Menelisik Pesona Ayam Serama, Makin Sombong Harga Makin Mahal

Menelisik Pesona Ayam Serama, Makin Sombong Harga Makin Mahal

Terbaiknews - PERAWATAN KHUSUS: Guantoro dan salah satu ayam serama peliharaan- nya. Pembentukan postur yang tegak menjadi poin penting. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Orang biasa menyebutnya sebagai ayam hias yang sombong. Dadanya selalu membusung, apalagi saat berada di meja kontes. Ayam serama seakan tahu bahwa dirinya adalah model kelas atas. Meski berukuran kecil, pamor ayam serama sebagai unggas eksotis tidak kalah dari jenis lain.

Ayamasli Malaysia ini memiliki banyak keunikan. Meski sama-sama kecil, ayam serama berbeda dengan ayam kate. Bentuk tubuhnya lebih kecil dan tegak daripada ayam kate. Postur tubuh ayam serama tegak lurus dengan kaki dan sayapnya. Dadanya akan membusung dengan posisi kepala yang hampir menyentuh ekor. Itulah yang membuat banyak orang terlena dengan liuk tubuhnya.

Ayam tersebut memang berasal dari Malaysia. Nama serama merupakan sebutan Sri Rama. Seorang raja legendaris yang berasal dari cerita Ramayana. Nama itu diambil karena sang raja memiliki postur tubuh yang gagah. ”Terinspirasi dari sana, lalu muncul sebutan ayam serama,” ujar penghobi ayam serama Guantoro Santoso.

Dia mengungkapkan, ayam serama dulu dianggap sebagai peliharaan bangsawan. Tidak semua orang bisa memilikinya. Ayam hias tersebut ibarat sebuah simbol kelas pemiliknya.

Kini ayam itu sudah banyak dipelihara di Indonesia. Namun, banyak yang sudah bercampur dengan persilangan jenis lain. Berbeda dengan yang lain, Guantoro lebih memilih mengoleksi sekaligus beternak ayam serama dengan tetap mempertahankan keturunan asli.

”Saya pelihara dan kembangkan yang trahnya asli dari Malaysia. Misalnya, motif renteng yang punya warna bercak di bulunya. Lalu, ada tok uban. Nah, yang ini biasanya memiliki bulu putih di kepala seperti ubanan,” terang pemilik Pochi Serama Fighter (Poster) tersebut.

Guantoro memiliki lebih dari 200 ekor ayam serama. Banyak piala yang sudah berhasil disabetnya dalam berbagai kompetisi. Baik lokal maupun nasional.

Menurut Guantoro, memelihara ayam serama lebih rumit ketimbang burung atau reptil. Sebab, dalam kontes, dibutuhkan ketahanan stamina yang prima agar ayam bisa memperoleh poin tinggi. ”Dalam kompetisi serama, ayam tidak boleh turun meja. Ia pun harus terus membusungkan dada. Kalau turun, poinnya bakal berkurang,” jelasnya.

Karena itu, kondisi kandang juga disesuaikan suasana saat kompetisi. Panjang dan lebar kandang tidak lebih dari 50 sentimeter. Banyak aspek yang dinilai dalam kompetisi. Mulai posisi tubuh yang tegak dengan dada membusung, sayap bisa tegak sejajar dengan kaki, hingga kepala yang ”menyelam”. Maksudnya, jika dilihat dari depan, posisi kepala tertutup oleh dada. Makin tidak terlihat, makin bagus. ”Ini tidak bisa dilakukan dengan latihan. Jadi, memang kondisi aslinya seperti itu,” kata penghobi ayam serama lain, Yudika Indarto.

Kemudian, keceriaan ayam juga dinilai. Poin itu didasarkan pada keberanian ayam berlenggok-lenggok di atas podium. Lalu, respons saat mengebaskan sayapnya. Makin sering mengebaskan sayap, poin akan bertambah terus. ”Saat mematuk atau berkokok, nilainya justru bisa berkurang,” ungkap Dika.

APA DAN BAGAIMANA AYAM SERAMA?

  • Pembentukan postur dan sikap dalam pemeliharaan sangat rumit.
  • Dalam kompetisi, postur ayam saat melenggang menjadi penting. Dada harus membusung.
  • Keceriaan juga diperhitungkan melalui kepakan sayap.
  • Namun, mematuk atau berkokok justru menjadi poin minus.

Saksikan video menarik berikut ini: