Pandangan Ahli Soal Kata ‘Evolusi’ dalam Kasus Rasialis Abu Janda

Pandangan Ahli Soal Kata ‘Evolusi’ dalam Kasus Rasialis Abu Janda

Terbaiknews - Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda berjalan keluar usai diperiksa penyidik Dit Tipidsiber Bareskrim PolriMabes PolriKebayoran BaruJakarta SelatanSenin (1/2/2021). Abu Janda diperiksa sebagai pihak terlapor dalam dua kasus sekaligusyakni kasus dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai dan kasus ujaran 'Islam Arogan'. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com – Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda tengah diperiksa oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim. Adapun perkara ini didasarkan dari cuitan “evolusi” kepada mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. Kata tersebut diduga sebagai bentuk hinaan bernada rasialis.

Ahli bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Krisnajaya memiliki pandanga tersendiri dalam kasus ini. Berdasarkan pemahamannya, diksi evolusi mengarah kepada perubahan manusia.

“Adapun unsur makna evolusi manusia itu sebagai pengetahuan umum adalah proses perubahan secara perlahan-lahan dari hewan (kera atau monyet) menjadi manusia. Penggunaan kata evolusi tersebut memiliki perikutan makna evolusi manusia,” kata Kisnajaya kepada wartawan, Kamis (4/2).

Namun, dia enggan menyimpulkan jika cuitan Abu Janda sebagai bentuk ujaran kebencian atau telah memenuhi unsur pidana. Menurutnya, hal itu membutuhkan pendalaman lebih lanjut.

“Diperlukan fakta kebahasaan yang memadai, bahwa benar sudah timbul suatu akibat berupa kebencian dari tulisan tersebut,” jelasnya.

Selain itu, dasar menetapkan sebuah kebencian dalam tulisan di media sosial harus dicermati dengan baik. Karena Undang-Undang hanya membatasi pada suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Sementara itu, Pakar Bahasa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Hilmi Akmal menilai, kata evolusi yang ditulis Abu Janda memperlihatkan ketidaksenangan dan merendahkan pihak tertentu.

Menurut dia, setidaknya terdapat dua proposisi interogatif, dari cuitan Abu Janda terhadap Natalius Pigai yang berbunyi “Kau @Natalius Pigai2 apa kapasitas kau? dan yang kedua sudah selesai evolusi belum kau?“. Dari dua proposisi interogatif itu, kata Hilmi, diksi evolusi jelas menunjukkan ketidaksenangan kepada Pigai.

“Terkait dengan cuitan yang rasis, inferensi yang bisa ditarik adalah saya melihat ada ketidaksenangan Abu Janda dengan Pak Pigai. Sehingga membuat proposisi dalam bentuk interogatif yang maknanya merendahkan Pak Pigai,” pungkas Hilmi.

Sebelumnya, KNPI melaporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri. Laporan itu dibuat oleh KNPI dan diterima oleh kepolisian dengan nomor LP/B/0052/I/2021/Bareskrim tertanggal 28 Januari 2021.

Dalam pelaporan ini, Abu Janda diduga melanggar Pasal 45 ayat (3) Jo Pasal 27 ayat (3) dan atau Pasal 45 A ayat (2) Jo Pasal 25 ayat (2) dan atau UU Nomor 19 Tagun 2006 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kemudian ditambah Pasal 310 dan atau Pasal 311 KUHP tentang kebencian permusuhan individu dan atau antar golongan (SARA).

Abu Janda sempat men-twit bernada rasialis terhadap eks Komisioner Komas HAM Natalius Pigai. “Kau @NataliusPigai2 apa kapasitas kau? Sudah selesai evolusi belom kau?” cuit Abu Janda di akun Twitter @permadiaktivis1 pada 2 Januari 2021.

Tidak lama setelah itu, Abu Janda kembali membuat heboh dunia maya. Dalam akun media sosial twitternya Abu Janda mencuitkan bahwa agama Islam adalah agama yang arogan di Indonesia.

Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam, sebagai agama pendatang dari Arab, kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampe kebaya diharamkan dengan alasan aurat,” isi cuitan Abu Janda.