WFH Potensi Turunkan Konsumsi Masyarakat, Termasuk untuk Transportasi

WFH Potensi Turunkan Konsumsi Masyarakat, Termasuk untuk Transportasi

Terbaiknews - Aktivitas pengisian BBM di salah satu POM Pertamina dimana pasokan BBM dan Elpiji tetap aman meski dilanda isu Corona. Selasa (17/3). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

â&;&; Wabah korona atau Covid-19 memaksa pemerintah daerah menerapkan serangkaian kebijakan darurat. Salah satunya adalah imbauan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Sebagian besar karyawan dan masyarakat kelas menengah pun lantas tidak beraktivitas di luar rumah. Perubahan pola kerja itu turut memberikan dampak ekonomi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyatakan, terhambatnya aktivitas di luar rumah tersebut mengubah pola transportasi dan konsumsi masyarakat. “Kalau yang di rumah hanya anak-anak sekolah, pengaruhnya ke ekonomi tidak akan besar. Kalau yang di rumah itu juga pekerja, aktivitas produksi dan konsumsi berubah. Tentu pengaruhnya ke ekonomi bakal lebih terasa,” katanya Selasa (17/3).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Jawa Timur (Jatim), Jawa Barat (Jabar), Banten, DI Jogjakarta, dan Jawa Tengah (Ja-teng) menyosialisasikan WFH sebagai antisipasi persebaran Covid-19. karena besarnya peranan Jawa terhadap ekonomi nasional, WFH turut memperlambat roda perekonomian. Terutama Jatim sebagai penyumbang perekonomian terbesar kedua nasional setelah DKI Jakarta.

Kontribusi Jawa terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 59 persen. Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dimulai dari melambatnya ekonomi daerah tersebut, menurut Faisal, tidak bisa dihindari. Karena itu, pemerintah pusat juga perlu berfokus mengawasi penanganan Covid-19 di daerah.

Sebelumnya, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Harmanta memprediksi pertumbuhan ekonomi Jatim tidak mampu menyentuh 5,8 persen. Setelah tahun lalu tumbuh 5,52 persen, tahun ini diperkirakan ekonomi Jatim berada di rentang 5,2â&;&;5,7 persen.

“Sebab, karakter ekonomi Jatim mirip Wuhan di Tiongkok. Kita banyak bergantung pada industri manufaktur,” ungkapnya.

Menurut Harmanta, Covid-19 tidak hanya memengaruhi demand-side, tetapi juga supply-side. Karena itu, pekerja dan pengusaha harus bersama-sama berupaya menjaga stabilitas produksi. Juga, mempertahankan pola konsumsi kaum pekerja. Terutama masya-rakat kelas menengah.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) V-Jatimbalinus (Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara) memastikan stok BBM dan LPG aman meski WFH berlaku di instansi mereka. Unit Manager Communication CSR MOR V-Jatimbalinus Rustam Aji menuturkan bahwa pemenuhan kebutuhan energi masyarakat berjalan normal.

Rustam telah menyiapkan strategi penyaluran bila sewaktu-waktu perlu memasok kebutuhan ke daerah-daerah tertentu. Secara nasional, rata-rata ketahanan stok BBM dan LPG untuk seluruh produk lebih dari 20 hari.

“Kami juga telah menerapkan fit to work dan cek kesehatan untuk awak mobil tangki yang mendistribusikan BBM,” jelasnya.