Jasa Repaint, Repair, dan Restorasi Sepeda Ikut Naik Daun

Jasa Repaint, Repair, dan Restorasi Sepeda Ikut Naik Daun

Terbaiknews - RAMAI: Hari (kiri) dan Hendra dijumpai di bengkel Bike Reborn Surabaya pada Rabu (7/10). Sejak pandemi merebakbengkel sepeda ini tidak pernah senyap. Jumlah sepeda yang dibawa ke bengkel mencapai dua kali lipat dibanding sebelumnya. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Tren bersepeda selama pandemi tidak hanya mengerek angka penjualan sepeda baru atau bekas. Jasa restorasi dan perbaikan sepeda pun ikut laris manis.

Peningkatan jumlah konsumen yang merestorasi sepeda dirasakan Bike Reborn Surabaya. Lewat repaint, repair, dan restorasi sepeda, omzet mereka naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Saat Jawa Pos tiba di depan pagar tempat usaha Bike Reborn Surabaya, suasananya terlihat biasa saja. Tidak ada yang spesial. Namun, begitu masuk ke area belakang rumah, deretan sepeda sedang menunggu diperbaiki. Mulai penggantian warna (repaint), perbaikan struktur sepeda, hingga penambahan pernak-pernik sepeda.

”Malam ini hanya ada dua unit yang sedang kami perbaiki. Mulai memperbaiki kerangka sepeda hingga mengganti beberapa perlengkapan seperti rem, gir, hingga penyangga tempat duduk,” jelas Hari Ceper, mekanika Bike Reborn Surabaya.

Saat dijumpai pada Rabu (7/10), dia tampak sibuk menyelesaikan restorasi bersama salah seorang temannya. Hari sama sekali tidak mengalami kesulitan. Berdasar pengamatan Jawa Pos, dia begitu hati-hati dan cekatan menyambungkan satu struktur ke struktur lainnya. ”Saat ini tren sepeda yang paling disenangi itu seperti ini,” ujar Hari sembari menunjuk drag bike ceper.

Strukturnya berubah. Rangka sepeda (frame) sedikit memanjang. Posisi stang mengecil dan membentuk persegi. Gir belakang mengeluarkan bunyi khas. ”Ketika dikayuh ke belakang, suaranya unik. Banyak orang yang pesan gir model itu. Tentu tujuannya adalah mencuri perhatian,” ungkap Hari sembari menaiki sepeda.

Pengerjaan sepeda itu selesai dalam sebulan. ”Sekarang tahap terakhir, tinggal penyempurnaan,” kata Khoirur Rhoman, teknisi sepeda.

Dia menyebutkan, restorasi sepeda memakan waktu seminggu sampai sebulan. ”Bergantung tingkat kerusakan dan kebutuhan perbaikan,” terangnya.

Founder Bike Reborn Surabaya Hendra Susilo menyatakan, sejauh ini permintaan restorasi sudah terkendali dan dibatasi sesuai dengan kemampuan. Sebelumnya, order sempat membeludak. Terutama tiga bulan lalu. Setiap bulan mereka pernah menangani sekitar 50 unit sepeda. Memang, keuntungan yang diperoleh cukup besar. Namun, bagi mereka, hal tersebut cukup memberatkan. Sebab, tenaga mekanika terbatas. Apalagi bila tingkat kerusakan sepeda cukup parah. Durasi pengerjaan pun lama.

”Mengapa pengerjaan bisa lama? Salah satunya karena spare part yang dibutuhkan terbatas. Kami harus cari di luar Surabaya karena di sini sama sekali tak ada,” terangnya.

Hendra mengungkapkan, pendapatan Bike Reborn Surabaya saat ini di luar ekspektasi. Sebab, sebelum pandemi, dia dan tim hanya mendapat order restorasi 10–20 unit sepeda sebulan. ”Tiba-tiba begini malah kewalahan,” ucapnya.

Sejauh ini minat orang bersepeda masih tinggi. Bersepeda tidak hanya dilakukan untuk olahraga, tetapi juga untuk gaya hidup. Perkembangan tren sepeda membuat orang rela merogoh kocek lebih dalam. Misalnya, yang disampaikan dua pelanggan yang dijumpai Jawa Pos.

”Saya reparasi plus restorasi dua sepeda. Modifikasi di bagian rangka dan gir. Tak apa-apa keluar banyak uang,” ucap Bonny Cahyadi. Warga yang tinggal di Wonocolo itu mengetahui Bike Reborn Surabaya dari media sosial. Dia juga mendengar testimoni dari temannya yang pernah melakukan restorasi. ”Sudah lama berada di garasi. Sekarang baru dipakai lagi. Ini sudah tua. Keluaran tahun 70-an,” jelasnya.

Sementara itu, Arga Widyataruna, pelanggan lain, memperbaiki struktur, ban, hingga frame sepeda. ”Ini nanti untuk anak saya. Saya ndak hobi sepedaan,” katanya, lantas tertawa.

Saksikan video menarik berikut ini: