3 Tips Tawar Menawar dari Praktisi Pengadaan Tersertifikasi

3 Tips Tawar Menawar dari Praktisi Pengadaan Tersertifikasi

Terbaiknews - Setidaknya sudah lima tahun lebih saya berkecimpung dalam dunia pengadaan barang dan jasa yang...

Setidaknya sudah lima tahun lebih saya berkecimpung dalam dunia pengadaan barang dan jasa yang berfokus pada pembelian berbagai jenis barang dan jasa serta hal-hal terkait kontraktual di industri hulu minyak dan gas di Indonesia. Saya pun harus susah payah untuk ujian mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi Hulu Migas (LSP Hulu Migas) dibawah koordinasi BNSP sebagai panitia pengadaan di industi hulu minyak dan gas Indonesia.

Selama lima tahun lebih itu juga saya mungkin sudah ribuan kali bernegosiasi terkait berbagai macam hal terutama harga dengan para penyedia barang dan jasa. Tentu tidak selalu mulus ada saja kendala dan diskusi yang berujung tidak optimalnya penurunan harga dari penyedia barang dan jasa.

Selain itu bekal ilmu dari pelatihan effective negotiation dan communication skillsÂyang kebetulan saya dapatkan dari kantor setidaknya semakin memperluas khazanah keilmuan saya dalam mempraktikkan cara negosiasi yang efektif.

Cara-cara tersebut ternyata tidak hanya efektif saya praktik-kan dalam dunia kerja, namun juga dapat saya praktikkan dalam kehidupan sehari-hari semisal berbelanja di pasar, membeli properti, membeli perlengkapan sehari-hari dan lain sebagainya bahkan juga dalam kehidupan berumah tangga semisal bernegosiasi dengan anak dan istri.

Nah berikut 3 tips pilihan saya dalam menawar atau negosiasi harga dari pengalaman saya yang mungkin dapat kita praktikkan dalam keseharian kita.

3 Tips Tawar Menawar dari Praktisi Pengadaan Tersertifikasi
Ilustrasi. Sumber: Shutterstock dalam laman business2community.com
Pertama adalah ubah terlebih dahulu pola pikir kita menjadi Win-WinÂdalam bernegosiasi khususnya menawar harga.

Hal yang salah kaprah dari kita semua dalam bernegosiasi harga adalah berpikir win-lose atau menang-kalah dimana kita selalu berpikir bahwa kita harus selalu menang dalam setiap negosiasi harga dan pihak penjual atau pihak lain selalu kalah. Padahal esensi dalam bernegosiasi haruslah didasrkan pada niat baik kita mendapatkan keuntungan optimum dan pihak penjual atau pihak lainnya tidak menderita kerugian.

Kita harus tepat juga memosisikan diri, sangat logis jika tidak ada suatu bisnis apapun di dunia yang menginginkan kerugian mereka juga harus berpikir untuk untung. Ingat ini juga terkait hubungan jangka panjang serta bentuk simbiosis mutualisme antara penjual dan pembeli.

Semisal kita memiliki anggaran 10 ribu rupiah untuk membeli 1 kilogram buah apel sedangkan penjual menjual apelnya dengan harga 10 ribu rupiah per kilogram, dan kita lihat harga di pasaran adalah rerata 9 ribu rupiah, maka sah-sah saja jika kita bernegosiasi dengan penjual buah bahwa satu kilogram apel dengan harga 8 ribu rupiah atau 9 ribu rupiah karena dengan begitu Anda dapat menghemat uang Anda dan penjual dapat lekas menjual barang dagangannya dan tetap untung meski tidak banyak sekali.

Atau bisa jadi Anda menawar harganya dari menjadi 7 ribu rupiah dengan syarat Anda membeli dalam jumlah sangat banyak semisal 20 kilogram.

Ingat kita dalam berbisnis adalah asal timbal balik dan tabur tuai tidak boleh berlaku zalim sangat tidak logis semisal kita menawar harga apel tadi menjadi 2 ribu rupiah per kilogram dengan pola pikir kita untung banyak namun penjual menderita kerugian belum lagi mempertimbangkan penjual tersebut adalah penjual skala kecil.

VIDEO PILIHAN