Banyak Program Gunakan Kata Penggerak, Kemendikbud Jelaskan Bedanya

Banyak Program Gunakan Kata Penggerak, Kemendikbud Jelaskan Bedanya

Terbaiknews - ILUSTRASI. DARING DARI SEKOLAH: Salah seorang guru SMPN 1 Surabaya memandu pembelajaran daring dari sekolah saat hari pertama masuk sekolah khusus guru dan karyawanSenin (23/11). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

– Merdeka Belajar episode ketujuh, yaitu Sekolah Penggerak sudah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Tapi, jika diperhatikan, beberapa program Kemendikbud sering menggunakan kata ‘Penggerak’.

Adapun sebelumnya, Kemendikbud telah terlebih dahulu merilis Program Guru Penggerak dan Program Organisasi Penggerak (POP). Bahkan, programnya pun dianggap sama oleh masyarakat karena memiliki fokus pada peningkatan mutu sekolah hingga kualitas guru dan kepala sekolah.

Menjelaskan hal itu, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen), Kemendikbud Jumeri mengatakan bahwa ada intervensi yang berbeda dari ketiga program tersebut. Sekolah Penggerak digerakkan oleh pemerintah, sementara POP digerakkan oleh organisasi masyarakat (ormas).

Kemendikbud Harapkan Sekolah Penggerak Bawa Virus Positif

“Kalau POP itu berbasis pada kekhususan yang dimiliki penyelenggara POP itu (ormas). Mungkin ada fokus ke pembinaan peserta didik, pembelajaran, ke gurunya,” ungkapnya dalam Bincang Pendidikan dan Kebududayaan secara virtual, Kamis (4/2) sore.

Sedangkan, Sekolah Penggerak adalah kolaborasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang diselenggarakan bersama sekolah. Keterlibatan dan kemampuan kepala sekolah akan menjadi penentu kesuksesan Sekolah Penggerak.

Kemudian, untuk Program Guru Penggerak adalah proses penyiapan guru oleh Kemendikbud. Guru tersebut akan dijadikan sebagi mentor di lingkungan sekitarnya. “Guru Penggerak ini diharapkan mereka dapat menjadi pemimpin pembelajaran di lingkungannya masing-masing untuk menggerakkan proses perubahan,” tutur dia.

Lalu, hal yang sama dari ketiga program tersebut adalah fokus pengembangannya yang ditekankan untuk peningkatan SDM. Harapannya, dengan itu akan melancarkan transformasi pendidikan di Indonesia. “Dengan SDM ada jaminan bahwa proses tranformasi lebih mulus karena ada kesadaran dari dalam sekolah sendiri secara internal,” pungkas Jumeri.

Saksikan video menarik berikut ini: