Batuk Terlalu Lama Hingga Nyeri Dada Bisa Jadi Gejala Kanker Paru

Batuk Terlalu Lama Hingga Nyeri Dada Bisa Jadi Gejala Kanker Paru

Terbaiknews - JawaPos.com – Tidak merokokmenghindari asap rokok dan polusi udara adalah langkah tepat...

JawaPos.com – Tidak merokok, menghindari asap rokok dan polusi udara adalah langkah tepat memelihara paru-paru. Sebab, karsinogen atau zat berbahaya dalam asap rokok dan polusi bisa memicu kanker paru.

Dalam rangka Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia, Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) , bertajuk ‘Akses Pengobatan Kanker Paru: Tantangan dan Harapan‘, masyarakat diajak meningkatkan kesadaran dan pemahaman atas kondisi terkini kanker paru di Indonesia. Lalu mengenal lebih jauh apa saja faktor risiko dan gejalanya.

Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K), mengatakan di dalam asap rokok terdapat kandungan berbagai zat karsinogen dan mengotori udara sedangkan udara juga banyak mengandung zat karsinogen. Udara dengan zat polusi itu tersebar di lingkungan.

“Akibatnya, orang yang tidak merokok berpotensi menghirup zat-zat karsinogen itu dan dapat menimbulkan berbagai penyakit paru, salah satunya kanker paru,” jelasnya.

Dia menjelaskan, gejala kanker paru sulit dibedakan dengan gejala berbagai penyakit paru lainnya. Terutama gejala saluran napas karena tidak khas. Salah satunya batuk yang terlalu lama dan tak kunjung sembuh.

“Bisa dengan gejala batuk lama, batuk darah, sesak napas, atau nyeri dada,” jelasnya.

Namun kadang muncul dengan gejala lain, seperti menurunnya berat badan, demam tidak terlalu tinggi tapi tidak respon dengan obat penurun panas. Karena gejala tidak khas, maka sering terabaikan sehingga kanker tersebut telah berada pada stadium lanjut.

Tak hanya perokok aktif, perokok pasif juga bisa terkena kanker paru. Bahkan kadang kanker paru itu kanker paru sekunder yaitu kanker dari organ tubuh lain yang menyebar ke paru.

Biasanya, kanker yang sering menyebar ke paru dari organ-organ tertentu seperti kanker payudara, ovarium, serviks, tulang, usus besar, prostat, dan testis.

Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker paru di Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kanker paling mematikan yang merenggut sebanyak 26.095 jiwa dari 30.023 kasus yang terdiagnosa di 2018. Artinya, tidak kurang dari 71 orang meninggal setiap hari karena kanker paru. Bahkan, selama lima tahun terakhir, kasus kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 10,85 persen sehingga menempatkan Indonesia pada zona serius.