Pertunjukan Musik Virtual Indonesia Netaudio Forum

Pertunjukan Musik Virtual Indonesia Netaudio Forum

Terbaiknews - GRAFIS (BUDIONO/JAWA POS)

PADA September lalu, saya katakan kepada dirinya bahwa apa pun yang terjadi, saya harus datang ke pertunjukan musik tersebut. Maka, selepas magrib saya bersiap-siap, saya mengetikkan alamat situs pada komputer saya, lalu ’’klik, klik, dan klik’’.

Setelahnya saya memilih pakaian terbaik yang akan saya kenakan pada perhelatan tersebut. Kemeja putih, celana putih, dan tidak lupa masker putih, di kehidupan nyata saya tidak memiliki cukup kepercayaan diri untuk berpenampilan seperti ini.

Saya yang berpakaian putih-putih adalah saya yang sedang berada dalam platform pertunjukan musik virtual yang dihelat Indonesia Netaudio Forum (INF). Sedang saya yang asli tengah duduk di depan komputer, berpakaian kaus oblong dan celana pendek, seperti biasanya.

Indonesia Netaudio Forum merupakan ruang pertemuan dan pertukaran gagasan antara penggagas netlabel di seluruh Indonesia. Mereka bergerak sejak 2012. Netlabel merupakan sebuah konsep dan praktik memproduksi dan mendistribusikan musik melalui internet. Semangat yang dibawa netlabel lokal di Indonesia tidak serta-merta sama dengan semangat label musik pada umumnya. Ada semangat keterbukaan akses, imajinasi atas internet sebagai lingkungan yang demokratis, dan semangat terlepas dari dominasi label musik besar.

Pada tahun ini, Indonesia Netaudio Forum mengadakan festivalnya melalui platform virtual. Tidak seperti konser musik virtual lainnya yang biasanya hanya menyalurkan apa yang terjadi di tempat lain atau dengan cara streaming semata. Dengan acara yang bertajuk In-Game Club, INF membangun ruang di dalam sebuah platform game bernama SWGBBO.

Di sana para pengunjungnya dapat masuk, membentuk citra dirinya sesuai dengan apa yang mereka inginkan, dan hadir dalam ruang virtual dalam wujud avatar. Ruang virtual yang ada di dalam festival musik tersebut dibagi menjadi tiga: INF Garden, INF Diskotek, dan Perky Chamber. Semuanya memilik tata ruang yang menarik dan pengisi acara yang siap tampil selayaknya konser fisik. Tidak hanya pengunjung yang menampilkan dirinya dalam bentuk avatar, para pengisi acara pun demikian.

Sebagai festival musik, INF In-Game Club menampilkan pengisi acara dengan presentasi musik yang beragam. Mulai dangdut remix organ tunggal yang dihadirkan Ranger Mirwan (Lampung), deretan DJ seperti Pvrbasari (Jogjakarta), Asep Nayak (Wamena), Iramamama (Jakarta), Gabber Modus Operandi (Denpasar), serta kelompok musik seperti Rabu (Jogjakarta) dan Sundancer (Mataram) dan masih banyak lainnya. Semua penampil ini dihadirkan dalam satu hari pada 10 September 2020 sejak pukul 18.00 hingga pukul 03.00.

Selain program penampilan musik, INF In-Game Club menghadirkan program bazar solidaritas. Di ruang yang sama, para pegiat dan penggiat dapat menggunakan platform tersebut untuk menawarkan inisiasi solidaritas, iklan layanan jasa, produk kuliner, dan rilisan musiknya. Hal ini semakin membuat ruang virtual yang dihadirkan INF menjadi riuh dan semakin mendekati imajinasi tentang festival musik yang utuh.

Mengalami Masa Depan

Para pengunjung berlalu-lalang di sebuah ruang layaknya taman. Lalu masuk ke ruang pertunjukan musik. Percakapan antar pengunjung melayang di awan; saling sapa dan saling menambahkan sebagai teman. Di tengah situasi pandemi yang kita alami sekarang, festival ini berhasil menciptakan kerumunan yang hidup, menyenangkan, dan tidak membahayakan keselamatan meski tanpa anjuran untuk mematuhi protokol kesehatan.

Kehadiran perhelatan ini bukan terjadi secara tiba-tiba. INF rutin menghelat festival dua tahun sekali sejak 2012. Secara spesifik, INF memang merupakan sebuah komunitas yang meletakkan fokus utamanya pada relasi praktik dan pemaknaan seni suara di era digital dan internet. Era di mana lalu lintas karya digital semakin ramai, pemaknaan atas hak cipta harus didefinisikan ulang, dan praktik berbagi menjadi penting. Dengan visi pelestarian budaya di Indonesia melalui pengembangan karya seni suara, INF menawarkan sebuah platform untuk mengarsipkan, mendokumentasikan, menerbitkan, dan mengembangkan karya audio tersebut untuk memperkaya khazanah seni dan budaya di Indonesia.

Fokus utama dari INF ini justru mendapat momentum terbaiknya saat pandemi sekarang ini. Saat semua pihak keteteran dan gagap dalam beradaptasi dengan teknologi, saat akhirnya kita tahu bahwa program-program digitalisasi yang dilakukan beberapa instansi hanya basa-basi.

Pengetahuan dan informasi tentang perhelatan ini barangkali akan sangat terbatas pada beberapa kelompok orang yang memang benar-benar tertarik dan tahu perihal perhelatan ini. Keterbatasan server dalam menampung pengunjung pun sempat menjadi masalah dalam perhelatan ini. Belum lagi, kelancaran kita dalam mengikuti acara ini sangat tergantung pada koneksi internet yang kita miliki dan hal ini belum kita miliki secara merata. Tantangan tersebut barangkali adalah tantangan terbesar yang dimiliki INF dan sebenarnya juga merupakan persoalan struktural yang terjadi di bangsa ini.

Meskipun demikian, INF In-Game Club menghadirkan praktik nyata yang mengejawantahkan imajinasi kita tentang hal yang mungkin kita bayangkan sebagai masa depan. INF In-Game Club barangkali juga adalah sebuah jawaban tentang bagaimana isu kerumunan di tengah pandemi, tentang bagaimana perhelatan budaya dikelola dalam jaringan (online), juga tentang konsep ’’kehadiran’’ yang dapat diulang-alik, tentang ’’saya ada di rumah, tapi pada saat yang bersamaan saya juga hadir di sana’’. (*)

IRFAN R. DARAJAT,peneliti musik di LARAS dan penulis buku Nyanyian Bangsa

Saksikan video menarik berikut ini: