Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!

Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!

Terbaiknews - JakartaIDN Times - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko kembali membantah terkait tudingan Ketua Umum...

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko kembali membantah terkait tudingan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyebut dirinya akan mengambil alih Partai Demokrat. Menurut Moeldoko, tudingan tersebut seperti 'dagelan' atau lucu-lucuan saja.

"Janganlah apa itu membuat itu sesuatu itu ini kayak dagelan aja gitu, lucu-lucuan aja gitu. Moeldoko mau kudetalah, kudeta apaan kudeta," kata Moeldoko dalam keterangan persnya di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/2/2021).

1. Moeldoko sebut kenapa AHY dan Demokrat harus takut dengan dirinya

Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!Kepala Staf Presiden, Moeldoko (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Moeldoko menyampaikan, dia bukanlah siapa-siapa yang bisa mengambil alih Partai Demokrat. Sebab, Partai Demokrat sudah memiliki sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan AHY.

"Saya ini siapa sih, saya ini apa? Biasa-biasa aja. Di Demokrat ada Pak SBY, ada putranya Mas AHY, apalagi dipilih secara aklamasi, kenapa mesti takut dia. Kenapa menanggapi seperti itu, orang saya biasa-biasa aja," ujar Moeldoko.

2. Moeldoko bantah akan ajukan diri untuk Pilpres 2024

Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!IDN Times/Teatrika Handiko Putri

Moeldoko juga mengungkapkan bahwa tudingan Partai Demokrat pada dirinya hanyalah dinamika politik saja. Ia juga membantah tuduhan akan mengambil alih Partai Demokrat untuk kepentingan Pilpres 2024.

"Terus dibilangin mau jadi presiden, yang gak-gak aja itu. Ah kerjaan gue setumpuk gini ngurusin yang gak-gak aja," ucapnya lagi.

3. Moeldoko sebut dia tidak bisa dengan mudah ambil alih partai

Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

Moeldoko pun mengatakan, meskipun ia memiliki pasukan bersenjata, namun hal itu tetap tidak bisa membuat dia mengambil alih Partai Demokrat dengan mudah. Alasannya, semua sudah ada aturan dalam AD/ART partai.

"Jadi kalau kita bicara human capital itu bukan intelektual capital yang pertama, emosional capital, itu jadi tenang, merespons sesuatu. Masa gue ngopi harus izin presiden, gila apa. Ngopi-ngopi aja harus izin presiden, harus presiden tahu, ya itu berlebihan," tutur Moeldoko.

"Jangan begitu biasalah itu internal partai politik, orang luar ini gak ada urusannya. Jadi apa biasa-biasa aja," tutur Moeldoko.

4. AHY tuding pejabat di lingkar Jokowi ingin melakukan kudeta pada Demokrat

Dituding Akan Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Ini Dagelan!Pernyataan Pers Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono soal upaya merebut paksa Partai Demokrat (Youtube.com/Agus Yudhoyono)

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memimpin rapat khusus bersama pimpinan DPD dan DPC partai secara daring. AHY menyebut ada gerakan politik yang ingin mengambil alih kekuasaan di partainya.

“Kami memandang perlu untuk memberikan penjelasan secara resmi tentang duduk perkara yang sebenarnya, yaitu tentang adanya gerakan politik yang mengarah pada upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, yang tentu mengancam kedaulatan dan eksistensi Partai Demokrat,” kata AHY dikutip dari channel YouTube Agus Yudhoyono, Senin (1/2/2021).

AHY menjelaskan, informasi itu dia dapatkan melalui kesaksian dan penjelasan dari sejumlah pihak yang bisa dipercaya. Bahkan, kata AHY, pihak yang ingin melakukan kudeta terhadap dirinya datang dari lingkaran istana atau pemerintahan.

“Gerakan ini melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo,” ujar putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

“Gerakan ini juga dikatakan sudah mendapatkan dukungan dari sejumlah menteri dan pejabat penting di pemerintahan Presiden Joko Widodo,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, AHY langsung mengirim surat kepada Presiden Jokowi secara resmi untuk mendapatkan klarifikasi dan konfirmasi terkait kebenaran informasi itu.

“Sehubungan dengan hal itu, saya akan menyampaikan penjelasan tentang gerakan politik, yang bertujuan mengambil alih kekuasaan pimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional itu, sebagai pembelajaran bagi kita, karena hal ini bisa saja terjadi pada partai politik lainnya,” tutur dia.