Menkes: 15% Tenaga Kesehatan Ditolak Vaksinasi, Kok Bisa?

Menkes: 15% Tenaga Kesehatan Ditolak Vaksinasi, Kok Bisa?

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Menteri Kesehatan RIBudi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa ada 15%...

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa ada 15% tenaga kesehatan yang tertunda atau ditolak vaksinasinya.

"Vaksinasi sekarang angkanya 70 ribu. Yang saya sedih, 15% itu batal atau tertunda. Mereka ditolak vaksinasi saat screening," katanya mengutip Dialog Warga "Vaksin Kita" Komite Pemulihan Ekonomi Transformasi Jabar, di Jakarta Jumat (22/1/2021).

Alasan penolakan tersebut antara lain karena 4% diantaranya memiliki komorbid. Sementara 11% lainnya karena memiliki riwayat hipertensi atau darah tinggi.


"Orang Indonesia nggak sehat, nakes sudah datang tak bisa di vaksin. Entah deg-degan mau disuntik atau kenapa. Ini mesti diberesin," tegasnya.

Tak hanya itu, BGS secara terang-terangan mengaku tidak puas terhadap penanganan Covid-19 di Indonesia. Mulai dari strategi 3T (tracing, testing, dan treatment) yang salah sasaran, hingga data penerima vaksinasi Covid-19 yang membuat dirinya kapok.

Dia mengakui strategi testing, tracing, dan treatment (3T) yang dikembangkan di Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 salah sasaran.

Seperti diketahui, sebagian masyarakat Indonesia yang melakukan testing adalah mereka yang mau bepergian, bukan orang yang menjadi suspect atau orang memiliki riwayat tinggal di wilayah yang melaporkan transmisi lokal atau kontak dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 dalam 14 hari terakhir.

Kebanyakan masyarakat justru melakukan 3T sendiri setelah mengetahui dirinya pernah kontak dengan penyintas Covid-19.

Budi mencontohkan, dirinya bisa di tes swab Covid-19 hingga lima kali dalam seminggu karena masuk Istana Negara dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kita tidak disiplin. Cara testingnya salah. Testingnya banyak, kenapa (kasus positif Covid-19) naik terus. Habis yang ditesting orang kayak saya. Saya setiap mau ke Presiden dites. Seminggu bisa lima kali dites karena masuk Istana. Emang bener begitu? Pastinya tak begitu harusnya," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)