Menyisir Pasien, Mengumpulkan Rendang, untuk Bantu Korban Gempa Sulbar

Menyisir Pasien, Mengumpulkan Rendang, untuk Bantu Korban Gempa Sulbar

Terbaiknews - BANTUAN RENDANG: Personel TNI-AU Lanud Sutan Sjahrir menyusun ratusan kilogram rendang di Bandara Internasional MinangkabauPadang (27/1). ( (CHARLIE CH FOR PADEK)

Datangi Tenda demi Tenda Persuasi Pasien agar Mau Dioperasi

Tim RS Terapung Ksatria Airlangga mengerahkan dokter-dokter umum serta bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk membujuk pasien. Di Padang, pelaku usaha rendang bahu-membahu menyumbangkan produk mereka, dengan target bisa mengirimkan 1 ton rendang.

SEPTINDA A.P., Majene-ERI M., Padang, Jawa Pos

ADA 12 pasien yang sejatinya membutuhkan operasi. Dan, fasilitasnya juga sudah tersedia: di Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA). Gratis.

Tapi, hanya dua pasien yang bersedia. Sisanya, tim RSTKA dibantu pihak RSUD Majene, Sulawesi Barat, tempat ke-12 pasien itu dirawat, harus merayu, melakukan persuasi.

’’Alasannya bisa jadi karena kepercayaan atau mungkin takut dengan Covid-19. Dalam pencarian pasien juga sekaligus ingin mengetahui alasan mereka tidak ingin dilakukan tindakan operasi,’’ kata Direktur RSTKA dr Agus Harianto SpB yang kemarin memimpin langsung penyisiran dan persuasi pasien.

Kapal RSTKA bersandar di Pelabuhan Palipi, Desa Palipi, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, pada Sabtu (23/1). Rencananya tetap di Pelabuhan Palipi hingga pemulihan pascagempa tuntas.

Hingga kemarin, sudah 11 pasien yang telah dioperasi di RSTKA. Mereka rata-rata mengalami fraktur, infeksi, dan dislokasi tulang. Ada yang datang langsung ke kapal RSTKA. Ada juga yang dijemput.

RSTKA juga bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk memberikan pelayanan kesehatan. Puskesmas menjadi fasilitas kesehatan (faskes) I dan RSTKA berperan sebagai rumah sakit rujukan.

’’Sisi positifnya, teman-teman puskesmas sudah aktif memberikan pelayanan. Mereka juga aktif membawa pasien dari wilayah kebencanaan,’’ ujarnya.

Menyisir Pasien, Mengumpulkan Rendang, untuk Bantu Korban Gempa Sulbar
Dokter Agus Harianto SpB memeriksa pasien yang selesai menjalani operasi di Desa Sedana, Majene. (SEPTINDA AP/JAWA POS)

Hari ini rencananya lima pasien juga menjalani tindakan operasi. ’’Seperti kasus hari ini (kemarin, Red), pasien yang dioperasi merupakan kasus dislokasi panggul. Pasien ini sudah terlambat tertangani. Dia telantar 12 hari,’’ kata dia.

Ribuan kilometer dari Majene, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Sumatera Barat (Sumbar) bersama DPP Gebu Minang dan Kopwan Ikaboga juga sama-sama melakukan ’’penyisiran dan persuasi”. Juga sama-sama ditujukan membantu korban gempa di Sulbar.

Bedanya, penyisiran dan persuasi di Padang dilakukan dalam rangka mengumpulkan rendang. Hasilnya, 340 kilogram Rabu lalu (27/1). Sebanyak 340 kg rendang yang sudah dikemas diberangkatkan lewat Bandara Internasional Minangkabau, Padang, dengan menggunakan pesawat TNI-AU Boeing A 7302 Intai Maritim dari Skadron Udara 5 Lanud Hasanuddin, Makassar.

Kiriman itu ditujukan kepada 1.360 kepala keluarga (KK) terdampak bencana. Selain itu, ada kiriman 100 kilogram rendang lainnya dari BUMN di Sumbar.

Wakil Ketua DPP Gebu Minang DKI Jakarta Fauzi Bahar mengatakan, bantuan rendang tersebut diberikan sebagai ungkapan rasa prihatin atas bencana yang menimpa warga di Sulbar dan Kalsel. ’’Padang pernah diguncang gempa hebat pada 2009. Kami bisa merasakan betapa indah dan senang sekali tiap kali mendapatkan bantuan,” kata Fauzi kepada Padang Ekspres.

Perwakilan Kopwan Ikaboga Harti Ningsih mengungkapkan, rendang tersebut dikumpulkan dari UMKM seperti Ikaboga, UPI Silungkang, Asese, Siti Nurbaya Food, BSMI Sumbar, Gebu Minang, dan lainnya.

’’Sekecil apa pun bantuan itu akan kita terima. Untuk tahap awal ini, kita kirim dulu seberapa banyak yang terkumpul,” tuturnya.

Di Sumbar ada ratusan pelaku usaha rendang. Menurut Harti, dirinya dan sesama pelaku usaha rendang lain tidak hanya berpikir bisnis. Tapi, juga bagaimana bisnis itu bisa memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Pengiriman 340 kilogram rendang tersebut baru awal. Ditargetkan, dari Sumbar bisa terkirim 1 ton rendang, olahan khas Ranah Minang yang pernah memenangi sebuah jajak pendapat tentang makanan terlezat di dunia itu.

Harti mengatakan bisa memenuhi target bantuan 1 ton rendang tersebut. ’’Kami di komunitas Ikaboga biasa membuat rendang dalam jumlah banyak,” tuturnya.

Harfindo Nismal dari BSMI Sumbar mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyalurkan bantuan rendang tersebut. ’’Kami akan kumpulkan donasi dari seluruh pihak, kemudian memproduksi rendang sesuai dengan jumlah yang terkumpul. Selanjutnya, diberangkatkan ke lokasi bencana,” jelasnya.

Sementara itu, tim RSTKA terus menyisir pasien di tenda-tenda pengungsian. ’’Nanti kami menurunkan empat dokter umum untuk mencari pasien. Yang pasti, kami harus menemukan pasien yang belum tertangani dengan baik dan belum dilakukan tindakan,’’ ujar Agus.

Polda Jatim Salurkan Bantuan Rp 1,8 Miliar untuk Korban Bencana Alam

Agus mengatakan, empat dokter umum yang akan diterjunkan ke tenda-tenda pengungsian untuk mendapatkan tindakan operasi tersebut berasal dari berbagai fakultas kedokteran di Indonesa. Hal itu sekaligus membuka kesempatan bagi para dokter umum yang ingin menjadi relawan.

Pencarian pasien tersebut dilakukan di tenda-tenda pengungsian Kabupaten Majene dan Kota Mamuju. ’’Harapan kami, akan banyak lagi dokter umum yang mau bergabung dengan RSTKA untuk mencari pasien, baik di Majene maupun Mamuju,’’ katanya.

Saksikan video menarik berikut ini: