[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus Corona

[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus Corona

Terbaiknews - JakartaIDN Times - Satgas Penanganan COVID-19 melaporkanper Kamis (23/7/2020)jumlah suspect...

Jakarta, IDN Times - Satgas Penanganan COVID-19 melaporkan, per Kamis (23/7/2020), jumlah suspect atau orang yang berstatus terduga positif COVID-19 di Indonesia naik menjadi 47.756 orang. Sehari sebelumnya jumlah suspect sebanyak 44.222 orang.

Menurut perbaruan dari Kementerian Kesehatan, istilah suspect adalah orang yang diduga terpapar COVID-19, dengan ciri-cirinya berasal dari zona merah dan mengalami gejala ringan, atau sama seperti Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Secara kesuluruhan Indonesia memiliki 320 laboratorium, yang terdiri dari 158 RT PCR, 138 TCM, serta 24 laboratorium RT PCR dan TCM untuk memeriksa virus corona.

1. Sebanyak 27.815 spesimen dites COVID-19 hari ini

[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus CoronaProses para ibu hamil ikuti tes swab PCR di Gelora Pancasila, Selasa (21/7/2020). Dok BPB dan Linmas Kota Surabaya

Satgas Penanganan COVID-19 mencatat, sejak 22 Juli 2020 pukul 12.00 WIB hingga 23 Juli 2020 pukul 12.00 WIB, jumlah spesimen yang sudah dites COVID-19 sebanyak 27.815 spesimen. Sebanyak 27.495 diperiksa melalui tes PCR dan 320 melalui TCM.

Sebanyak 35 lab yang belum melaporkan hasil pemeriksaan PCR. Lab tersebut tersebar di Kota Yogyakarta, Jakarta, Jambi, Bogor, Sukabumi, Cilacap, Purwokerto, Probolinggo, Bangkalan, Surabaya, Mojokerto, Samarinda, Balikpapan, Batam, Bandar Lampung, Kupang, Sorong, Pekanbaru, Makassar, Palembang, dan Medan.

2. Kasus positif COVID-19 di Indonesia terus naik, saat ini sudah mencapai 93.657 kasus

[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus CoronaIlustrasi tes PCR. Humas Pemprov Sulteng

Dari jumlah pemeriksaan spesimen tersebut, kasus positif COVID-19 naik 1.906 asus hari ini. Dengan demikian, kasus COVID-19 di Indonesia telah mencapai 93.657 kasus.

Angka kematian juga meningkat di Indonesia, menjadi 4.576 kasus. Walaupun demikian, kasus sembuh juga terus naik dan sekarang berada di angka 46.977 orang.

3. Sebaran kasus COVID-19 di 34 provinsi Indonesia

[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus CoronaSeorang dokter berjalan di dekat alat tes swab virus corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020) ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Virus corona telah menyebar di 34 provinsi di Indonesia. Berikut ini data rincian penyebaran kasus virus corona hari ini:

1. Aceh 158 kasus
2. Bali 2.996 kasus
3. Banten 1.707 kasus
4. Bangka Belitung 182 kasus
5. Bengkulu 195 kasus
6. Yogyakarta 496 kasus
7. DKI Jakarta 18.068 kasus
8. Jambi 136 kasus
9. Jawa Barat 5.824 kasus
10. Jawa Tengah 8.021 kasus
11. Jawa Timur 19.450 kasus
12. Kalimantan Barat 359 kasus
13. Kalimantan Timur 1.034 kasus
14. Kalimantan Tengah 1.475 kasus
15. Kalimantan Selatan 5.332 kasus
16. Kalimantan Utara 218 kasus
17. Kepulauan Riau 349 kasus
18. Nusa Tenggara Barat 1.822 kasus
19. Sumatera Selatan 3.165 kasus
20. Sumatera Barat 849 kasus
21. Sulawesi Utara 2.120 kasus
22. Sumatera Utara 3.263 kasus
23. Sulawesi Tenggara 712 kasus
24. Sulawesi Selatan 8.527 kasus
25. Sulawesi Tengah 200 kasus
26. Lampung 246 kasus
27. Riau 350 kasus
28. Maluku Utara 1.345 kasus
29. Maluku 1.010 kasus
30. Papua Barat 386 kasus
31. Papua 2.724 kasus
32. Sulawesi Barat 171 kasus
33. Nusa Tenggara Timur 137 kasus
34. Gorontalo 620 kasus.

Sementara, dalam proses verifikasi lapangan 10 kasus.

4. Gejala dan cara pencegahan virus corona

[UPDATE] 47.756 Orang di Indonesia Diduga Terpapar Virus CoronaAntrean untuk tes asam nukleat di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada 16 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama Virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019. Virus ini telah menyebar ke wilayah lain di Tiongkok dan ratusan negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang mampu membunuh Virus Corona. Kendati, persentase kesembuhan COVID-19 cukup tinggi. Di beberapa negara seperti Vietnam angka kesembuhannya mencapai 100 persen. Bahkan, beberapa pakar kesehatan menyebut COVID-19 bisa sembuh sendiri jika imun penderitanya bagus. Sebaliknya, rata-rata angka kematian akibat corona berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Selasa (17/3), sebesar 4,07 persen. Sementara di Indonesia, hingga Kamis (19/3) mencapai 8,37 persen.

Bagaimana gejala virus corona? Infeksi COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Tapi dalam beberapa kasus, pasien positif Corona tak menunjukkan gejala khusus.

Hari pertama, penderita virus corona mengalami demam atau suhu tinggi, nyeri otot, dan batuk kering. Sebagian kecil diare atau mual beberapa hari sebelumnya. Ada juga yang hilang penciuman. Hari kelima, penderita kesulitan bernapas, terutama penderita lansia atau mereka yang memiliki penyakit kronis.

Hari ketujuh, menurut penelitian Universitas Wuhan, gejala yang dialami penderita mulai semakin parah. Penderita biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Hari kedelapan, penderita dengan kasus yang parah memperlihatkan sindrom gangguan pernapasan akut. Paru-parunya dipenuhi cairan dan kesulitan bernapas hingga menyebabkan gagal napas.

Hari ke-10, penderita dengan kasus ringan mengalami sakit perut dan kehilangan napsu makan. Hanya sebagian penderita yang meninggal dunia. Hari ke-17, rata-rata penderita sembuh dari virus corona dan keluar dari rumah sakit.

Bagaimana mencegah virus corona? Sering mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker bila batuk atau pilek, mengonsumsi gizi seimbang, hati-hati kontak dengan hewan, cukup istirahat dan olahraga, jangan konsumsi daging mentah, bila batuk, pilek, dan sesak segera ke fasilitas kesehatan.

Perlu diwaspadai juga bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis 9 Juli 2020 mengonfirmasi, COVID-19 dapat menular melalui udara (airborne). Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa penyakit tersebut cepat menyebar ke seluruh dunia.

Karena itu, pada hari yang sama, WHO merilis panduan baru mengenai penularan COVID-19 melalui situs resminya. Ada beberapa pembaharuan yang perlu kamu tahu.

Penularan utama COVID-19 tetaplah melalui kontak dengan pasien. Baik kontak langsung, tidak langsung, atau berada di dekat mereka. WHO menyatakan hal ini terjadi karena pasien COVID-19 mengeluarkan droplet dari saluran pernapasan ketika berbicara, batuk, bersin, atau menyanyi.

Cairan dari pernapasan tersebut bisa dibagi menjadi dua macam, yakni respiratory droplet (berukuran lebih dari lima hingga sepuluh mikrometer) dan droplet nuclei atau aerosol (berukuran kurang dari lima mikrometer).

Respiratory droplet dapat mengenai orang lain yang berada dalam radius satu meter dengan pasien. Ketika cairan itu mengenai mata, hidung, dan mulut, maka besar kemungkinan mereka tertular. Sementara, droplet nuclei atau aerosol ditularkan melalui udara.

Kita sering mendengar istilah airborne, apa artinya?WHO menyatakan transmisi airborne terjadi ketika virus disebarkan melalui droplet nuclei atau aerosol yang tetap bisa menular ketika dilepaskan ke udara. Selain itu, droplet nuclei bisa menggantung di udara dalam jarak dan waktu lama.

Sebelumnya, WHO juga menyatakan transmisi ini dimungkinkan ketika kita berada di lingkungan rumah sakit. Sebab ada sejumlah prosedur medis yang menghasilkan aerosol. Namun lingkup tersebut kini membesar.

Mengutip laporan WHO, ada beberapa studi yang dilakukan di rumah sakit untuk mengamati keberadaan virus di udara. Ternyata walaupun tidak ada prosedur medis yang melibatkan aerosol, RNA SARS-CoV-2 tetap ditemukan di udara. Namun ada pula studi yang menentangnya.

Terdapat pula bukti bahwa aerosol juga diproduksi ketika kita berbicara dan batuk. Karena itu, walaupun studi mengenai sifat airborne dari COVID-19 masih terbatas, ada baiknya untuk tetap menerapkan pencegahan berbasis airborne.

Penularan airborne utamanya terjadi di ruangan yang tertutup, ramai, dan tidak ada ventilasi yang memadai. Contohnya ruangan gym, restoran, ruangan dengan pendingin AC, dan lain sebagainya.

Sementara Kepala Lembaga Biologi Molekuler EIjkman Prof Amin Soebandrio menyebutkan penyebaran COVID-19 melalui udara bukan penemuan baru. Dia sudah mencurigai sejak awal kemunculan COVID-19.

"Jika ada droplet (percikan ludah) kemudian ada aliran udara yang cukup kuat (COVID-19) bisa terbawa angin dan terbang karena volumenya jadi lebih kecil, relatif ringan karena kadar airnya berkurang," ujar dia saat dihubungi IDN Times, Selasa 7 Juli 2020.

Amin menerangkan COVID-19 bisa keluar bersama droplet yang dihasilkan ketika bersin atau batuk. Droplet yang menempel pada benda-benda yang tersentuh orang lain, bisa menularkan virus corona.

Namun, sebagian virus corona menyebar lewat udara (airborne) saat droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

"Sebagian besar memang menular melalui droplet, tapi dalam situasi tertentu bisa. Seperti di rumah sakit saat dilakukan prosedur pemasangan ventilator, penghisapan lendir, atau terapi nebulizer," jelas Amin.

Jika membutuhkan beberapa nomor telepon terkait virus corona, kamu bisa menghubungi beberapa nomor penting ini, yakni Hotline kemenkes (+62 812 1212 3119, 119 ext 9, (021) 521 0411), atau mengunjungi beberapa situs terkait virus corona antara lain kemkes.go.id, arcgis.org, jakarta.go.id, healthmap.org, jabarprov.go.id, cdc.gov, jhu.edu. Kamu juga bisa mengunjungi web resmi pemerintah daerah untuk mencari informasi terkait perkembangan virus corona di daerah kamu tinggal.