Penjualan Motor Ditaksir Anjlok 50% Kembali ke Era Kegelapan

Penjualan Motor Ditaksir Anjlok 50% Kembali ke Era Kegelapan

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 turut menekan penjualan sepeda motor yang anjlok parah....
Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 turut menekan penjualan sepeda motor yang anjlok parah. Pada tahun ini target penjualan 6,4 juta unit dipastikan bakal sulit tercapai, ditaksir hanya terealisasi 50% saja, kondisinya seperti 15 tahun lalu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Hari Budianto mengatakan penjualan motor nasional anjlok hingga 75% pada April 2020 jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
"Tetapi melihat dampak di kuartal kedua pada bulan April kita masih melihat bahwa ini akan lebih tertekan lebih dalam lagi, sehingga diperkirakan sampai dengan asumsi yang kedua bisa jadi kita 40% sampai 50% terkoreksi," kata Hari dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (22/05/20).

Hari memperkirakan target penjualan motor nasional pada 2020 sebesar 6,4 juta unit tidak akan tercapai. Sebaliknya, penjualan diyakini turun sampai 50% menjadi 3,2 juta unit. Padahal pada masa kejayaan, pada 2011 penjualan motor sempat menembus 8 juta unit.

"Sampai saat ini kita perkirakan memang sampai dengan 50% maksimal berdampak sampai dengan target penjualan tahun 2020. Sebelumnya target 6,4 juta unit penjualan domestik dan 1 juta unit untuk ekspor dan diproyeksikanÂakan terkoreksi 50% di tahun ini," ujarnya.
Berdasarkan data AISI, terakhir kali industri motor Indonesia menjual kendaraan di bawah angka 4 juta unit terjadi pada tahun 2004 atau 15 tahun yang lalu. Saat itu AISI mendistribusikan sekitar 3.900.518 unit kendaraan untuk pasar domestik.
"Kalau melihat koreksi 50% tadi market kita kurang lebih hanya 3,5 juta unit sama seperti kita mundur 15 tahun lalu, sekitar tahun 2004 itu penjualan kita 3,4 juta unit. Jadi betapa besar dampaknya terhadap industri sepeda motor karena kita mundur 15 tahun seperti itu,"Âkatanya.
Sejauh ini, stimulus yang diberikan pemerintah berupa relaksasi pajak dinilai cukup membatu. "Salah satu yang sudah berjalan seperti relaksasi pajak penghasilan itu sangat membantu cashflow anggota kita, tentunya nanti dari pajak kendaraan dari banyak hal yang bisa kita komunikasikan, saat ini kita juga berkomunikasi dengan pemerintah," katanya.
Selain itu "Kami saat ini juga berkomunikasi Dengan mereka bagaimana bisa merelaksasi pajak kendaraan bermotor sehingga kita bisa nantinya setelah mulai terjadi penurunan puncaknya (kasus covid-19) dilalui kita bisa recovery, tentunya kita akan bersama sama dengan adanya relaksasi tadi kita menumbuhkan permintaan pasar dan penjualan kita lebih baik," tuturnya.
Pasalnya, industri otomotif merupakan industri lokomotif bagi industri yang lain mulai dari industri logam dasar, komponen, leasing company, service, spare part dan perbankan.
"Semakin cepat industri otomotif ini recovery tentunya bersama-sama pemerintah akan berdampak lebih cepat terhadap ekonomi nasional," tutupnya.

[Gambas:Video CNBC]



(hoi/hoi)