Dari Kaluak Paku Kacang Balimbiang sampai Bunga Lotus

Dari Kaluak Paku Kacang Balimbiang sampai Bunga Lotus

Terbaiknews - HASIL KERJA KERAS: Husaini bersama rekan-rekannya sedang melihat proses penulisan kaligrafi. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Motif Nusantara dalam Karya Pemenang Lomba Iluminasi Mushaf Alquran Kemenag

Ada motif bermakna tanggung jawab laki-laki sampai ornamen simbol kesucian dalam iluminasi karya Husaini. Iluminasi mushaf Alquran punya jejak panjang di Nusantara.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

PADA bingkai mushaf Alquran itu ada ’’cita rasa’’ Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Bagian pinggir didominasi warna biru. Dilengkapi perpaduan warna cokelat, hijau, dan kuning di bagian dalam.

’’Saya memang memburu desain khas dari berbagai wilayah Nusantara,’’ kata Husaini, pendesain iluminasi mushaf Alquran tersebut, kepada Jawa Pos (3/1).

Karya Husaini itulah yang menjuarai Lomba Iluminasi Mushaf Alquran yang diadakan Lembaga Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama (Kemenag).

Menyisihkan 140-an peserta lain. Pengajar di Pesantren Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka), Kota Sukabumi, Jawa Barat, tersebut pun diganjar hadiah uang tunai Rp 20 juta.

Menurut Ketua LPMQ Kemenag Muchlis M. Hanafi, iluminasi atau illumination berarti menerangi, membuat cerah, menghias, atau mencerahkan secara spiritual atau intelektual. Maka, iluminasi mushaf berarti hiasan naskah yang bersifat abstrak.

Dibuat dengan tujuan untuk memperterang atau mempercerah teks yang disajikan. ’’Dalam konteks ini, yakni teks Alquran,’’ jelasnya.

Hiasan tersebut memiliki makna dari sisi estetika (keindahan) maupun sosial (kultural dan identitas). Juga simbolis (rohani dan spiritualitas).

Menurut Muchlis, iluminasi menjadi tradisi di Nusantara sejak sekitar abad ke-17. Penyalinan mushaf terjadi di berbagai kesultanan dan wilayah penting masyarakat Islam. Misalnya, Aceh, Riau, Sumatera Barat, Palembang, Banten, dan Cirebon. Kemudian, Jogjakarta, Jawa Tengah, Madura, Lombok, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Dilakukan secara manual sampai datangnya teknologi percetakan pada abad ke-19.

Tradisi itulah yang kemudian juga menjadi salah satu syarat lomba. ’’Di antara syarat lomba iluminasi Kemenag dibuat dengan manual dan motif Nusantara,’’ kata Husaini.

Karena itu, dia pun berburu berbagai motif tadi. Di antaranya, motif kaluak paku kacang balimbiang dari kultur Minang di Sumatera Barat. Motif tersebut, menurut dia, melambangkan tanggung jawab seorang laki-laki Minang yang memiliki dua fungsi: sebagai ayah dan mamak bagi para kemenakan.

Dari Kaluak Paku Kacang Balimbiang sampai Bunga Lotus
HASIL KERJA KERAS: Foto sampul mushaf Alquran yang didaftarkan Husaini dalam lomba iluminasi Kementerian Agama. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Melompat pulau, Husaini mengambil ornamen batik kawung dari Jawa. Menurut dia, motif kawung ini kadang juga ditafsirkan sebagai gambar bunga lotus. ’’Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian,’’ jelasnya.

Selanjutnya, dia juga menggunakan motif borneo. Menurut dia, motif borneo mempunyai filosofi dalam tiap guratannya. Di antaranya, perlambang sebuah pohon kehidupan bagi warga suku Dayak. Selain itu, dia mengambil motif batik mega mendung khas Cirebon, motif padjadjaran, dan sulur bunga dari Jogjakarta.

Dibutuhkan waktu dua bulan bagi Husaini untuk menyiapkan materi lomba yang pemenangnya diumumkan November tahun lalu itu. Siang dan malam, di tengah kesibukannya mengajar di Pesantren Lemka, waktu pria kelahiran Bogor, 2 Mei 1979, itu habis untuk membuat sketsa di kertas ukuran A1.

Sesuai dengan ketentuan Kemenag, desain iluminasi yang dikirim merupakan satu paket. Di antaranya, untuk sampul atau kulit mushaf, iluminasi awal mushaf atau pada surah Al Fatihah dan awal surah Al Baqarah, bingkai halaman teks Alquran, serta hiasan-hiasan tepi halaman.

Mukjizat, 4 Mushaf Alquran Ditemukan Utuh Meski Rumah Ludes Terbakar

Husaini mengaku tidak bekerja sendirian menyelesaikan materi lomba itu. Dia dibantu seorang ahli untuk membuat vektor.

Tugasnya adalah mengubah hasil sketsa karya tangan Husaini menjadi vektor. Setelah itu, baru digambar secara digital dan dikirim ke panitia lomba.

Keterampilan iluminasi mushaf Alquran umumnya sepaket dengan kaligrafi. Begitu pun di pesantren khusus kaligrafi Lemka, para santri disuguhi materi belajar kaligrafi dan iluminasi.

’’Dari subuh sampai malam belajarnya ya itu saja (kaligrafi dan iluminasi, Red),’’ jelasnya.

Husaini mendalami keterampilan iluminasi secara otodidak sejak sekitar 20 tahun lalu. Tepatnya ketika dia duduk di bangku madrasah aliyah (MA) di Pesantren Darussalam Bogor. Di tempatnya sekolah saat itu, sudah ada pembelajaran khusus kaligrafi.

Setelah itu, dia juga ikut kursus kaligrafi di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, sekitar satu tahun. Dia tidak sampai kuliah di kampus tersebut karena persoalan biaya. Sampai akhirnya, dia menjadi satu di antara 50-an guru kaligrafi dan iluminasi di Pesantren Lemka.

Keterampilan dalam kaligrafi dan iluminasi membuat Husaini terlibat dalam sejumlah proyek pembuatan ornamen kaligrafi di sejumlah masjid. Di antaranya, Masjid Al-Istiqamah di Bogor yang dikelola mantan Wakil Presiden Hamzah Haz dan keluarga.

Berbagai warisan penting iluminasi Nusantara sekarang tersimpan di beberapa museum, perpustakaan, pesantren, ahli waris, dan kolektor naskah kuno. Jumlahnya diperkirakan 1.500 naskah. Secara digital, koleksi kuno tersebut bisa diakses di website seamushaf.kemenag.go.id.

Husaini beserta tim juga pernah terlibat dalam proyek pembuatan mushaf Alquran dengan motif khas Riau atau Kepulauan Riau. Dia butuh waktu sekitar dua tahun untuk menyusunnya.

Nanti dia membuat kantor sekretariat untuk bekerja di Riau. Mulai mengumpulkan bahan, membuat sketsa, hingga menulis Alquran huruf demi huruf.

’’Iya, tulisan Alquran-nya ditulis tangan,’’ katanya.

Biasanya dibagi dengan skema satu orang menulis beberapa juz Alquran. Saat ini Husaini dapat menyelesaikan tulisan tangan Alquran rata-rata dua lembar dalam sehari.

Setelah selesai ditulis tangan, kemudian di-scan untuk digandakan. Tulisan huruf Alquran dibuat dengan standar keterbacaan umat Islam di Indonesia sehingga tetap mudah dibaca.

Keterampilan kaligrafi dan iluminasi itu juga membawanya keliling dunia. Di antaranya, mengikuti pameran di Eropa. Selain itu, dia sempat memperdalam keterampilan di Turki melalui kursus selama dua mingguan.

Menurut dia, minat di bidang kaligrafi dan iluminasi cukup tinggi. Saat ini ada 180 santri di Pesantren Lemka. Mereka umumnya lulusan madrasah aliyah atau setingkat SMA.

’’Ada juga yang sementara cuti sekolah demi memperdalam keterampilan kaligrafi,’’ katanya.

Saksikan video menarik berikut ini: