Cintaku Sauh di Pulau

Cintaku Sauh di Pulau

Terbaiknews - Bila terhunuspedang tetaplah pedang. Bila terhunuscinta menjelma benci.—MASA uji buat...

Bila terhunus, pedang tetaplah pedang. Bila terhunus, cinta menjelma benci.

MASA uji buat Tingting Jahe di ketinggian mirip Tibet dianggap purna oleh Sastrajendra. Masa pendadaran buat perempuan ayu yang penuh stori dengan sang pendekar itu, baik pendadaran saat bersalju maupun tidak, siang atawa malam, pagi atau senja, dianggapnya telah paripurna. Sastrajendra tak ingin terus-terusan mengeloni Tingting Bocah, putri angkatnya yang pernah diasuh Tingting Jahe. Telah tiba tahap bagi pendekar bangkotan ini untuk mendampingi Tingting Jahe.

Sungguhkah cinta perlu diuji? Bukankah cinta itu keplok manusia yang bertepuk tak sebelah tangan? Sang penguji itu sendiri tak perlu diuji? Sastra tak tahu. Sastra cuma tahu: Tingting Jahe suka berdiam di balik bongkahan es yang membukit beberapa depa sebelah timur. Kadang di balik bukit es sebelah selatan. Sastra menandainya dari lamat-lamat senandung Tingting Jahe tengah malam.

Kadang di antara bintang-bintang senandung bersuara menggigil itu terdengar dari utara:

Sedekat sunyi pada sepi di hatiku

Nasib kudekap di tubuhmu…

Pernah juga saat melintas bintang berekor, Sastrajendra mendengar lantunan bersuara sama, kidung semenggigil burung gereja yang bergidik lantaran hujan pada kubah masjid.

Kumau hidupku panjang… S’panjang kaki langit… Kumau hidupku panjang… S’panjang kau tak mati… Kumau berbayang kamu… Yang hidup di awan… S’lalu mengawan-awani langkah kakiku di bumi… Kini kau tiada… Bayangmu tiada… Aku pun tiada…

Kini perempuan dengan kening pualam itu telah tiada. Tak cuma di balik es membukit di sebelah timur. Pun di gundukan maupun gunung anakan es di berbagai mata angin. Sastrajendra marah. Dirapalnya Berlian Your Eyes pemberian keledai Parthai. Mantra dari keledai perak keemasan bersurai pelangi itu menghancurkan semuanya. Seluruh bukit, bahkan gunung anakan es, melebur. ”Ketinggian Tibet” yang sebelumnya munjung-munjung menawan kini jadi serata dada laki-laki. Tetap saja Tingting Jahe tak tampak.

Sastrajendra menangis. Sastrajendra meraung-raung.

Ia bangunkan Tingting Bocah. Diguncang-guncangnya bocah sakti putri Pendekar Elang Langlang Jagad itu, bocah yang sekali melompat sanggup berkitar tujuh keliling bumi.

”Terbangkan aku ke tempat bulekmu Tingting Jahe…” Sastrajendra meronta bagai anak kecil minta mainan.

”Engkau sedang jatuh cinta?” tanya bocah 10 tahunan itu sambil cekikikan. Ia masih mengucek-ucek matanya. Punggung masih rebah dan mulet-mulet. ”Orang yang lagi jatuh cinta itu, walau sudah kakek-kakek, kembali jadi anak kecil… Xixixixixi…”

”Kok tahu?”

”Aku membacanya di tanah kubur Dukuh Dengkul Mlonyoh. Penulisnya engkau sendiri, Pendekar.”

”Sudah! Sudah! Jangan banyak cingcong. Dulu waktu umurmu masih di bawah 5 tahun sekali lompat bisa mengorbit bumi tujuh kali. Seperti Hanuman. Sekarang gendong aku menemui cintaku. Panggul aku. Terbangkan!”

”Oke…oke… Tak kugendong, tak kupanggul. Kubopong engkau seperti melayang tandem. Tapi, ke mana? Bulek memangnya ngasih alamat minggatnya?”

O iya ya? Pendekar Sastrajendra menepuk jidatnya sendiri. Tangisnya semakin meraung-raung. Erangannya kian tegak lurus ke langit ”Tibet”.

***

Di pulau Tingting Jahe terdampar perempuan berdagu belah itu sudah tiada. Di pulau lain yang terasa lebih tinggi dan dingin ia linglung di tengah hutan bersama penyanderanya, Bra, pendekar yang kelak amat mirip pebola Ibrahimovic. Mereka menyeberangi samudra cuma dengan sampan kecil dari janur kuning anyaman Bra.

Seekor bebek merah keputihan tertatih-tatih di sela-sela pepohonan beberapa tombak di depan mereka.

”Kita mengekor dia saja. Dulu aku pernah begitu. Bersama Tingting Bocah, putri angkat Pendekar Sastrajendra. Sampai juga. Di ketinggian itu kau bisa menantangnya bertarung. Engkau mati di tangannya, matimu terhormat. Dia mati di tanganmu, hidupmu terhormat. Bukankah di dunia persilatan mati atau hidup setelah bertarung dengan orang berilmu tinggi itu adalah martabat yang diluhurkan?”

Bra setuju mengikuti bebek itu. Baginya ini pasti bebek yang sudah teruji. Bebek biasanya beraninya cuma kalau ramai-ramai, tak berani beda, nggak seperti elang yang berani sendirian dan tampil beda.

Bebek yang mereka buntuti itu sampai ke suatu kedai yang bakulnya mengusirnya. ”Hush…hush…!!! Pergi… Derajatmu ini bebek. Kedaiku bukan Sinjai. Kalau derajatmu ayam, monggo masuk…” sergah Berek dan Suharti, bakul kedai tersebut. Bebek banting setir ke kiri. Alih-alih membawa Bra dan Tingting Jahe ke Sinjai. Petelur asal Brebes ini membawa keduanya ke Pulau Gagal Ganda Bathang, tempat disemayamkannya secara rahasia kitab Mas Elon, kitab yang diyakini sebagai kitabnya kitab dunia persilatan. Bau amis dan bacin membuat Bra menganyam masker dari daun-daun. Yang pertama diberikan dan dipasangkannya dengan penuh kasih di wajah Tingting Jahe.

”Jika engkau mampu mencuri kitab Mas Elon, ilmumu akan lebih unggul dari pendekar bangkotan itu.” Tingting Jahe menghunus pedang cintanya menjelma kebencian. Matanya meradang saat mengutip pesan dari Ki Bansosdi Tilap dalam mimpinya itu. (*)

SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini: