Raja Salman Disuntik Vaksin Pfizer, Usianya 85 Tahun Aman?

Raja Salman Disuntik Vaksin Pfizer, Usianya 85 Tahun Aman?

Terbaiknews - JakartaCNBCÂIndonesia - Raja Arab SaudiSalman bin Abdulaziz Al Sauddilaporkan telah...

Jakarta, CNBCÂIndonesia - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, dilaporkan telah menerima suntikan vaksin Covid-19. Dalam suntikan ini, Raja Arab Saudi itu menggunakan vaksin besutan Pfizer-BioNTech.

Menteri Kesehatan Tawfiq Al RabiahÂmengatakanÂRaja Salman menerima suntikan vaksin itu di kota Neom.

"Hari ini [Sabtu], raja menerima vaksin untuk mencegahnya menerima virus, dan inisiatif ini menegaskan kebijakan Kerajaan selalu pencegahan sebelum pengobatan," ujar Al RabiahÂDikutip Arab News, Sabtu (9/1/2021)


"Terima kasih kepada raja yang telah memberikan semua jenis dukungan untuk kepentingan warga dan warga sejak awal pandemi hingga saat ini," tambahnya.

Sementara itu Putra Mahkota Mohammed bin SalmanÂ(MBS) dan Pangeran Khalid bin Salman, bersama dengan beberapa pejabat senior Saudi lainnya, telah mengambil dosis pertama vaksin mereka.

Sejauh ini satu juta orang telah mendaftar untuk vaksin tersebut dengan lebih dari 100.000 yang diinokulasi hingga saat ini di tiga pusat vaksin di Riyadh, Makkah dan Provinsi Timur.

Arab Saudi adalah negara Teluk kedua setelah Bahrain yang menyetujui penggunaan vaksin tersebut, yang dikembangkan oleh raksasa farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech.

Kementerian Kesehatan Arab menyatakan vaksinasi akan dilakukan dalam tiga tahap dengan setiap tahap menargetkan demografi tertentu. Ini dimulai dengan orang-orang yang berusia di atas 65 tahun dan mereka yang menderita penyakit kronis atau berisiko tinggi terinfeksi.

Orang di atas 50 tahun akan divaksinasi berikutnya, dengan semua orang termasuk dalam tahap ketiga. Pemerintah pun menambahkan bahwa vaksin itu gratis untuk warga dan penduduk.

Dilansir dari AFP, Saudi Press Agency juga memberitakan dosis vaksin corona pertama telah diberikan kepada Raja Salman yang sudah berusia 85 tahun. Media resmi menerbitkan gambar dan video yang menunjukkan raja menerima suntikan.

Arab Saudi meluncurkan kampanye vaksinasi virus corona pada 17 Desember setelah menerima pengiriman pertama vaksin Pfizer-BioNTech.

Negara kerajaan ini telah mencatat lebih dari 363.000 kasus virus corona baru, termasuk lebih dari 6.000 kematian. Ini menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara Teluk Arab.

Lantas dengan usia 85 tahun, amankah vaksin Pfizer?

Sebelumnya vaksin Pfizer didera kabar soal adanya alergi bagi penerima vaksin ini di Inggris. Sebab itu,ÂBadan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (Medicines and Healthcare products Regulatory Agency/MHRA) sempatÂmenyarankan bahwa orang dengan reaksi alergi yang signifikan tidak mendapatkan vaksin ini sebagai pencegahan.

Dalam keterangannya, Pfizer mengatakan telah mendapatkan laporan dari MHRA tentang reaksi alergi.

Namun demikian PfizerÂmengatakan selama uji coba fase 3 terhadap lebih dari 40.000 orang, dalam laporan uji klinisnya disebutkan vaksin ini secara umum dapat ditoleransi dengan baik tanpa masalah keamanan yang serius.

Seperti diketahui,ÂInggris menjadi negara di barat yang pertama kali mendapatkan suntikan vaksin Covid setelah vaksin ini mendapatkan persetujuan penggunaan darurat. Ini juga tercatat menjadi vaksinasi terbesar yang dilakukan di negara tersebut sejak 1948.

Teknisnya, vaksin ini diberikan dalam dua dosis dengan jeda 21 hari. Prioritas utama pemberian vaksin ini adalah kepada tenaga kesehatan dan pekerja sosial serta golongan lanjut usia di atas 80 tahun.

Inggris telah menerima sebanyak 800.000 dosis dari total pesanan 40 juta dosis untuk vaksin yang ditemukan oleh Pfizer dan BioNTech ini.

Kepala eksekutif Pfizer Albert Bourla menyatakan bahwa dirinya memahami kekhawatiran global tentang kecepatan perusahaan farmasi dalam memproduksi vaksin untuk melawan Covid-19. Tapi dia menegaskan tidak ada jalan pintas yang dipotong.

"Vaksin itu telah diuji dengan cara yang persis sama seperti kami menguji vaksin apa pun yang beredar di luar sana," katanya dalam pengarahan media virtual di Jenewa, dikutip CNBC.

Bagaimana dengan di Indonesia yang menggunakan vaksin Sinovac?

Masyarakat berusia lanjut atau lebih dari 59 tahun kemungkinan akan segera bisa disuntik vaksin Covid-19. Sebab Sinovac saat ini sedang dalam tahap pengujian fase dua untuk vaksin yang diperuntukkan bagi lansia.

Dijelaskan oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito, Indonesia saat ini sedang menunggu hasil uji klinis Sinovac yang diperuntukkan bagi orang berusia lanjut

"Namun sebetulnya vaksin Sinovac juga sedang melakukan fase dua untuk lansia. Jadi kita menunggu data tersebut yang dilakukan di Brasil dan China," kata Penny Rabu (30/12/2020).

Dia menambahkan saat datanya sudah ada dan hasil uji klinik di tahap ketiga sudah baik maka akan dilakukan analisa. Dengan begitu bisa dilihat menunjukkan data aman dalam aspek keamanan dan dikeluarkan emergency use authorization khusus untuk lansia.

"Ini masalah data dari uji klinis, sudah ada pasti bisa diberikan pada umur yang lain," ungkapnya.

Sampai saat ini peruntukkan vaksin Sinovac memang hanya untuk rentan usia 18-59 tahun. Ini disebabkan karena uji klinis sebelumnya pada range umur tersebut.

Sebelumnya dalam kesempatan yang berbeda, Vaksinolog dan Dokter Penyakit Dalam, Dirga Sakti Rambe menjelaskan jika peruntukkan vaksin karena uji klinisnya melibatkan relawan dengan suami 18 sampai 59 tahun.

"Oleh karena itu dalam penggunaannya juga demikian, difokuskan lebih dulu pada usia 18-59 tahun," kata Dirga.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)