Jarak Kurang dari 1,5 Meter, Alarm Bakal Berbunyi

Jarak Kurang dari 1,5 Meter, Alarm Bakal Berbunyi

Terbaiknews - Cocok untuk ruang publikYu-Ngantri juga dilengkapi bank data yang bisa menunjukkanantara lain,...

Cocok untuk ruang publik, Yu-Ngantri juga dilengkapi bank data yang bisa menunjukkan, antara lain, hari apa saja pelanggaran protokol kesehatan paling sering terjadi. Sistem yang diujicobakan di kantor Baznas itu kini mulai banyak dipesan perusahaan swasta dan kantor kementerian.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

MEMASUKI area lobi kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Jakarta, harus ekstrahati-hati. Protokol kesehatan wajib diterapkan secara penuh.

Jika tidak, siap-siap ditegur melalui pengeras suara. Bukan petugas (baca: orang) yang menegur.

Melainkan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) Yu-Ngantri yang didesain untuk mendeteksi pelanggaran jarak antarorang.

”Pelanggaran social distancing terdeteksi.” Kalimat itu bakal langsung menggema dan diulang hingga pelanggar mengambil jarak aman. Satu setengah meter dari orang terdekatnya.

”Makin ke sini, orang lupa bahwa kita masih dalam masa pandemi. Karena itu, butuh asisten untuk mengawasi,” tutur Prof Emir Mauludi Husni yang bersama timnya (Richard Tanadi, Alam Raihan Emir, dan Satria Ramadhan) merancang Yu-Ngantri.

Emir bercerita, dua bulan lalu, dirinya sempat merenung soal pandemi ini. Melihat kasus yang masih naik turun, dia berpikir bahwa kondisi ini tidak akan berakhir cepat jika protokol kesehatan tidak benar-benar dipatuhi.

Apalagi saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masuk masa transisi. Banyak orang yang cenderung abai soal jaga jarak. ”Padahal, ini basic untuk memutus risiko penularan,” ungkapnya.

Dari sana, dia tebersit untuk membuat sebuah sistem yang bisa mengubah budaya kumpul-kumpul tanpa jaga jarak ini. Maklum, di Indonesia, budaya kumpul sudah sangat melekat. Tak heran bila kewajiban jaga jarak menjadi salah satu yang paling sulit diterapkan. ”Karena mengubah mindset pun bukan pekerjaan mudah ya,” papar guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Emir pun memulai proyek pembuatan sistem kecerdasan buatan dengan dibantu Richard Tanadi (S-2 Teknik Elektro ITB), Alam Raihan Emir (mahasiswa S-1 Teknik Elektro ITB), dan Satria Ramadhan (asisten riset). Selama dua bulan, mereka berupaya mengembangkan sistem kecerdasan buatan Yu-Ngantri ini. Hingga akhirnya diuji coba di gedung Baznas pada Agustus lalu.

Sistem kerjanya, kamera CCTV akan menangkap gambar orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Kemudian, gambar itu dikirimkan ke sistem di minikomputer yang telah diinstal sistem Yu-Ngantri. Sistem kemudian menganalisis koordinat orang-orang tersebut. Setelahnya, dihitung jarak antarmereka. Bila kurang dari 1,5 meter, akan ada alarm yang otomatis memberikan peringatan.

”Alarmnya akan otomatis berbunyi,” ungkapnya.

Jarak Kurang dari 1,5 Meter, Alarm Bakal Berbunyi
DI BALIK LAYAR: Dari kiri, Alam Raihan Emir, Satria Ramadhan Jumhana, Richard Tanadi, dan Prof Emir Maulidi Husni. (PROF EMIR MAULIDI FOR JAWA POS)

Namun, ada catatan yang diberikan Emir. Deteksi itu akan berhasil jika kalibrasi dan fine tuning dilakukan secara benar.

Kalibrasi merupakan tahapan untuk memastikan sistem dapat mendeteksi seluruh objek depan kamera. Tahapan itu juga digunakan untuk menentukan penempatan posisi CCTV secara strategis dan kebutuhan kamera untuk area tersebut.

”Karena kamera kan punya batasan coverage ya. Misalnya, hanya 5 x 9 meter di ketinggian 3 meter. Kalau lebih dari itu, butuh banyak kamera,” papar alumnus University of Surrey, London, Inggris, tersebut.

Di Baznas, misalnya. Karena ruangan yang cukup besar, dibutuhkan dua kamera untuk bisa memantau pergerakan orang di sana. Sedikit banyaknya CCTV ini ditekankan olehnya tidak berhubungan dengan delay peringatan bila ada pelanggaran.

Sebab, sistem Yu-Ngantri sudah dibuat untuk bisa terintegrasi dengan banyak kamera. Jumlah CCTV ini lebih pada cakupan daya tangkap oleh kamera.

”Ini sangat cocok diterapkan di ruang publik. Karena kita tidak mungkin memantau satu per satu secara terus-menerus.”

Saat ini, selain di Baznas, Yu-Ngantri sudah dipesan sejumlah pihak, baik swasta maupun pemerintah. Rencananya, keduanya dipasang dalam waktu dekat. ”Swasta untuk perkantoran. Pemerintahan ini untuk kantor kementerian,” tutur pria yang sudah memublikasikan puluhan jurnal nasional dan internasional tersebut.

Salah seorang anggota tim Yu-Ngantri, Richard, menambahkan, secara garis besar sistem itu merupakan contoh produk computer vision menggunakan algoritma object detection. Yang kemudian diproses menggunakan machine learning. ”Kita ajarin dulu sistemnya, manusia itu seperti apa sih. Kemudian, kita ajarin soal deteksi,” katanya.

Menurut dia, pada penelitian yang dimulai awal Juni ini tak ada kesulitan berarti. Namun, dia mengakui bahwa timnya harus bekerja keras untuk memecahkan tantangan berat dalam membuat algoritma yang mempunyai performance tinggi. Dengan begitu, sistem membaca secara cepat keberadaan manusia. Meski, masih ada celah bilamana ada benda yang dinilai memiliki ukuran mirip manusia.

”Misalnya, kursi ditumpuk dua. Bisa jadi terdeteksi karena tingginya sama. Tapi, ini bisa dievaluasi, dikasih tahu bahwa itu kursi,” papar Richard.

Karena itu, kalibrasi menjadi tahapan yang sangat penting sebelum pemasangan sistem di sebuah area. Kalibrasi ini bahkan bisa memakan waktu dua jam guna memastikan kamera bisa menangkap seluruh area.

”Sejauh ini, akurasi kita sudah di atas 80 persen untuk deteksi pelanggaran,” jelasnya.

Selain mendeteksi pelanggaran, perangkat itu ternyata bisa mengetahui pergerakan orang yang keluar masuk ruangan. Karena itu, sesuai dengan namanya, Yu-Ngantri mampu bekerja otomatis mengendalikan antrean.

Richard mencontohkan ketika perangkat dipasang di ruangan dengan kapasitas 100 orang. Dengan mengetahui pergerakan orang yang keluar masuk, dapat diketahui jumlah orang yang berada di ruangan tersebut.

Nah, saat sistem di-setting untuk memberikan peringatan ketika jumlah orang lebih dari 50, alarm akan langsung menginfokan ”ruangan penuh” jika kapasitas sudah lebih dari itu.

”Jadi, kita bisa tahu kapasitasnya mumpuni nggak untuk menerapkan social distancing. Kalau lebih dari itu kan berarti gak diterapkan lagi,” ungkap pria yang berulang tahun pada 3 Juni tersebut.

Bukan hanya itu, sistem ini pun memiliki bank data yang bisa dibedah untuk keperluan analisis. Misalnya, pada monitor dipaparkan data bila di hari Senin terjadi banyak sekali pelanggaran penerapan jaga jarak. Sementara di hari lainnya masih terbilang aman.

Maka, pemilik gedung bisa menganalisis penyebabnya. Apakah terlalu banyak pengunjung sehingga sulit menjaga jarak ataukah ada faktor lainnya.

”Bisa untuk mengantisipasi di minggu selanjutnya agar pelanggaran serupa tidak terjadi lagi,” tuturnya.

Termasuk untuk wilayah perkantoran yang mengindikasikan harus dilakukan penjadwalan karyawan yang bekerja dari kantor.

Direktur Utama Baznas Arifin Purwakananta menambahkan, teknologi tersebut beriringan dengan rasa syukur dan kebanggaan karena kali pertama dijalankan dan dikembangkan di lingkungan Baznas. Dia berharap sistem itu juga bisa dikembangkan di tempat lain seperti masjid, musala, tempat pengajian, forum-forum, perkantoran, dan tempat umum lainnya.

”Hal ini menjadi sebuah langkah Baznas dalam melindungi masyarakat yang dilayani. Termasuk juga untuk para amil yang bekerja,” ujarnya.

Arifin berharap kerja sama berlanjut. Dengan begitu, sistem yang sekarang ini dihasilkan hanya merupakan tahap awal pengembangan. Ke depan, sistem kecerdasan buatan itu juga dikembangkan dengan penambahan sensor suhu tubuh. ”Sehingga kondisi orang yang berada di dalam ruangan tersebut bisa terus terpantau dan diambil tindakan protokol bila ada perubahan,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini: