IGI Tanggapi Program Organisasi Penggerak Kemendikbud

IGI Tanggapi Program Organisasi Penggerak Kemendikbud

Terbaiknews - IGI ingin terlibat mencari solusi untuk pengelolaan guru dan bergabung dalam POP.
IGI ingin terlibat mencari solusi untuk pengelolaan guru dan bergabung dalam POP.

,JAKARTA -- Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengatakan ingin terlibat bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam mencari solusi untuk pengelolaan guru. Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim mengatakan IGI akan tetap bergabung di dalam Program Organisasi Penggerak (POP).

"IGI ingin terlibat mencari solusi dan menemukan masalah dari program ini dengan terlibat di dalamnya secara langsung," kata Ramli, Kamis (23/7).

Ramli mengatakan, selama ini IGI sudah menjadi pihak yang berada di luar pemerintah. Selama tiga tahun pertama, IGI telah melakukan pelatihan terhadap 1,5 juta guru meskipun tanpa bantuan Kemendikbud.

IGI juga melihat hingga saat ini Kemendikbud belum menemukan pola meningkatkan kompetensi guru secara efektif. "Hal ini tergambar dari rendahnya hasil ujian kompetensi guru Indonesia dan posisi Indonesia dalam berbagai parameter internasional," kata Ramli menambahkan.

Ia juga berharap Kemendikbud melakukan evaluasi terkait penggunaan anggaran negara untuk lembaga-lembaga yang tergabung dalam POP. Evaluasi kesuksesan program ke depannya harus betul-betul adil dan sesuai dengan keadaan.

"Jangan sampai sukses lembaga-lembaga tersebut hanya menjadi klaim Kemendikbud padahal Kemendikbud sama sekali tidak melakukan apapun terhadap lembaga tersebut," kata dia lagi.

IGI mengajukan termasuk 156 ormas yang akan melaksanakan program peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan dengan menggunakan dana bantuan pemerintah. Dua proposal IGI untuk tingkat SD dan SMP akan menerima dana bantuan dalam skema gajah.

Skema gajah bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa dan peningkatan motivasi, pengetahuan atau praktik pembelajaran guru atau kepala sekolah. Targetnya kebih dari 100 sekolah dengan alokasi anggaran: Rp20 miliar/tahun.