Sektor Usaha Masih Tertekan, Pertumbuhan Kredit Alami Penurunan

Sektor Usaha Masih Tertekan, Pertumbuhan Kredit Alami Penurunan

Terbaiknews - Ketua Dewan Komisioner Wimboh Santoso (YouTube/Jasa Keuangan)

Jawa Pos.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis kondisi terkini sektor jasa keuangan. Pertumbuhan kredit selama Oktober terkontraksi minus 0,47 persen year-on-year (yoy). Tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 masih sangat terasa.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, lesunya pertumbuhan kredit tersebut mengindikasikan permintaan kredit perbankan masih rendah. Dari sisi permintaan, perekonomian belum pulih meski mobilitas masyarakat membaik. “Konsumen masih menahan belanja. Sehingga, sisi produksi belum menunjukkan peningkatan kapasitas yang signifikan,” katanya Jumat (27/11).

Sejauh ini, penyerapan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) sudah lebih dari 50 persen. Itu tersalurkan untuk belanja program perlindungan sosial, pembiayaan UMKM, serta dukungan sektoral atau pemerintah daerah (Pemda).

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) masih terus berusaha meminimalkan cost of fund perbankan dengan menurunkan suku bunga Bank Indonesia 7 day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR). Tren penurunan suku bunga perbankan tersebut juga direspons oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan suku bunga penjaminan.

“Ke depannya, masuknya fase pemulihan atau ekspansi pada siklus kredit perbankan akan sangat dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi nasional,” terang Josua.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso melaporkan, perbankan mencatatkan kredit baru sebesar Rp 130,92 triliun. Tapi, tingginya pelunasan dan hapus buku oleh perbankan untuk memitigasi risiko, juga menyebabkan pertumbuhan kredit terkontraksi. Kontraksi kredit tersebut disebabkan menurunnya kredit modal kerja. “Dampak masih tertekannya permintaan pada sektor usaha,” terangnya.

Meski Resesi 7 Sektor Usaha Ini Tumbuh, Jasa Kesehatan Paling Melesat

OJK berkomitmen mendorong fungsi intermediasi perbankan pada beberapa sektor usaha yang mulai pulih. Di antaranya, sektor asuransi dan dana pensiun, jasa penunjang perantara keuangan, industri kimia, farmasi dan obat tradisional.

Data Oktober menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh pada level tinggi. Yakni, sebesar 12,12 persen yoy. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan DPK bank BUKU IV yang mencapai 13,79 persen yoy.

Saksikan video menarik berikut ini: