Di Tangan Penghobi, Tidak Ada Lagi Citra Ikan Konsumsi bagi Gabus

Di Tangan Penghobi, Tidak Ada Lagi Citra Ikan Konsumsi bagi Gabus

Terbaiknews - SERASI: Channa jenis Asiatica jantan dan betina berada dalam satu akuarium. Ikan jenis ini memiliki corak warna kontrascoklat dengan tutul putih. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Channa striata atau ikan gabus dulu mafhum dikenal sebagai ikan konsumsi. Namun, beberapa tahun belakangan, predator air tawar itu menjelma menjadi komoditas ikan hias. Di kalangan penghobi ikan hias, beberapa jenis channa kini semakin digandrungi dan harganya melambung tinggi.

Iwak Kutuk. Begitu sebagian masyarakat Jawa menyebutnya. Ikan yang dapat ditemui di perairan tawar Afrika dan Asia itu mampu merebut hati para penghobi ikan hias. Selain motif warna dan bentuk tubuhnya, predator yang dikenal dengan sebutan snakehead itu disukai karena karakternya yang unik.

Gerakan tubuhnya sangat tenang. Bahkan cenderung diam. Namun, ketika diberi makan, sifat agresifnya bisa keluar. Pada beberapa jenis channa seperti barca, auranti, dan stewartii, siripnya lebih panjang daripada jenis lainnya. Saat berenang, kibasan sirip atasnya bisa meliuk-liuk indah. Corak warnanya pun terlihat kontras pada beberapa jenis. Semakin terang coraknya, semakin mahal harganya.

”Ikan ini nggak rewel,” buka Alif Lisantoro saat ditemui Jawa Pos Kamis (9/10). Penghobi channa asal Surabaya itu menjelaskan, memelihara ikan tersebut tidak memerlukan peralatan yang biasanya dibutuhkan ikan hias lainnya. Misalnya, aerator dan filter. Artinya, penghobi tidak perlu khawatir listrik padam. Meskipun, sebaiknya memang tetap menempatkan aerator dan filter di dalam akuarium.

Bukan hanya yang dewasa, channa anakan pun sudah bisa dihargai dengan uang. Biasanya para penghobi menghitung nilai jual ikan berdasar ukuran. Yakni, per sentimeter. Menurut Alif, memang ada ikan gabus dewasa yang biasanya dikenal sebagai ikan konsumsi. Di sungai-sungai atau bahkan saluran air di pedesaan, ikan jenis itu biasa dikenal dengan kotes.

Namun, ada jenis lain yang masuk kategori channa hias. Salah satu yang disebut-sebut sebagai ikannya para sultan adalah channa Barca. Ikan itu merupakan endemi perairan India dan Bangladesh. Harganya mahal lantaran ikan tersebut sudah langka. Sebab, pada 2014, ikan dinyatakan nyaris punah. ”Per sentimeternya bisa dihargai satu juta,” ungkap Alif.

Dia mengungkapkan, setiap jenis channa memiliki karakteristik yang berbeda pula. Mulai kepala, ekor, dorsal atau bentuk sirip punggung, sirip bawah, hingga motif warnanya. Channa Barca yang diincar para penghobi di seluruh Indonesia, bahkan dunia, memiliki bentuk dorsal dan sirip bawah yang panjang dan elegan. Bentuk kepalanya melonjong membuat ikan itu terlihat anggun, tapi tetap garang. Karena itu, wajar jika ikan endemi lembah Sungai Brahmaputra, India, tersebut diburu para penghobi.

Selain ukuran, warna dan bentuk sirip menentukan harga channa dewasa. Semakin lebar sirip dan semakin mencolok warnanya, harga ikan bakal semakin mahal. ”Puas kalau bisa merawatnya sampai besar,” ucapnya. Tantangan terbesar merawat channa hias adalah menciptakan atmosfer akuarium semirip mungkin dengan habitat aslinya. Meski cenderung tidak rewel, channa tetap saja membutuhkan penyesuaian air. Salah satunya, menempatkan daun ketapang di dalam akuarium. Sebab, selain untuk menjaga pH air, daun ketapang berguna sebagai antibiotik alami.

”Channa maru atau marulioides itu hidupnya malah di sekitar pohon ketapang,” terang pria yang sudah empat tahunan memelihara channa. Selain itu, karakteristik khusus channa adalah mampu menyembuhkan penyakitnya sendiri. Sebab, di dalam tubuh channa terdapat kandungan albumin yang mampu meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak.

Beberapa penelitian menyebutkan, kadar albumin ikan gabus berkisar 63–107 mg/g, sedangkan kadar albumin tertinggi dimiliki ikan gabus alam yang dipanen dari sekitar Parung, Bogor, dengan nilai 107,28 ±3,20 mg/g daging. Penelitian lainnya juga mengungkapkan walaupun sama-sama berasal dari alam, tempat asal yang berbeda juga mengakibatkan kandungan albumin yang berbeda. Istimewa bukan?

Wahyu Afriansyah, seorang penghobi lainnya, mengungkapkan bahwa perkawinan ikan channa juga ditentukan dengan jenisnya. Dia menyatakan, perkawinan tidak dapat dilakukan dengan persilangan dan harus sejenis. Menurut dia, genetik juga tidak terlalu berpengaruh ketika hendak melakukan breeding. Namun, yang perlu diperhatikan ukuran jantan itu harus lebih besar daripada betina.

”Selisih ukuran tidak lebih dari 2 sentimeter. Kalau jantannya lebih kecil, pasti gagal,” paparnya. Bagi dia, genetika dalam perkawinan channa tidak terlalu penting. Dengan demikian, ketika anakan lahir, sudah pasti dicari oleh penghobi. ”Telurnya itu sampai ratusan. Tapi, butuh waktu dan ketelitian untuk membuatnya tumbuh dengan baik,” ucapnya. Untuk pakan channa, para penghobi tentu tidak perlu khawatir. Cukup menyediakan udang kecil, cacing sutra, jangkrik, ataupun ayam puyuh.

Saksikan video menarik berikut ini: