Tidak Bisa Mudik Picu Gangguan Jiwa Akibat Kangen Kampung

Tidak Bisa Mudik Picu Gangguan Jiwa Akibat Kangen Kampung

Terbaiknews - LOLOS: Anggota Satlantas Polresta Banyuwangi memeriksa surat sehat seorang pemudik dari Bali di pintu keluar Pelabuhan ASDP KetapangJumat (15/5). (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi)

– Mudik merupakan salah satu tradisi yang biasa dilakukan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun, tahun ini mudik dilarang sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan. Hal ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran dan penularan Covid-19. Kondisi ini bisa memengaruhi kondisi jiwa atau psikologis seseorang.

Psikiater dr. Gina Anindyati, Sp.KJ, mengatakan sebenarnya pada setiap periode, ada saja orang-orang yang tidak dapat mudik atau tidak memungkinkan untuk mudik. Bedanya, karena pandemi seperti saat ini, banyak orang diharuskan tetap berada di rumah saja dan tidak mudik untuk mencegah penyebaran dan penularan Coronavirus.

â&;&;Jika ditanya apakah ada pengaruh dengan kondisi kejiwaan seseorang, bisa saja ada. Apalagi bagi orang-orang yang menggunakan mudik ini sebagai salah satu kesempatan untuk bertemu dengan keluarga atau orang terdekat. Karena situasi ini tidak memungkinkan atau terpaksa tidak mudik, bisa muncul perasaan sedih, kecewa, penyesalan, atau tidak nyaman. Ini wajar dan manusiawi,â&;&; jelas dr. Gina dalam keterangan tertulis dari GueSehat, Kamis (21/5).

Bisa saja memang adanyang sanggup beradaptasi. Hal ini karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang adaptif atau bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi tertentu. Namun, ada pula orang-orang tertentu yang memiliki kerentanan sehingga akan merasa lebih kesepian, tidak berdaya, atau frustrasi.

â&;&;Kalau kita bicara dalam konteks mudik, masalah yang mungkin timbul ialah kesepian (loneliness). Loneliness ini bukanlah gangguan jiwa. Ini merupakan fenomena yang berisiko dan jika terjadi berkepanjangan serta tidak diatasi, maka akan menimbulkan masalah kejiwaan yang lebih berat, seperti gejala depresi atau kecemasan,â&;&; ungkap dr. Gina.

Kesepian akan menjadi gangguan jiwa jika ada kondisi lainnya yang memengaruhi, seperti kondisi fisik yang tidak fit, kesulitan untuk menyelesaikan masalah, dan bisa juga dipengaruhi lingkungan sosial.

â&;&;Pengaruh lingkungan sosial ini misalnya ia tidak punya orang-orang yang dapat dipercaya atau tinggal di lingkungan yang tinggi kekerasannya. Ini akan menjadi stresor atau menambah tekanan sehingga risiko mengalami gangguan semakin besar,â&;&; ujarnya.

Memunculkan Fenomena Homesick

Sedangkan, menurut Psikolog Klinis Alexandra Gabriella A., M.Psi, C.Ht, C.ESt, gangguan psikologis baru dapat ditegakkan jika sudah terjadi dalam kurun waktu tertentu, seperti dua minggu, tiga bulan, atau tiga bulan. â&;&;Jika seseorang tidak mudik dan bagaimana pengaruhnya pada kondisi psikologis, yang jelas kita tidak bisa berbicara mengenai diagnosa. Tapi, lebih kepada perasaan yang dialami, seperti kesepian (loneliness), kekecewaan, atau kehilangan harapan,â&;&; tambahnya.

Tidak hanya kesepian, seseorang yang tidak mudik juga bisa merasakan homesick. â&;&;Homesick merupakan perasaan rindu dengan situasi saat di kampung halaman, bisa rindu dengan orang tua, orang-orang sekitar, makanannya, lingkungannya, atau nuansanya. Namun, orang-orang yang homesick ini tidak dialami oleh mereka yang tidak mudik saja,â&;&; jelas dr. Alexa.

Lantas, apakah homesick bisa meningkatkan risiko terhadap gangguan psikologis tertentu? Alexa menjelaskan, homesick dapat menjadi stresor saat seseorang memiliki ekspektasi untuk bisa pulang dan merasakan apa yang biasa dilakukan di kampung halamannya tersebut, namun ekspektasi itu tidak tercapai sehingga timbul rasa kecewa yang bisa menyebabkan frustrasi.

â&;&;Rasa frustrasi itu bisa membuat seseorang memiliki masalah psikologis, seperti depresi. Apalagi kalau kondisi ini memang sudah terjadi beberapa minggu secara berturut-turut dan mood atau suasana hatinya sama. Selain itu, orang-orang yang homesick ini bisa juga mengalami insomnia karena selalu berpikir tidak bisa pulang,â&;&; ungkap Alexa.

Solusinya

Seperti yang diketahui, salah satu masalah kejiwaan atau psikologis yang rentan dialami seseorang yang tidak mudik ialah kesepian (loneliness). Menurut Psikiater dr. Gina Anindyati, Sp.KJ, kondisi mental atau kejiwaan tidak terpisah dengan kondisi fisik kita.

â&;&;Kita perlu menjaga diri kita baik-baik. Paling pertama, jaga kesehatan fisik terlebih dahulu, usahakan istirahat yang cukup, makan bergizi, dan lakukan aktivitas fisik secara rutin,â&;&; ungkapnya.

Ia menambahkan, usahakan juga untuk punya kegiatan yang rutin dilakukan setiap hari di rumah dan cobalah untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, atau teman. â&;&;Bisa berkomunikasi melalui telepon, saling mengirimkan paket atau makanan khas saat Lebaran. Hal ini untuk mencegah rasa kesepian akibat tidak mudik,â&;&; terang dr. Gina.

Jika rindu dengan keluarga atau merasa homesick karena tidak bisa mudik, Psikolog Klinis Alexandra Gabriella A., M.Psi, Psikolog, C.Ht, C.ESt menyarankan untuk menghabiskan waktu dan merayakan kebersamaan dengan orang-orang yang memiliki nasib yang sama. â&;&;Cobalah tetap terhubung secara virtual dan mengobrol dengan orang-orang yang juga tidak bisa mudik dan dengan keluarga di kampung halaman,â&;&; jelasnya.

Dengan tetap terhubung dengan teman yang juga tidak bisa mudik atau dengan keluarga, seseorang tidak akan merasa kesepian dan homesick. â&;&;Jadi, rasanya tetap dekat dengan mereka. Kalau bisa, usahakan juga untuk saling berbagi, coba lebih banyak menyumbang. Saat berbagi, kita diingatkan kembali betapa banyak anugerah yang diberikan pada kita,â&;&; tutup Alexa.

Saksikan video menarik berikut ini: