Dipicu Stres dan Pekerjaan, Ketahui Cara Obati Disfungsi Ereksi

Dipicu Stres dan Pekerjaan, Ketahui Cara Obati Disfungsi Ereksi

Terbaiknews - JawaPos.com – Disfungsi seksual pria bisa disebabkan berbagai faktor. Kondisi ini mengganggu...

JawaPos.com – Disfungsi seksual pria bisa disebabkan berbagai faktor. Kondisi ini mengganggu keharmonisan pasangan suami istri (pasutri). Sebab tidak jarang, masalah hubungan intim menjadi pencetus konflik dengan pasangan hidup.

Dalam layanan Men’s Health and Couple’s Well-being Clinic di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K) dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM menjelaskan beberapa penelitian menemukan bahwa disfungsi seksual pada pria ternyata juga dapat memicu terjadinya masalah atau gangguan jiwa tertentu.

Beberapa masalah kejiwaan yang terkait seperti kecemasan yang menetap, adanya masalah pernikahan yang memicu terjadinya disfungsi seksual, depresi, perasaan bersalah, stress, trauma, adiksi pornografi yang memicu timbulnya pornography induced erectile dysfunction.

“Individu dengan disfungsi seksual perlu melakukan konsultasi dengan psikiater agar dapat dikenali secara dini masalah kesehatan jiwa yang mungkin ada, sehingga dapat diberikan tatalaksana yang sesuai,” katanya dalam Webinar, Selasa (27/10).

Beberapa masalah pemicunya yakni, terdiri dari faktor fisik dan psikologis. Salah satunya stres dan depresi bisa menjadi pemicu.

Faktor fisik yaitu disebabkan kadar hormon testosteron rendah, obat-obatan (antihipertensi, antidepresan), gangguan pembuluh darah (hipertensi, aterosklerosis/sumbatan pembuluh darah), kerusakan saraf (stroke, komplikasi diabetes), merokok, dan alkohol. Faktor psikologis yaitu masalah pernikahan atau hubungan interpersonal lain, kekhawatiran terhadap performa seksual, depresi dan rasa bersalah, riwayat trauma seksual, atau stres pekerjaan atau rumah tangga.

Pengobatan Disfungsi Ereksi

Pada umumnya, kata dia, tatalaksana dalam bidang psikiatri diberikan dengan konsep biopsikososial, yaitu terapi yang bersifat biologik seperti pemberian psikfarmakoterapi sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain itu juga memberikan terapi psikososial seperti psikoterapi suportif. Tujuannya untuk mendukung atau mempetahankan sistem ego agar terus dapat berfungsi dengan baik, memperbaiki fungsi adaptif pasien, serta membantu pasien agar memiliki rasa percaya diri yang lebih optimal.

Selain itu juga dapat diberikan jenis psikoterapi lain berupa psikoterapi yang bersifat re-edukatif seperti terapi kogntif perilaku untuk membantu pasien mengenali berbagai pikiran negatif yang mencetuskan timbulnya emosi maladaptif. Kemudian menuntun pasien mencari berbagai alternatif pikiran yang lebih adaptif sehingga bisa mengatasi emosi negatif dan mampu membuat pasien merasa lebih nyaman.

“Jika diperlukan juga dapat dilakukan psikoterapi yang berorientasi psikoanalitik untuk merekonstruksi kepribadian pasien,” jelasnya.

Sebelum menentukan terapi yang tepat, seseorang akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Prosedur
pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan secara pasti diagnosis pasien, serta penyebab yang
mendasarinya. Hal ini disebabkan fungsi seksual melibatkan proses yang kompleks, meliputi sistem saraf, hormon, dan pembuluh darah.

Contoh pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan yang lebih spesifik, seperti kadar hormon testosteron maupun pemeriksaan aliran darah ke genital. Bila ditemukan kelainan, maka pasien dapat berkonsultasi dengan bidang urologi, bidang endokrin penyakit dalam, bidang psikiatri, atau bidang lain yang sesuai dengan hasil temuan.