Taufik: Mestinya Istri Terbang dengan NAM Air Bukan Sriwijaya Air

Taufik: Mestinya Istri Terbang dengan NAM Air Bukan Sriwijaya Air

Terbaiknews - ILUSTRASI: Petugas membawa kantung jenazah korban pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICTTanjung PriokJakartaMinggu (10/1/2021). Selain itu jenazahpetugas juga menemukan bagian pesawat yang selanjutnya akan diperiksa oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

– Musibah jatuhnya pesawat Sriwiajaya Air SJY-182 rute Jakarta-Pontianak di Pulau Laki Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1), menyisakan sejumlah cerita pilu keluarganya. Tak terkecuali bagi keluarga Panca Widia Nursanti, 47, di Desa Surokidul Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal maupun di Pontianak.

Korban yang merupakan guru di SMKN 3 Pontianak, sedianya hendak terbang kembali ke Pontianak, usai pulang kampung ke rumah keluarganya di Kabupaten Tegal. Setelah sekitar semingguan berada di kampung halamannya itu, korban dijadwalkan terbang menggunakan Nam Air pukul 06.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta.

Suami korban, Taufik Yusuf Alidrus mengatakan istrinya awalnya akan pulang ke Pontianak menggunakan pesawat Nam Air pukul 06.00 WIB. Itulah sebabnya dari kampung halaman di Slawi, Tegal, istrinya menumpang travel berangkat, Jumat (8/1) malam, sekitar pukul 20.00 WIB.

“Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1), pukul 04.00 WIB. Rencananya pukul 06.00-07.00 WIB, akan terbang menggunakan Nam Air,” ungkapnya seperti diberitakan Radar Tegal (Jawa Pos Group), Senin (11/1).

Tetapi penerbangan didelay hingga pukul 13.25 WIB, dan masih didelay lagi sampai pukul 14.05 baru masuk pesawat. Menurut Taufik, pergantian pesawat dari Nam Air ke Sriwijaya Air juga tidak diketahu pasti alasannya. Istrinya hanya mengabarkan dari pihak maskapai langsung menggantikan penerbangannya ke pesawat Sriwijaya Air. Sebelum take off, istrinya sempat mengabarkan kondisi cuaca kurang baik dan meminta didoakan.

Diungkapkan Taufik, setelah istrinya mengabarkan akan siap-siap terbang, diapun langsung berangkat menuju Bandara Soepadio Pontianak. Pukul 14.30 WIB, dia sudah sampai ke bandara dan melihat di tagline informasi kedatangan pesawat ada perubahan.

Hanya saja, papar Taufik, perasaannya saat itu sangat tidak enak dan sampai pukul 15.30 WIB belum ada kabar. Di bandara pun sama sekali tidak ada kabar yang didapatkan saat itu, karena semua petugas di sana tak berani mengeluarkan komentar apapun.

“Sampai kemudian tak lama kemudian tersiar kabar bahwa pesawat Sriwijaya Air 182 mengalami lost contact dengan otoritas bandara,” ungkapnya.

Saat ini, dia sudah melakukan tes DNA dan mengumpulkan data-data pribadi istrinya untuk mengidentifikasi korban sambil menunggu informasi lebih lanjut. Taufik menambahkan keluarganya memang secara kontinyu bergantian berlebaran di Pontianak dan Slawi.

Hanya karena tahun 2020 kemarin ada pandemi Covid-19, keluarganya baru berkesempatan ke Slawi, Tegal di awal tahun ini. Sebenarnya mereka berniat pulang ke Desa Surokidul Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal bersama-sama. “Tapi anak-anak tidak mau diajak, sehingga istri saya pulang sendirian ke Jawa,” ujar Taufik.