Kemdikbud: Relaksasi Kebijakan Telah Dilakukan Selama PJJ

Kemdikbud: Relaksasi Kebijakan Telah Dilakukan Selama PJJ

Terbaiknews - JakartaBeritasatu.com - Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan 92% siswa...

Jakarta, Beritasatu.com - Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan 92% siswa dan mahasiswa terkendala pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Totok Suprayitno mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah relaksasi agar siswa dan guru tidak terbebani dengan PJJ daring.

Relaksasi yang dimaksud di antaranya adalah fleksibilitas penggunaan dana bantuan sekolah (BOS) untuk pembelian kuota internet, relaksasi jam mengajar guru, dan relaksasi kurikulum.

Totok menuturkan, sejak siswa belajar dari rumah (BDR), Kemdikbud memberikan fleksibilitas kepada siswa dan guru untuk menentukan skema pembelajaran. Mereka bebas menentukan apakah akan melaksanakan PJJ berbasis daring atau luar jaringan (luring).

Kendati demikian, Totok mengakui, masih banyak kesulitan yang terjadi di lapangan, mulai dari akses hingga kesulitan anak memahami buku tes karena tidak terbiasa belajar mandiri.

“Kita sadar betul bahwa ini disrupsi sangat mendadak dalam sejarah pendidikan. Setelah pendidikan dilaksanakan secara massal dengan moda bernama sekolah dan kampus, maka sejak itu namanya pendidikan itu sekolah. Waktu guru tercurah untuk semua anak dengan guru mendampingi anak, tiba-tiba anak belajar mandiri. Ini banyak yang tidak siap,” kata Totok dalam diskusi daring terkait Survei Opini Publik Nasional tentang Asesmen Publik Tentang Pendidikan Online di Masa Pandemi, Selasa (18/8/2020).

Untuk mengatasi hambatan pendidikan yang terjadi saat ini, Totok mengatakan, Kemdikbud mencoba mempermudah dengan merelaksasi kurikulum. Artinya, guru tidak perlu menuntaskan seluruh kurikulum tetapi diminta untuk mengajar sesuai konteks. Pemerintah membuat ringkasan kurikulum hingga 70%.

Lalu untuk kesulitan memahami teks bacaan yang kebanyakan terjadi di kelas dasar, pemerintah membuat modul untuk siswa, orang tua, dan guru. Diharapkan akan terjadi komunikasi antara ketiganya.

“Modul kami buat untuk PAUD dan SD, dengan harapan kebiasaan baru tetap terjaga. Hubungan orang tua, guru, dan siswa seperti modul tersebut,” ujarnya.

Sebelum ada pembuatan modul dan relaksasi kurikulum, Totok menyebutkan, Kemdikbud bekerja sama dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai arena belajar. Kendati demikian, Totok mengakui bahwa masih ada daerah yang belum ada jaringan TVRI. Untuk itu, Totok menuturkan, temuan dari hasil survei SMRC secara umum senada dengan hasil survei yang dilakukan oleh pihak Kemdikbud selama ini.


Sumber: BeritaSatu.com
SMRC Jarak Jauh