Strategi Investasi di Pasar Modal Saat Pendemi Covid-19

Strategi Investasi di Pasar Modal Saat Pendemi Covid-19

Terbaiknews - Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta. (Dok.Dery Ridwansah/JawaPos.com)

JawaPos.com – Setelah sempat jatuh ke level 3.000 pada akhir Februari 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali pulih dengan kembali ke level 5.000 saat ini. Pada perdagangan Jumat (24/7), IHSG di tutup di level 5.082,99.

Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Adiwarman Karim dihadapan 1500 investor diacara IPOT Online Gathering mengatakan di tengah Pandemi investor perlu cerdas dalam mencari dan memilih emiten. Menurutnya, sejumlah perusahaan tetap punya prospek yang baik ke depannya. Seperti perusahaan yang selama pandemi Covid-19 bisa beralih dengan cepat untuk menjual produknya secara online, atau memilih perusahaan yang bisa menghasilkan produk yang berbeda, serta memilih perusahaan yang berani menggunakan infrastruktur yang berbeda untuk berkembang.

“Kita harus seyakin-yakinnya bahwa hidup ini ada yang mengatur. Kehidupan itu ada yang ngatur yakni Allah. Yang penting itu tidak boleh berhenti melakukan kebaikan. Mau keadaan susah atau bagus harus tetap investasi karena investasi itu salah satu kebaikan,” ujar Adiwarman dalam paparannya mengurai 5 strategi memburu berkah di tengah wabah.

Head of Marketing IPOT dari PT Indo Premier Sekuritas, Paramita Sari menegaskan kegiatan daring yang dilakukan bertujuan meningkatkan kembali kepercayaan diri para investor untuk kembali berinvestasi di pasar modal di masa pandemi Covid-19.

“Kepercayan diri investor perlu dibangun di tengah kelesuan perekonomian dunia. Salah satunya dengan mengupgrade ilmu dari pakarnya. Melalui acara ini Indo Premier ingin membekali nasabah dengan pengetahuan yang baru,” tandasnya.

Sementara Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara yang mengulas topik “Emergencynomics” mengulas kondisi pasar modal yang mendukung strategi investasi investor di masa pandemi dengan menelisik situasi global dan domestik di masa pandemi, kebijakan fiskal yang memengaruhi pasar modal dan tren investasi paska pandemi.

Menurutnya, situasi di Indonesia memang masih emergensi, apalagi kurva Covid-19 masih naik dan recovery krisis di era new normal masih sangat tergantung pada kecepatan dalam penanganannya.

Ia berpandangan bahwa dari sisi makro tidak menutup kemungkinan terjadi koreksi IHSG, khususnya pada saham-saham BUMN yang non-keuangan. Tetapi kalau mau membaca dengan teliti maka saat ini sebenarnya ada beberapa saham yang justru bukan saham-saham blue chip mengalami kenaikan wajar di tengah pandemi Covid-19.

“Ketika melihat laporan keuangannya, analisis fundamentalnya dan korelasinya dengan makro ekonomi, ternyata ada saham-saham yang performanya relatif masih oke di tengah pandemi Covid-19,” tandas Bhima.

Secara lebih konkret ia merinci bahwa sektor yang akan menjadi primadona yakni yang terkait internet dan hosting, termasuk di dalamnya informasi dan komunikasi. Kemudian ada juga sektor makanan dan minuman.

Sektor kesehatan pun menurutnya masih menjadi primadona. Satu hal yang cukup menarik terkait ini, kesehatan ternyata punya turunannya sampai ke level sport atau olahraga, seperti sepeda dan aksesoris sepeda.

Sektor berikutnya yakni yang berkaitan dengan otomotif dan elektronik. Otomotif mengarah ke otomotif ramah lingkungan. Artinya, elektronik dan mobil listrik akan membutuhkan baterai yang jumlahnya cukup besar. Karena itu, kebutuhan energi ke depan ini bukan hanya oil, tetapi juga baterai. Khusus nikel, pungkasnya, akan menjadi industri yang booming paska pandemi.