BKSDA Pasang Kamera Pendeteksi Harimau di Lereng Gunung Wilis

BKSDA Pasang Kamera Pendeteksi Harimau di Lereng Gunung Wilis

Terbaiknews - Petugas BKSDA memasang camera trap di batang pohon pinus di sekitar kaki lereng Gunung WilisSendangTulungagungJawa TimurSenin (11/1). (Destyan Sujarwoko/Antara)

–Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) memasang sedikitnya tiga unit camera trap atau kamera perekam gambar yang dilengkapi fitur sensor gerak. Kamera dipasang di sejumlah titik lokasi yang sempat terdeteksi keberadaan satwa liar diduga harimau di pinggiran hutan pinus kaki lereng Gunung Wilis, Jawa Timur.

”Rencananya ada tujuh unit camera trap yang dipasang. Namun sementara dipasang tiga unit dulu di titik-titik di mana warga menyebut sempat berpapasan dengan binatang tersebut,” kata Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) BKSDA Blitar Joko Dwiyono seperti dilansir dari Antara di KabupatenTulungagung.

Kamera dipasang di lokasi yang agak berjauhan, dengan mengambil tempat/posisi yang lebih tinggi sehingga diharapkan bisa merekam setiap benda bergerak yang melintas di depannya yang lebih rendah maupun yang sejajar, sesuai luas bidang mata kamera. Pemasangan kamera itu diharapkan bisa memastikan jenis harimau yang sudah beberapa kali menampakkan diri di pinggiran hutan setempat. Baik di hutan wilayah Desa Nyawangan maupun Desa Nglurup yang bersebelahan lokasinya sekitar lereng Gunung Wilis.

Menurut Joko, camera trap itu dipasang terus hingga tiga bulan ke depan. Pihaknya akan rutin melakukan pemeriksaan rekaman kamera tiap seminggu sekali dengan bantuan pengawasan warga sekitar hutan atau anggota LMDH. Kamera yang dipasang itu dilengkapi sensor gerak. Saat ada objek yang bergerak di depannya, kamera akan otomatis melakukan perekaman.

”Sejauh ini, kami baru menemukan jejak kaki, namun kondisinya sudah buruk, sehingga sulit untuk menentukan jenis hewan atau harimau yang dijumpai warga,” tutur Joko.

Joko maupun tim BKSDA yang terlibat dalam pemasangan kamera sensor gerak belum berani menyimpulkan bahwa binatang besar yang dijumpai warga sekitar hutan adalah spesies harimau. Baik jenis tutul apalagi jenis Harimau Jawa yang dinyatakan sudah punah sejak 1970-an.

”Tanpa ada bukti otentik visual yang bisa dianalisis (orisinalitas), kami belum berani mengatakan apakah binatang yang dilihat warga ini benar harimau atau lainnya. Nantilah kalau dari pemasangan kamera ini ada hasilnya (mendapat gambar satwa liar itu),” kata Joko.

Harimau memang menyukai habitat hutan yang masih perawan atau yang masih rimbun. Di wilayah Sendang di lereng Wilis, masih ada beberapa lokasi yang wilayah hutannya masih alami. Di hutan ini diperkirakan masih ada sisa-sisa harimau beserta hewan buruannya.Untuk jejak yang ditemukan berjarak sekitar 2 kilometer dari pemukiman. Hal itu membuat warga khawatir.

”Kami minta masyarakat turut menjaga kelestarian alam di sekitar harimau itu ditemukan. Menjadi tanggung jawab bersama untuk menyosialisasikan kepada masyarakat, jangan sampai memasang jerat yang bisa melukai satwa (harimau) tersebut,” terang Joko.

Joko meminta masyarakat yang beraktivitas di sekitar lereng Gunung Wilis, khususnya di wilayah hutan Desa Nyawangan dan Nglurup, Kecamatan Sendang, tetap berhati-hati. Terutama saat beraktivitas di dekat hutan.

”Tetap waspada dan tidak lengah,” kata Joko.

Sebelumnya, beberapa warga di Kecamatan Sendang melaporkan dua kali penampakan harimau dalam sebulan terakhir. Laporan pertama terjadi sebulan lalu oleh seorang warga Desa Nglurup saat menyadap karet. Dalam laporan itu, warga melihat harimau setinggi kurang lebih 80 cm. Laporan kedua beberapa warga juga melihat harimau. Bahkan laporan kedua menyebut harimau mendekati permukiman.

Berdasar keterangan sejumlah saksi mata yang telah dimintai keterangan, satwa yang dijumpai bisa saja mengarah ke harimau loreng.

Saksikan video menarik berikut ini: