Soal Pembiayaan Macet Bank Syariah, OJK: Masih Batas Aman

Soal Pembiayaan Macet Bank Syariah, OJK: Masih Batas Aman

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakanpertumbuhan pembiayaan perbankan...

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah per Mei 2020 cukup meningkat signifikan. Hal ini juga berdampak pada pelemahan kualitas pembiayaan perbankan syariah, di mana rasio non-perfoming financing (NPF) secara perlahan naik ke level 3,31%.

Kendati demikian, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Teguh Supangkat mengatakan bahwa NPF yang terjadi di Bank Syariah masih dalam batas aman.

"Melihat bahwa angka NPL/NPF pada kisaran 3%, ini masih relatif aman. Memang ini sedikit berbeda di antar syariah dan konvensional," kata Teguh dalam acara diskusi virtual yang diselenggarakan Indef, Kamis (23/7/2020).


Adapun, per Mei 2020, pertumbuhan pinjaman yang diterima (PYD) di bank syariah sebesar 10,14% year to date (ytd), kemudian pada sisi aset juga masih tumbuh mencapai 9,35% ytd, dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 9,24% ytd.

Meski NPF/NPL tersebut juga ikut melonjak, namun Teguh menilai bahwa, hal itu juga merupakan dampak dari proses yang sudah dilakukan sebelumnya. Di amna ada proses hapus buku.

"Di tahun-tahun sebelumnya, di syariah itu, ada proses hapus buku. Sehingga ada beberapa pembaginya berkurang," tuturnya.

Kendati demikian, Teguh memastikan bahwa rasio non-perfoming financing (NPF) yang kini sudah menyentuh 3,31%, masih terbilang dalam batas wajar dan aman.

"Risiko kredit masih aman, ukuran NPL 5% netnya, dan NPL gross [perbankan syariah] masih 3%. Kita selalu meningkatkan prinsip kehati-hatian dan rivisi aturan prudensialnya dan kedepan kondisi covid, dengan POJK 11, saya rasa bisa mengatasi terkait dengan sisi sektor rill dan banknya," jelas Teguh.

Dalam sebuah webinar terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani justru menyoroti adanya pembiayaan macet atau Non Performing Financing (NPF) di perbankan syariah.

"Kenaikan risiko perbankan syariah dalam bentuk NPF jadi salah satu yang menentukan kemampuan bertahan dan bangkit lagi," ujar Sri Mulyani di diskusi virtual, Kamis (23/7/2020).

Selama ini, perempuan yang juga sekaligus menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi (IAEI) menjelaskan, pembiayaan bank syariah mayoritas disalurkan ke sektor yang bukan lapangan usaha.

Sektor tersebut adalah sektor yang saat ini ikut tertekan pandemi Covd-19 sehingga risiko pembiayaan macet harus diwaspadai. Di antaranya, rumah tinggal Rp 83,7 triliun dan peralatan rumah tangga lain termasuk multiguna Rp 53,8 triliun. Sedangkan untuk sektor lapangan usaha seperti perdagangan besar dan eceran capai Rp 37,3 triliun, konstruksi Rp 32,5 triliun dan industri pengolahan Rp 27,8 triliun.

Oleh karena itu, menurut Sri Mulyani kondisi perbankan syariah perlu untuk merevisi target pertumbuhannya seperti bank umum lainnya. Sebab, bank syariah pada tahun lalu mampu tumbuh double digit, maka akan sulit dicapai dengan kondisi saat ini.

"Tahun 2019 tumbuh double digit dengan market share di atas 5%. Saat ini perbankan syariah harus mulai revisi target pertumbuhan sama seperti perbankan lain. Selain itu karena peningkatan risiko lembaga keuangan syariah karena pandemi dan kemerosotan kegiatan ekonomi," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)