Penurunan Investasi Migas RI Tak Seburuk Global, Really?

Penurunan Investasi Migas RI Tak Seburuk Global, Really?

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Pandemi corona (Covid-19) membuat sektor hulu minyak dan gas bumi (migas)...

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi corona (Covid-19) membuat sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) cukup terdampak, salah satunya yaitu dengan rendahnya penyerapan migas di dunia.

Namun demikian, dampak pandemi terhadap investasi di sektor hulu migas di Tanah Air dinilai tidak seburuk yang dialami rata-rata industri hulu migas dunia.


Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan rata-rata perusahaan minyak di dunia menurunkan investasi sekitar 30% pada 2020. Sementara investasi hulu migas di Indonesia, pada 2020 turun sekitar 20%. Adapun nilai investasi hulu migas pada 2020 mencapai US$ 10,21 miliar, lebih rendah 15,6% dibandingkan target yang direncanakan sebesar US$ 12,1 miliar.

"Semua perusahaan minyak dunia turunkan investasi sekitar 30% di hulu migas. Kita masih lebih baik dari rata-rata tersebut, turun 20%-an," ujarnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Senin (11/01/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, dari sisi produksi dan lifting, untuk minyak turun sekitar 5% dari target dan dari produksi tahun lalu.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting minyak pada 2020 mencapai 706 ribu barel per hari (bph), turun sekitar 5,4% dibandingkan realisasi lifting minyak pada 2019 yang mencapai 746.300 bph. Sementara lifting gas pada 2020 mencapai 5.461 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), turun 7,6% dari realisasi 2019 yang sebesar 5.912 MMSCFD.

"Itu kira-kira garis besar dampaknya. Kita di Indonesia masih lebih baik dari rata-rata dunia di investasi dan produksi lifting hanya terdampak 5%," tuturnya.

Dwi menyebut, mengenai investasi selalu dikaitkan dengan potensi yang ada. Harga minyak dunia berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021, diproyeksikan sebesar US$ 45 per barel, lebih tinggi dari 2020 sebesar US$ 40 per barel.

Menurutnya, perkiraan tren kenaikan harga minyak dunia ini juga disebabkan adanya isu keberadaan vaksin Covid-19, sehingga diharapkan aktivitas perekonomian masyarakat bisa semakin membaik.

"Dan saat ini sudah di atas US$ 50 per barel, sehingga kita sangat yakin dengan harga minyak dunia yang naik, maka investasi akan meningkat," tegasnya.

Dia menyebut investasi hulu migas di Tanah Air pada 2021 diperkirakan naik sekitar 20,5% menjadi US$ 12,3 miliar dari realisasi 2020 yang sebesar US$ 10,21 miliar.

"Terlihat kegiatan mereka dalam investasi juga meningkat, dari seismik 2D ada peningkatan 12% di wilayah kerja aktif, KKP (Komitmen Kerja Pasti) di open area (area eksplorasi) meningkat 150%, cukup besar. Seismik 3D juga meningkat 24%," paparnya.

Lalu, pengeboran sumur pengembangan meningkat 156% dari 240 sumur ke 616 sumur, sedangkan sumur eksplorasi naik 105% dari 21 sumur ke 43 sumur, lalu pengeboran sumur work over naik 6% dan well service naik 11%.

"Ini semua tertuang dalam rencana kerja para KKKS. Jadi, ini adalah confirm dari rencana kerja KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama)," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)