Bos Petronas Segera Mundur

Bos Petronas Segera Mundur

Terbaiknews - Beritasatu.com – Direktur utama dan chief executive officer PetronasWan Zulkiflee Wan...

Beritasatu.com – Direktur utama dan chief executive officer Petronas, Wan Zulkiflee Wan Ariffin, akan segera mundur setelah memimpin perusahaan migas Malaysia itu selama lima tahun, menurut kantor berita Bernama, Sabtu (6/6/2020).

Seperti banyak perusahaan minyak lainnya, saat ini Petroliam Nasional Bhd, nama resmi Petronas, tengah dilanda kesulitan likuiditas akibat anjloknya harga minyak dunia di tengah pandemik Covid-19.

Namun, tidak disebutkan alasan pengunduran diri Wan Zulkiflee.Bernama hanya menyebutkan bahwa dia akan diganti oleh kandidat internal perusahaan.

Sejak Muhyiddin Yassin menjabat perdana menteri pada Maret lalu, dia gencar melakukan perombakan di lembaga-lembaga pemerintah.

Jabatan CEO Petronas, yang sepenuhnya dikuasai pemerintah, diputuskan lewat penunjukan oleh perdana menteri. Masa jabatan Wan Zulkiflee diperpanjang selama tiga tahun pada 2018 lalu.

Wan Zul, sapaan akrabnya, adalah pegawai veteran di Petronas, di mana dia sudah mengabdi sejak 1983 sebagai insinyur produksi.

Karirnya kemudian melesat hingga menjabat CEO pada 2015 dan memimpin Petronas di tengah gejolak harga minyak yang tidak pernah berhenti.

Saat dia mulai memimpin, harga acuan minyak mentah Brent anjlok ke nilai terendah dalam 12 tahun sehingga Petronas harus memangkas biaya hingga senilai US$ 12 miliar (Rp 169 triliun) dan juga memecat ribuan karyawan untuk pertama kalinya.

Wan Zul kemudian merangkul Saudi Aramco untuk menggarap proyek pengilangan minyak dan petrokimia senilai US$ 27 miliar (Rp 380 triliun) di negara bagian Johor. Di bawah kepemimpinannya, Petronas tumbuh menjadi perusahaan multinasional yang disegani.

Tahun ini, harga minyak mentah kembali runtuh di bawah US$ 20 per barel dan laba Petronas ikut anjlok sebesar 68% di kuartal pertama.

Petronas adalah pengelola tunggal sumber daya migas di Malaysia dan menjadi salah satu sumber pendapatan utama pemerintah.


Sumber: Reuters
Zulkiflee Wan Arifin Minyak