Energi Terbarukan Jadi Juara di Eropa, Ini Dia Pemicunya

Energi Terbarukan Jadi Juara di Eropa, Ini Dia Pemicunya

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - Energi terbarukan untuk kali pertama berhasil melampaui porsi bauran...

Jakarta, CNBC Indonesia - Energi terbarukan untuk kali pertama berhasil melampaui porsi bauran energi fosil sebagai sumber utama listrik di Uni Eropa pada 2020.

Sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari berkontribusi sebesar 38% dari bauran energi listrik di 27 negara di Uni Eropa pada 2020, sementara bahan bakar batu bara dan gas menyumbang 37%, laporan lembaga pemikir 'think tanks' Ember and Agora Energiewende, seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/01/2021).

Lantas, apa saja faktor yang memicu peningkatan kontribusi bauran energi baru terbarukan di Uni Eropa tersebut?


Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) mengatakan, kenaikan bauran energi baru terbarukan (EBT) di Eropa terjadi cukup pesat dalam satu dekade terakhir. Bauran EBT di Uni Eropa pada 2010 baru mencapai 22%, lalu pada 2020 telah meningkat hampir dua kali lipat menjadi 38%.

Pada kurun waktu yang sama, bauran energi fosil turun dari 49% pada 2010 menjadi 37% pada 2020.

Dia pun menjelaskan pesatnya peningkatan bauran EBT di Uni Eropa ini dipicu beberapa faktor, salah satunya yaitu tingginya target yang ditetapkan oleh negara-negara di Eropa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), mulai dari mengikuti Protokol Kyoto, lalu Perjanjian Paris pada 2015 untuk memerangi dampak perubahan iklim. Tidak sembarang menentukan target, mereka pun konsisten untuk mencapai target tersebut.

"Uni Eropa sepakat menurunkan 40% emisi GRK dari tingkat emisi 1990 pada 2030 nanti," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/01/2021).

Selain itu, lanjutnya, beberapa negara di Uni Eropa, paling tidak delapan negara, juga mulai menutup Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebelum 2030 guna mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca tersebut.

"Oleh karena itu, dalam lima tahun terakhir, praktis tidak ada pembangunan PLTU baru di beberapa negara Eropa," ujarnya.

Penguasaan teknologi untuk energi terbarukan juga menjadi salah satu pesatnya kemajuan energi baru terbarukan di negara-negara Eropa ini. Tak ketinggalan, penerapan pajak karbon, menurutnya juga menjadi faktor pemicu pesatnya pertumbuhan EBT di Eropa.

"Investasi energi terbarukan, khususnya PLTS dan PLTB lebih murah karena perkembangan teknologi dan lebih kompetitif karena ada pajak karbon di Uni Eropa," imbuhnya.

Berbanding terbalik dengan Eropa, Indonesia masih mengandalkan energi fosil sebagai sumber energi utama dalam negeri. Hal tersebut diakui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif.

Arifin mengakui, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia masih jauh dari target yang ditentukan. Hingga 2020 bauran EBT Indonesia baru mencapai 11%, sementara target 2025 ditargetkan mencapai 23% dan 2050 bahkan mencapai 31%.

"Kita dengar baru-baru ini Eropa di 2020 bauran EBT sudah paling besar di antara bauran energi lainnya. Kita juga dengar Jepang pada 2050 menargetkan zero emission (nol emisi). Sedangkan kita masih punya komposisi dengan mengandalkan batu bara, minyak bumi dan gas bumi," ungkapnya dalam acara 'MGN Summit 2021 Sustainable Energy: Green and Clean', Kamis (28/01/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)