Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam

Terbaiknews - Islam memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang individunya saling membutuhkan
Islam memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang individunya saling membutuhkan

, MALANG -- Kecemasan merupakan salah satu permasalahan kesehatan mental. Permasalahan kesehatan mental di tengah pandemi akan menimbulkan beban kesehatan yang besar serta efek sangat signifikan.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Dodik mempunyai formula khusus untuk mengentaskan problem kesehatan mental. Gagasan tentang konsultasi ini, kata Dodik, sejalan dengan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat menurut pandangan Alquran.
Islam memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang individunya saling membutuhkan dan saling mendukung. Antara individu dan masyarakat mempunyai hubungan yang idealnya saling menguntungkan.
"Prinsip tersebut adalah ukhuwwah, ta’awun dan persamaan derajat manusia,” kata dia menegaskan.
Dodik mengusung gagasan SAPA KEMENLU atau Satuan Aksi Pelayanan Kesehatan Mental Keluarga. Gagasan ini merupakan implementasi yang diisyaratkan Alquran tentang kesehatan mental. Hal ini terjelaskan dalam surat Al Maidah [5] : 2 dan Al Hujurat [49]: 10 dan 13.
Dodik pun memformulasikannya dalam empat tahapan untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Pertama, melakukan edukasi kepada keluarga menggunakan media video dan booklet. Penggunaan booklet berfungsi sebagai media edukasi mengenai kesehatan mental dan manfaat melaksanakan terapi relaksasi. Keuntungannya, informasi yang disampaikan lebih terperinci dan jelas sehingga klien dapat menyesuaikan diri dalam belajar mandiri, mudah dibuat, diperbanyak dan diperbaiki sesuai kebutuhan
"Bisa dibuat sederhana dengan biaya relatif murah, mudah dibawa dan dibaca kembali jika pembaca lupa dengan isinya,” kata mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan ini.
Setelah itu, penggunaan video tentang beberapa teknik relaksasi dapat memperjelas gambaran abstrak mengenai langkah-langkah teknik relaksasi. Selain membaca dan membayangkan, keluarga dapat melihat secara langsung dan jelas tentang langkah-langkah teknik relaksasi melalui video tersebut.
Dengan pemberian edukasi menggunakan kombinasi antara booklet dan video diharapkan keluarga akan mampu memahami secara cepat bagaimana pelaksanaan teknik relaksasi.
Kedua, pelatihan teknik relaksasi di mana klien atau keluarga diberikan pelatihan dengan pendekatan roleplay bersama anggota keluarga lainnya. Pendekatan metode ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kemampuan keluarga dalam pemberian pelatihan. Metode ini bagian pembelajaran sehingga subjek diminta berpura-pura menjadi seseorang dengan profesi tertentu yang digelutinya.
Ketiga, pendampingan evaluasi kesehatan mental di rumah. Pendampingan keluarga oleh perawat dalam perlakuan manajemen diri saat mengalami gangguan kesehatan mental selama satu bulan terakhir dilakukan satu bulan sekali. Ditujukkan dengan lembar persepsi aktivitas, yang di dalamnya memuat informasi meliputi nama, usia, tanggal dan hari dalam satu bulan dan tanda gangguan kesehatan yang dialami.
"Aktivitas yang dilakukan, riwayat konsumsi obat-obatan," katanya.
Keempat, tahap konsultasi di mana layanan ini berguna untuk para keluarga dalam menyampaikan keluhan. Hal ini terjual keluhan yang dirasa tidak bisa diatasi oleh teknik relaksasi yang sudah dilakukan. Konsultasi bisa dilakukan satu bulan sekali bersamaan dengan ketika pendampingan evaluasi.
“Keluarga juga dapat melakukan konsultasi sedini mungkin dengan tenaga kesehatan yang bertugas jikalau dirasa perlu penanganan segera,” katanya.
Untuk diketahui, Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan ini berhasil memenangi ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) nasional bertajuk “Problematika Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Berdasarkan Prespektif Islam”. Kegiatan bernama Avicenna Medical Competition 2020 ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (UNISBA) ini berlangsung pada September lalu.