Harga Saham BRIS Tergelincir, Analis Pasar: Akibat Sell by News

Harga Saham BRIS Tergelincir, Analis Pasar: Akibat Sell by News

Terbaiknews - ILUSTRASI Kantor layanan Bank Syariah Indonesia. (Jawapos)

– PT Bank Syariah Indonesia (BSI) memulai debutnya di pasar modal Kamis (4/2). Bank hasil penggabungan usaha (merger) tiga bank syariah Himbara itu menggunakan kode emiten BRIS. Pasar modal syariah pun semakin menarik di mata masyarakat.

Hingga perdagangan tutup, saham BRIS turun 70 poin atau 2,55 persen pada level Rp 2.680 per lembar. Hans Kwee, analis pasar saham, menilai saham BRIS turun akibat sell by news.

Itulah fenomena pembelian aset oleh mayoritas pelaku pasar berdasar spekulasi atau rumor tertentu. Untuk sesaat, sentimen tersebut membuat harga meningkat. Namun, setelah berita resmi tentang rumor itu dirilis, mereka lantas menjual kembali asetnya.

“Ini yang membuat harganya tertekan,” kata Hans kepada Jawa Pos tadi malam.

Meski begitu, dia menyambut positif melantainya BSI. Aset dan kapitalisasi BSI dalam industri pasar modal syariah akan semakin kuat.

“Semoga ada bank syariah besar lain yang juga melantai di bursa,” tuturnya.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menyatakan, BRIS termasuk 10 saham syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar. Selain itu, pasar modal syariah nasional selalu tumbuh dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut tentu menjadi pilihan investasi yang sangat menarik bagi investor.

“Jumlah saham syariah naik sangat signifikan sebesar 33 persen. Dari 318 saham syariah pada akhir 2015 menjadi 426 saham syariah per 22 Januari 2021,” jelas Inarno.

Dari angka tersebut, kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 3,5 triliun atau sekitar 47,5 persen dari total kapitalisasi pasar saham BEI.

Sepanjang 2020, Inarno mencatat ada 38 saham syariah baru dan 85.891 investor saham syariah. “Atau 55 persen dari total investor saham nasional,” ujarnya.

Artinya, ruang bagi investor saham syariah masih besar. “Kami optimistis BSI dapat membawa semangat baru dan pelayanan yang lebih optimal berlandas prinsip syariah untuk semua lapisan masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menuturkan bahwa peluang bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di BRIS kian terbuka. Sebab, investasi juga bisa dilakukan lewat sovereign wealth fund (SWF) yang di Indonesia bernama Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

BRIS, menurut dia, masih memerlukan modal yang besar untuk menunjang bisnis jangka menengah. Modal bisa ditingkatkan dengan mekanisme rights issue atau hak memesan efek lebih dulu.

“Kita akan tawarkan. Kalau ada yang match of interest, ya kita open mana investor yang mau masuk ke BRIS,” kata Kartika.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir kembali meminta BUMN meningkatkan daya saing dan transparansi. Salah satunya adalah melakukan initial public offering (IPO) atau mencatatkan saham di BEI.

Erick memastikan, dalam road map BUMN 2021–2023, setidaknya bakal ada 8–12 BUMN yang mencatatkan saham di bursa. “Di pipeline, saya tidak mau bilang angka fix-nya. Nanti dicari-cari. Tapi, ada 8–12 yang akan go public,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, saat ini ada 28 BUMN yang sahamnya tercatat di bursa. Hanya, memang masih ada empat BUMN yang kinerja sahamnya belum sesuai dengan harapan. Karena itu, dia meminta dukungan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar BUMN bisa go public dan go global.

PASAR MODAL SYARIAH

Saham: 426

Kapitalisasi: Rp 3,5 triliun

Investor: 85.891

Total aset (termasuk saham): Rp 1.802,86 triliun

Komposisi Pemegang Saham BSI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): 50,95 persen

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): 24,91 persen

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): 17,29 persen

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI: 2 persen

Publik: 4,4 persen

Sumber: BEI, BSI, OJK