Daging Australia Mahal, RI Mulai Lirik Sapi Meksiko & Brasil

Daging Australia Mahal, RI Mulai Lirik Sapi Meksiko & Brasil

Terbaiknews - JakartaCNBC Indonesia - IndonesiaÂsedang negosiasi ke negara produsen sapi dunia asal benua...

Jakarta, CNBC Indonesia - IndonesiaÂsedang negosiasi ke negara produsen sapi dunia asal benua Amerika, yakni Brasil dan Meksiko. Hal ini tidak lepas dari tingginya harga sapi dari Australia.

Dalam beberapa bulan terakhir, sudah ada peningkatan harga daging sapi Australia dari semula di kisaran 2,6 USD/Kg, kini harga meningkat jadi 3,8 USD/Kg.

"Mungkin lirik Brasil karena Brazil populasinya sangat tinggi, ada 240 juta ekor sapi di sana. Kalau kita impor 600-700 ribu ekor kan kecil. Ini yang dijajaki pemerintah, apalagi harganya lebih murah dari Australia," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni P. Liano kepada CNBC Indonesia, Kamis (28/1/21).


Ketika Indonesia mulai merayu Brasil agar memberikan stok sapinya, Indonesia juga mulai bergeser ke Meksiko dengan tujuan yang sama. Joni melihat proses impor dari negara ini bakal lebih mudah karena sudah ada kerjasama antar kedua negara.

"Meksiko sudah ada perjanjian G2G atau kesepakatan bahwa Meksiko bisa ekspor ke Indonesia, itu tanda tangan 2016, jadi sekarang mencoba. Sejak 2016 belum ada deal dari pengusaha sana dan ini yang digerakkan lagi oleh pemerintah supaya pengusaha di penggemukan sapi bisa ambil dari sana. Ini yang sedang berproses," papar Joni.

Proses importasi itu perlu segera terlaksana untuk mengantisipasi harga daging sapi yang kian mahal. Joni memperkirakan butuh waktu sekitar 1-2 bulan sapi tersebut bisa tiba di Indonesia. Jarak yang jauh membuat proses pengiriman membutuhkan waktu lebih dibanding dari Australia, namun opsi dari negara lain juga tetap harus ada.

"Kita berharap sesegera mungkin, harus ada administrasi-administrasi yang perlu dipenuhi, persyaratan-persyaratan dan aturan itu di Pemerintah. Masuk ke sini Maret, loading di sana mulai dikapalkan bulan-bulan dekat ini. Karena ketergantungan dari satu negara, kita jadi bulan-bulanan mereka terus, Pemerintah ingin alternatif," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)