Survei, 1 dari 5 Orang Berpikir Lebih Baik Mati karena Beban Mental

Survei, 1 dari 5 Orang Berpikir Lebih Baik Mati karena Beban Mental

Terbaiknews - ILUSTRASI. Survei: usia 17- 29 tahun dan kurang dari 60 tahun rentan terhadap munculnya masalah psikologis. Esktremnya1 dari 5 orang memiliki pemikiran lebih baik mati. (Better Health/Getty/Yoann JEZEQUEL Photography)

– Masalah mental atau gangguan kejiwaan bisa memengaruhi kesehatan fisik secara keseluruhan. Saat seseorang sudah stres dan dirundung masalah yang rumit, justru bisa membuat mereka putus asa. Bahkan berpikir esktrem ke arah kematian atau bunuh diri.

Psikiater dr.Lahargo Kembaren, SpKJ yang juga Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor menerangkan, ditemukan gejala cemas, depresi, dan trauma psikologis merupakan masalah psikologis yang terbanyak.

Hal ini berdasarkan Survei Swaperiksa Masalah Psikologis selama 5 bulan terakhir. Survei tersebut mendapati64,8 persen responden mengalami masalah psikologis. Seperti gejala cemas, depresi, dan trauma psikologis.

  • Ketahui 7 Penyebab Seseorang Bisa Alami Gangguan Mental

Kemudian usia 17- 29 tahun dan kurang dari 60 tahun adalah usia yang rentan terhadap munculnya masalah psikologis. Esktremnya, 1 dari 5 orang memiliki pemikiran tentang lebih baik mati.

Lalu 15 persen orang memikirkan lebih baik mati setiap hari. Dan mirisnya, usia yang terbanyak memikirkan kematian adalah usia produktif yakni 18-29 tahun.

“Mari kita juga menghindari memberikan stigma dan diskriminasi bagi orang dengan gangguan jiwa karena mereka dan keluarganya sudah cukup menderita dengan gangguan jiwa yang dialaminya,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Data di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 1 dari 4 orang terkena gangguan jiwa dalam 1 fase dalam hidupnya. Setiap 40 detik ada orang yang meninggal karena bunuh diri. Setiap tahun ada 800 ribu orang mati karena bunuh diri di seluruh dunia.

Dalam laman resmi WHO, baru-baru ini juga dikeluarkan pedoman baru yang merekomendasikan serangkaian intervensi psikososial untuk meningkatkan kesehatan mental dan mencegah kondisi kesehatan mental di kalangan remaja, usia 10-19 tahun. Kaum muda juga menjadi prioritas utama WHO.

Perhatian khusus diberikan kepada remaja yang berisiko tinggi dan mengalami gangguan mental atau menyakiti diri sendiri karena terpapar masalah. Remaja bisa mengalami situasi kehidupan yang rumit seperti kehamilan di luar nikah. Apalagi emosi mereka masih tidak terkendali.

Intervensi yang direkomendasikan dapat diberikan di sekolah dan lingkungan masyarakat dan melalui platform digital. Bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga pada usia 15-19 tahun.

Dan itu memiliki dampak jangka panjang. Kesehatan mental yang buruk pada masa remaja merupakan salah satu dari sejumlah faktor yang mempengaruhi perilaku pengambilan risiko. Termasuk melukai diri sendiri, penggunaan tembakau, alkohol dan obat-obatan, perilaku seksual berisiko, dan paparan kekerasan. Efek dari semua ini tetap ada dan dapat memiliki implikasi serius sepanjang hidup.

Kaum muda menghadapi lingkungan sosial, budaya dan ekonomi yang semakin kompleks, dengan tantangan yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan keluarga, ketidakstabilan pekerjaan dan pengangguran di rumah tangga mereka. Remaja perempuan dua kali lebih mungkin terkena gangguan mental dibandingkan remaja laki-laki. WHO dan UNICEF sedang mengembangkan perangkat untuk memfasilitasi penerapan pedoman baru untuk mengatasi masalah ini.

Saksikan video menarik berikut ini: