mahasiswa yang menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring mengalami masalah. Perinciannya, 25% mengalami sangat banyak gangguan dan 67% mengaku cukup banyak gangguan.

Manajer Kebijakan Publik SMRC, Tati D Wardi mengatakan, dari hasil survei tersebut, ketika ditanya tentang status pekerjaan, ditemukan sekitar 5% responden yang mengaku masih sekolah atau kuliah. Lalu, ketika ditanya apakah selama Covid-19 ini menjalani PJJ daring, sebanyak 87% mengaku menjalani PJJ daring sejak wabah Covid-19. Sisanya tidak melakukan PJJ daring.

“Dari populasi warga yang mengaku kuliah online ini, ketika ada masalah yang mengganggu belajar atau kuliah online, jawaban mereka hampir semua,yakni 92% merasakan sangat atau cukup banyak masalah yang mengganggu belajar atau kuliah online,” kata Tati dalam diskusi daring terkait Survei Opini Publik Nasional tentang Asesmen Publik Tentang Pendidikan Online Di Masa Pandemi, Selasa (18/8/2020).

Survei dilakukan kepada 2201 responden yang dipilih secara acak dengan jumlah proporsional menurut provinsi untuk mewakili nasional. Survei berlangsung sejak 26 April hingga wawancara terakhir pada 5-8 Agustus.

Selanjutnya, Tati juga menyebutkan, dari responden, terdapat 70% responden mengaku mempunyai anggota keluarga masih sekolah atau kuliah setidaknya satu orang. “67% dari jumlah ini merasa sangat berat membiayai belajar atau kuliah online,” ujarnya.

Tuti menuturkan, keberatan dari warga mempunyai anggota keluarga belajar atau kuliah daring ini karena 47% dari mereka mengeluarkan biaya lebih dari Rp 100.000 per bulan untuk belajar daring.

Penilaian biaya sekolah dan kuliah daring ini sangat berat paling banyak ditemukan pada responden perempuan yang tinggal di pedesaan, khususnya di wilayah Maluku dan Papua. Mereka berlatar belakang pendidikan rendah, berpendapatan kecil, dan merasa kondisi ekonomi rumah tangganya sekarang jauh lebih buruk dibanding sebelum adanya Covid-19.

Sementara untuk akses internet, 24% dari seluruh responden mengaku tidak memiliki akses dan 76% memiliki akses.

“Temuan ini menunjukkan beberapa masalah besar yang dialami warga (responden) selama kebijakan belajar online oleh Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan),” ujarnya.

Untuk survei tersebut, terdapat margin of error sekitar 2,1 %, dengan tingkat kepercayaan 90% asumsi simple random sampling.


Sumber: BeritaSatu.com
Mujani Research dan Consulting SMRC Jarak Jauh